Dilema Diandra

Dilema Diandra
Cinta baru


__ADS_3

Setelah cukup lama tinggal di kampung, kini waktunya aku kembali ke Kota Bandung untuk melanjutkan kuliahku, karena masa cutiku telah berakhir . Ayah dan Ibu mengantarku sampai terminal. Dan aku bahkan sengaja tak berpamitan pada Tommy, terlebih setelah insiden hari itu, kami tak pernah bertemu lagi. Aku bahkan tidak tahu apakah dia sudah kembali ke Bandung atau belum.


Kembali ketempat dimana aku bertemu dengan rasa sakit itu, terkadang membuatku takut. Tapi, aku tak bisa kalah begitu saja. Ada banyak mimpi yang harus kuraih disana dan membuang semua rasa sakit itu dengan berani. Aku hanya ingin kembali pada Diandra yang dulu sebelum mengenal kata cinta. Diandra putri yang hanya ingin mewujudkan mimpi Ayah dan Ibu nya untuk menjadi seorang sarjana kedokteran.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, aku pun segera berbenah untuk kembali menyapa hari esok dan kembali menjadi seorang mahasiswi . Dena , sahabatku pun sudah tahu bahwa aku kembali, hanya saja saat ini dia sedang sibuk dan aku mengerti. Tapi rasanya aku rindu karena tak bertemu dengannya cukup lama .


Setelah merapihkan dan membersihkan kamar kosku yang cukup lama kutinggalkan aku pun merebahkan badan yang lelah ini pada kasur dan mengambil laptop.


Mencoba menyelesaikan beberapa tugas menumpuk dari dosen .


Setelah dirasa cukup melelahkan ku tutup laptop dan menidurkan diri untuk bersiap memulai kembali rutinitasku sebagai mahasiswi esok pagi.


Karena terlalu lelah, aku sampai lupa menyetel alarm dan kesiangan! Sialnya , Dena tak menjemputku karena jam kelas kami berbeda. Setelah berlari cukup jauh tak kutemukan satupun kendaraan umum yang dapat mengantarku dengan cepat.Karena panik sampai tak terpikir olehku untuk memesan ojeg online. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam menghampiriku perlahan dan membuka kaca mobilnya. Ternyata , Tommy . Yah, pria yang beberapa hari lalu kuhindari itu malah yang jadi penolongku hari ini. Mau tidak mau aku harus menerima ajakannya, jika tidak aku pasti akan sangat terlambat dan kehilangan jam kelas pagi , apalagi aku baru masuk setelah cuti beberapa Minggu.


Sepanjang perjalanan, hanya diam yang menemani, baik aku ataupun Tommy sama-sama diam untuk beberapa saat. Sampai Tommy akhirnya memulai bertanya padaku.


"Kenapa ga bilang kalo balik ke Bandung, Di. Kan kita bisa bareng." ucapnya santai sambil tetap fokus menyetir.


"Hmm , kebetulan mendadak kok baliknya. Soalnya waktu cuti kuliahku udah abis." Jawabku pelan, sambil melihat pemandangan diluar jendela kaca mobil.


Tommy hanya menanggapi dengan anggukan tanda paham, tak lama kami pun sampai di kampusku .


"Makasih banyak ya, Tom." ucapku singkat sebelum keluar dari mobilnya .


"Iya, sama-sama ... " katanya menggantung seperti ada yang ingin disampaikan tapi berat untuk mengucapkan.


Akhirnya akupun turun dan bergegas berlari mengejar waktu agar tak semakin terlambat.


Aku pun sampai dikelas walau sebenarnya telat beberapa menit, tapi beruntungnya dosen yang mengajar belum tiba, jadi bisa menghela nafas dengan tenang .


4 jam berlalu, kuliahku hari ini selesai dengan cukup baik , walaupun ada beberapa tugas yang harus aku revisi . Cuti beberapa Minggu ternyata membuat beban cukup berat karena harus mengejar ketertinggalan.


Aku pun berjalan menuju kantin kampus untuk mengisi perut seperti biasa.


Saat sedang menunggu pesanan makananku datang, seseorang menepuk pundakku . Dan, yah dia Dena sahabatku. Kami pun berpelukan melepas kangen.


"Aaaah, Dena .... kangen tau!" ucapku sambil mencubit pipinya.

__ADS_1


"Hahaha ... sama! Betewe, maaf yaa ga sempet nengokin soalnya tau sendiri lah, hari-hari gue sekarang semakin berat sejak ada nenek sihir di rumah." Ujar Dena sambil memesan makanan


"Eh, Lo udah pesen, Di?" tanya nya padaku kemudian .


" Udah kok." jawabku


"Oh iya, gimana selama di kampung seru ga? Gue kangen tau main kesana ih. Apalagi sama masakan Ibu Lo , Di."


"Iya, Ibu juga nanyain kamu, katanya kemana yaa neng Dena yang cantik dan baik itu, kok ga pernah kesini lagi. Hahaha ... " Aku mencoba menirukan suara ibu .


"Ya ampun, hahaha ... Iya ih gue kan emang cantik dan baik hati!" puji nya pada diri sendiri.


Tak lama pesanan kami pun datang , dan kami mengobrol sambil menikmati nya.


"Oh iya , katanya Tommy nyusulin ke kampung ya?" Tanya Dena kemudian sambil menyeruput minumannya .


"Iya, dia juga mulai usaha bisnis sama pamanku, Den."


jawabanku sontak membuatnya tersedak kaget.


"Iya , Dena!" Jawabku tegas .


"Wah , gila sih . Sampe seniat itu ya dia ngejar Lo, Di. Acungin dua jempol sih gue, hahaha ... "


Ujarnya sambil mengacungkan kedua jempol nya


"Hush, apaan sih, Den. Dia kan usaha biar punya uang, kok jadi ngejar aku sih." tanyaku heran.


"Aduduh, sahabatku yang satu ini beneran bego apa pura-pura sih kamu nak! Dia tuh, kalo emang niatnya cuma nyari cuan ya bisa kali usaha disini , toh usaha bokapnya banyak disini , ngapain jauh-jauh usaha ternak ke Lembang, hayooo kalo bukan karena Lo maemunah!"


"Yaa, mungkin biar usaha nya beda dari Ayahnya, dan juga biar mandiri gitu. Lagipula kenapa harus karena aku coba?" tanyaku polos.


"Ya biar bisa punya alesan buat kenal sama Lo dan keluarga Lo lah , Diandra. Anjir greget deh gue hmmm kalo bukan sahabat udah gue jejelin sambel nih bocah!" Ujarnya sambil memotong baksonya dengan gregetan.


Aku hanya tertawa melihat tingkahnya dan sejenak berfikir , apa mungkin yang dibilang Dena benar? Tommy ikut memberi modal buat paman hanya karena aku? Tapi, kalau dipikir-pikir Tommy memang pria yang baik. Hanya saja, hatiku ini yang masih terlampau sakit dan trauma untuk kembali membuka hati.


***

__ADS_1


Aku baru saja selesai mandi dan mencoba mengeringkan rambutku yang basah . Tiba-tiba saja handphone ku berdering .


Tommy calling ...


Aku pun mengambil handphone dan menjawabnya.


"Bisa ketemu sebentar ga, Di? Aku di depan kos kamu." ucapnya singkat di sebrang telpon.


Dan aku membuka jendela kamar, benar saja mobilnya terparkir di depan gerbang.


"Iya , bisa." jawabku singkat lalu mematikan handphone dan bergegas berganti pakaian dan menyisir rambut , lalu bergegas keluar .


Saat bertemu , aku pun mengajaknya untuk berjalan ke taman agar lebih leluasa untuk mengobrol .


"Maaf, Di. Kalau aku ganggu. Tapi jujur aku ga tenang, aku harus ngomong ini ke kamu, entah bagaimana tanggapan dan jawaban kamu Insya Allah aku siap ." Ujarnya mengawali pembicaraan .


"Aku sayang sama kamu, Diandra. Lebih dari apapun, bahkan kalau kamu menolak pun aku ga peduli, yang jelas yang harus kamu tau aku ga akan pernah lelah menunggu sampai kamu bisa menerima aku."Ucapnya penuh dengan keyakinan sambil menatapku dalam.


Seketika bibirku terasa kelu dan tak sanggup berkata-kata, mataku berbinar menahan tangis melihat ketulusan Tommy yang begitu dalam padaku. Tapi bagaimana bisa aku menyakiti hati seorang pria baik seperti ini Tuhan.


"Aku ... " kataku menggantung tak sanggup melanjutkan dan hanya tangis yang akhirnya tak sanggup lagi aku tahan.


"It's okay, Diandra. Aku ga maksa kamu buat Nerima aku saat hati kamu belum siap. Aku tau , masih ada luka dihati kamu. Tapi tolong ijinkan aku untuk jadi perban buat luka kamu itu. Kita jalani ini bareng - bareng biar aku bisa jagain dan bahagiakan kamu. Aku mungkin ga bisa janji buat jadi pria sempurna buat kamu, tapi aku bisa pastiin kalau aku akan selalu ada buat kamu dan ga akan pernah ninggalin kamu." Ucapnya sambil menghapus air mataku perlahan.


Hatiku bergemuruh riuh bagai ombak besar yang memaksaku untuk berenang melawannya , tapi akal sehatku seperti mendukung untuk menerima Tommy agar hati ini lupa akan luka yang disebabkan oleh orang yang mungkin saja tak pernah kembali lagi .


Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan meski ragu, tapi aku yakin kalau Tommy adalah pria baik yang mungkin saja bisa membuatku sembuh dari luka itu.


Aku mungkin belum sepenuhnya lupa tapi dengan langkah baruku ini aku berharap Tommy adalah pria yang mampu membuatku kembali menjadi Diandra putri yang lama , yang tidak lagi sedih dan terluka karena cinta pertama yang hilang .


Tommy pun tersenyum bahagia dan mencium keningku lembut . Peluk hangatnya membuatku tenang untuk sesaat , dan sekarang aku telah resmi menjadi kekasihnya. Yang mencoba keluar dari lubang luka yang ingin ku hapus saja dari ingatan dan hatiku .


***


"Luka itu , selamanya menjadi luka yang tak pernah hilang kecuali kutemukan jawaban, mengapa kamu pergi ."


Diandra putri.

__ADS_1


__ADS_2