Dilema Diandra

Dilema Diandra
Gelap


__ADS_3

Gelap, samar-samar terdengar suara lembut nya memanggilku, tapi perlahan memudar dan hilang.


"Juna ... !" Teriakku dalam gelap, berharap masih dapat kugapai. Nihil hanya ruangan dengan cahaya putih dan tirai hijau muda yang kudapati. Hanya tangisku yang kini pecah menyadari orang yang kuharapkan kehadiran nya tak pernah hadir walau hanya sedetik.


Dena dan Tommy datang menghampiriku mengetahui aku telah siuman dari pingsan.


"Di, kamu gapapa kan? Aku panggilin dokter dulu, ya!" Dena memastikan dan segera berlari keluar ruangan untuk memanggil suster dan dokter.


"Diandra, are you ok?" Suara berat Tommy bertanya dan berusaha menghapus air mataku yang tak henti mengalir.


Aku bahkan tak sanggup bicara dan terus menguras air mataku yang tak ada habisnya ini . Dadaku terasa amat sesak dan berat, pandanganku kosong dan hanya ingin kembali tidur jika itu bisa membuatku kembali bertemu dengannya, Juna. Andai saat itu batre handphone ku tidak habis, andai saja tidurku tidak terlalu pulas, andai saja waktu bisa kuputar kembali, hanya penyesalan yang kini tersisa dan membuatku semakin kuat untuk terus menyesali diri.


Tommy memeluk tubuhku sambil menepuk pundakku perlahan, meski cukup menenangkan tapi tangisku tak dapat berhenti dan terus membayangkan Juna yang berada disini.


" It's okay, menangislah sampai kamu merasa puas, dan aku janji akan slalu ada buat kamu, okay?!" Suara beratnya menenangkan ku.


Setelah dokter dan suster berhasil menyuntikkan obat penenang padaku, perlahan mataku pun mulai terpejam meski tetes mata masih menetes di pelupuk mata.

__ADS_1


Tommy menghapusnya pelan, kemudian menggenggam tanganku sejenak.


Dena yang menyaksikan pemandangan tersebut hanya bisa diam terpaku, karena untuk pertama kalinya aku menangis sampai sakit seperti ini demi seorang pemuda, dan cinta.


Dena dan Tommy pun keluar ruangan membiarkan aku beristirahat dengan tenang.


"Ayah sama Ibu nya udah dihubungi, Den?"


Tanya Tommy sambil menutup pintu ruangan .


"Udah kok, mungkin sebentar lagi mereka sampai. By the way, Lo pulang aja gapapa biar gue yang jagain sampe orang tuanya Diandra dateng."


"Yah, mungkin karna beberapa hari ini gue ga bisa tidur, Bokap gue mau nikah dua hari lagi. Dan entahlah gue ngerasa takut aja kalo ntar harus serumah dengan Mak tiri."


Dena dan Tommy pun banyak menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol sambil menunggu kedatangan Ayah dan Ibuku dari kampung . Yah, karena ternyata Tommy dan Dena adalah teman masa kecil yang tidak sengaja bertemu lagi saat kedua nya tidak sengaja mendapat kabar kalau aku pingsan ditengah hujan di pekarangan taman tak jauh dari kosku. Dena mendapat telpon dari ibu kosku yang tidak tahu harus menghubungi siapa jika terjadi sesuatu padaku kecuali pada Dena yang memang satu-satunya sahabat yang sudah seperti saudarku sendiri, karena memang aku dan Dena sama-sama anak tunggal. Sementara Tommy, ia memang sedang berada di rumah sakit tempat dimana aku dirawat karena secara kebetulan Tommy pun sedang menjenguk istri kakaknya yang baru saja melahirkan. Keduanya pun seperti reuni masa kecil dan saling bercerita satu sama lain.


"Gue ga nyangka sih, Tom. Kalau Diandra bisa sebucin ini sama Juna. Padahal mereka baru jadian beberapa bulan lalu , apa mungkin karena Juna adalah cinta pertamanya, yah?"Tanya Dena pada Tommy yang menyimak nya sembari berfikir.

__ADS_1


"Maybe, karena kita ga pernah tahu dan paham akan bagaimana perasaan seseorang sebelum kita sendiri juga merasakan hal yang sama. Mungkin memang ada yang belum selesai diantara mereka." Jawab Tommy sembari meraih handphone nya .


Dena mencoba mengangguk paham sambil membuang nafasnya perlahan.


Tapi, tetap saja Dena merasa kesal pada Juna pria misterius yang menurutnya kurang ajar, karena berani hadir dalam hidup sahabatnya lalu pergi menghilang begitu saja sampai membuat sahabatnya terluka dan sakit seperti sekarang.


"Lo udah coba hubungi dan cari tahu dimana Juna Juna itu , Den?" Tanya Tommy sambil menyimpan kembali handphone nya di saku jaketnya.


"Udah, tapi ga diangkat. Kata temen kerjanya juga dia udah ga pernah masuk lagi beberapa belakangan ini, benar-benar menghilang kayak ditelan bumi tau ga!" Jawab Dena dengan kesalnya.


Tommy mengangguk paham, dan sedikit berfikir. Mungkin dia akan coba mencari tahu juga tentang siapa Juna ini, setidaknya jika itu bisa membuat kesehatan Diandra kembali pulih.


Tak lama kemudian orang tua Diandra pun tiba, Dena dan Tommy pun pamit pulang.


Tapi sebelum Tommy pulang dia sempat memandangi Diandra sejenak dan berjanji akan membantunya kembali pulih .


"You're strong woman Diandra, kalau kamu bisa kuat dan bertahan, aku janji bakal jagain kamu dan buat kamu bahagia. I'm promise ."

__ADS_1


Tommy Rahardian.


__ADS_2