Dilema Diandra

Dilema Diandra
Bertemu cinta pertama


__ADS_3

Bertemu pria baik nan tampan tentunya adalah impian setiap wanita, tak terkecuali aku.


Diandra putri. Mereka yang mengenalku biasa memanggilku Dian. Lahir di Bandung 24 tahun silam. Sebagai seorang gadis pendiam dan sulit bersosialisasi dengan baik, terkadang membuatku merasa bahwa dunia ini begitu sempit, hampa dan membosankan, hingga suatu hari ada satu nama yang membuat seluruh duniaku tertuju hanya padanya. Pertama bertemu, suara berat khas pria dewasa dan senyumnya yang begitu damai membuatku sulit melupakan momen yang cukup aku syukuri hingga membuatku selalu tersenyum malu jika mengingatnya.


Arjuna perwira Mahendra, nama yang akhirnya menjadi penyemangat baru dalam hidupku yang hampa ini. Rasanya, jika saja aku bisa menghentikan waktu, aku ingin berhenti pada pertemuan pertamaku dengannya . Tapi, apakah mungkin?


Sabtu sore di bulan November .


***


Pagi menjelang siang, tepat pukul 09:30 wib. Dena, sahabat sekaligus teman kuliahku tengah memainkan MP3 di mobilnya sambil bersenandung mengikuti alunan lagu yang diputarnya. Jalanan Bandung pagi ini cukup cerah meski terasa teduh, sepertinya akan turun hujan sore nanti, yah setidaknya menurut perkiraan cuaca yang ku baca .


Hampir setiap hari aku menumpang pada mobil Dena, karena selain tujuan kami sama, juga karena Dena tidak suka jika harus membiarkan aku sahabatnya ini pergi ke kampus dengan kendaraan umum, padahal bukan hal baru untukku naik kendaraan umum.

__ADS_1


Dena memang tipikal sahabat idaman, karena selain baik, ia juga orang sangat amat ceria dan mampu membuat keadaan menjadi lebih hidup. Tidak seperti aku yang cenderung pendiam, dan lebih suka menyendiri.


Tak terasa kami pun sampai di tempat tujuan, dan seperti biasa, aku akan lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum kelas dimulai pukul 11:00 siang nanti, dan Dena akan lebih memilih untuk pergi ke kantin mengisi perutnya yang belum terisi. Yah, karena Dena tidak pernah suka sarapan di rumahnya , entahlah baginya masakan rumahan hanya bisa dinikmatinya jika sang Bunda yang memasaknya bukan bibi pembantu rumah tangganya.


Dan sudah hampir dua tahun ini, Bundanya tak pernah pulang setelah pertengkaran hebat dengan sang Ayah. Dena tak banyak menceritakan perihal masalah keluarganya kepadaku, karna aku pun tak ingin banyak tahu jika Dena yang tak memberitahu. Meski sahabat dekat , kami tak pernah memaksakan satu sama lain untuk saling terbuka, jika memang dirasa tak perlu bercerita, tak apa kami tetaplah sahabat.


Setelah cukup lama berkutat dengan buku yang ku baca di perpustakaan, sudah waktunya untuk masuk kelas. Yah , membosankan memang , tapi memang seperti inilah rutinitasku.


Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke kantin sembari menunggu hujannya reda , selain untuk mengisi perutku yang kosong juga tentunya.


Setengah jam berlalu dan hujan tak kunjung reda, kuputuskan saja untuk menerobos agar bisa cepat pulang.


Namun baru saja kakiku melangkah sebuah tangan menarikku untuk mundur.

__ADS_1


"Nih, biar ga keujanan!" ucapnya sembari menyodorkan payung padaku.


"Eh, i-iya ... " gumamku pelan karena masih kaget mendapat perlakuan lembut dari seorang pria yang tak kukenal.


Mata kami saling bertemu, seketika waktuku terhenti sejenak mendapati paras pria asing yang begitu menawan.Senyumnya yang teduh dihiasi lesung Pipit yang mampu menyihir siapa saja yang melihatnya, membuatku mematung tak berdaya . "****!" batinku menyadarkan diri.


"Ma... af, terima kasih payungnya!" ucapku gugup.


Dia hanya membalas dengan senyum dan anggukan kecil sembari berlalu.


Ah, dan sialnya aku malah lupa menanyakan namanya Tuhan! Andai saja bisa kukejar!


Selepas itu, aku sungguh tak pernah bisa melupakan bayang wajahnya yang menawan, oh Tuhan andai saja aku bisa memutar kembali waktu , aku sungguh ingin kembali pada senyum itu . Ah ...

__ADS_1


__ADS_2