
Mama Irene menitikan air matanya menyaksikan pernikahan Arzu walaupun dari ponsel, wanita itu menangis haru, apalagi saat melihat tingkah Arzu yang sangat menggemaskan.
"Mama ... Mama ucapkan selamat atas pernikahanmu, Sayang," ucap Mama Irene sembari menyeka air matanya. "Semoga kamu menjadi istri dan Ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak."
"Selamat malam, Bu Irene!"
Mama Irene langsung mendongak saat mendengar suara itu. "Oh, Dokter Willy," sapa Mama Irene sembari mematikan ponselnya.
"Ibu menangis, apa ada yang sakit?" tanya Dokter Willy yang seketika membuat Mama Irena terkekeh.
"Aku justru merasa sangat sehat dan sangat bahagia sekarang, Dok," ujar Mama Irene sembari menatap punggung tangan kirinya, di mana jarum infus menancap di sana.
Yah, saat ini dia ada di rumah sakit, dengan tubuh yang sangat lemah dan wajah yang begitu pucat.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dokter Willy lagi sembari memeriksa keadaan Mama Irene.
"Putriku menikah malam ini, dan dia sangat cantik," jawab Mama Irene. "Aku jadi merasa sangat bahagia."
Dokter Willy menatap wajah Mama Irene. "Kalau begitu, terus lah melawan tumor yang ada dalam otak Bu Irene, agar kelak Ibu bisa melihat cucu Ibu juga menikah."
Seketika Mama Irene tertawa, dan ia tentu ia juga mengangguk dengan semangat.
__ADS_1
"Mereka adalah obatku yang sebenarnya, Dok."
Air mata Mama Irene kembali jatuh, tapi ia segera menyeka nya.
"Aku ingin hidup lebih lama, supaya aku bisa melihat anak-anak Arzu menikah."
...🦋...
Setelah acara akad dan doa selesai, kini para tamu dijamu dengan beberapa menu makanan yang David pesan dari restoran. Semua orang menikmati hidangan lezat itu, tak terkecuali Arzu.
"Kak David pesan ini di mana?" tanya Arzu yang kini menikmati ayam asam manis. "Enak lho."
"Dek, makannya dikit aja," bisik David. "Masa pengantin makan kayak orang kelaparan?"
Sementara Ummi Umaroh hanya bisa menatap Arzu dengan lesu, ia teringat saat hari pernikahannya dulu, dia makan sangat sedikit karena sangat gugup. Tapi Arzu?
"Makan yang banyak," seru Azam yang justru menambahkan ayam dan nasi ke piring Arzu. "Biar kamu tumbuh dengan baik, hm."
Papa Aji langsung tertawa mendengar ucapan Azam, dan Arzu hanya bisa tersipu malu.
"Papa bilang apa?" bisik Papa Aji pada David. "Papa nggak salah 'kan pilih Azam untuk Arzu, dia benar-benar pengertian."
__ADS_1
"Tapi kasian Azam, Pa." David balas berbisik. "Mereka seperti langit dan bumi, beda jauh!"
"Langit pasangannya memang bumi," sahut Papa Aji yang membuat David hanya bisa menganga, tapi kemudian ia mengangguk setuju.
"Kamu kapan nyusul, Vid?" tanya Irfan. "Sekarang tinggal kamu yang jomblo, apa mau kami carikan calon, eh?" goda nya.
"Kalau ada!" seru Papa Aji kemudian.
"Papa!" rengek David.
"Apa? Kamu mau menjomblo sampai kapan? Sampai ubanan?"
"Ya doakan aja lah, Pa," lirih David kemudian.
Ia bukannya tidak ingin menikah, tapi bayang-bayang rumah tangga orang tuanya yang hancur seperti sebuah tali yang mengikat kaki David, tak membiarkannya melangkah.
Setelah acara menjamu tamu selesai, Arzu dan Azam masuk ke kamar Arzu yang dihias layaknya kamar pengantin.
Azam merasa sangat gugup, bahkan telapak tangannya sampai berkeringat saat ia memasuki kamar wanita asing untuk yang pertama kalinya.
Beda halnya dengan Arzu yang justru langsung melompat ke atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau apa, Arzu?" tanya Azam sembari menutup pintu kamarnya.