
Setelah kesehatan ku membaik , Ayah dan Ibu membawaku pulang ke kampung sementara sampai kesehatanku kembali pulih dan bisa melanjutkan kuliah dengan keadaan sehat.
Aku tak berani menceritakan perihal Juna pada mereka, dan hanya beralasan kecapean saja saat melihat kondisiku di rumah sakit.
Beberapa hari di kampung, kuhabiskan waktu untuk membantu Ibu berjualan kue seperti waktu dulu kecil. Tapi bedanya , jika dulu Ibu harus menjajakan kue nya dari warung ke warung sekarang Ibu sudah memiliki toko kue sendiri . Terkadang pula sesekali membantu peternakan pamanku yang memiliki banyak sekali hewan ternak . Karena Ayahku hanya seorang guru honorer aku tentunya tak bisa membantu nya mengajar. Tapi terkadang beberapa murid SD nya datang kerumah untuk mengikuti les atau belajar tambahan dari Ayah, dan aku hanya mengajak mereka bermain sesekali untuk mengurangi rasa jenuh. Dan tentunya untuk membuat lupa sejenak tentang Juna. Yah, pria misterius itu masih belum juga menghubungiku kembali, meski beberapa kali aku coba menelpon dan mengiriminya pesan tapi tak pernah berbalas. Entahlah , apakah dia marah dan kecewa saat aku tak bisa datang ke taman tepat waktu saat itu? Atau memang dia tak ingin lagi menghubungiku dan bertemu lagi denganku? Oh God!
Hampir setiap malam jika mengingat tentangnya aku menangis dalam sujud ku tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu, berharap Tuhan mengabulkan doaku untuk kembali bertemu dengannya walau hanya sekedar untuk mengatakan kata perpisahan, aku hanya ingin bertemu dengannya sekali saja biar hanya satu menit.
Ibu memintaku untuk membuat beberapa kue di dapur sampai ada salah satu murid Ayah datang menghampiri Ibu dan bilang ada tamu.
Tak berapa lama setelah Ibu mengecek tamunya, ternyata tamu tersebut datang untukku. Aku sedikit bingung, karna tentu saja itu bukan Dena, karena terakhir bilang padaku ingin menyelesaikan semesternya supaya cepat lulus. Lalu siapa?
Dan ternyata , dia adalah Tommy. Pria baik dan humoris yang beberapa terakhir ini selalu ada untukku. Tommy bilang dia mendapatkan alamatku dari Dena, tentu saja. Dan memang ingin bertemu denganku untuk memastikan aku baik-baik saja.
Aku ajak Tommy berkeliling melihat keindahan kampung ku yang masih asri dan penuh hiruk pikuk warga kampung yang aktif di sawah.
__ADS_1
Beberapa kali Tommy menyinggungku perihal Juna, dan aku memang tak ingin membahasnya yang hanya akan membuatku semakin terluka jika mengingatnya.
"Kalo kamu butuh sandaran dan tempat cerita, i'm always stay with you, Di. Jadi, jangan sungkan ya!" Ujarnya lembut sambil menepuk pundakku pelan.
Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyum tipis.
"Makasih , Tom. Kamu datang dan selalu bikin aku ketawa. Yah walaupun terkadang lelucon kamu garing. Hahaha ... "
Tommy ikut tertawa dan kami pun menikmati udara sejuk angin yang berhembus.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku mengajaknya untuk makan bersama dirumah. Tommy sangat senang dan langsung akrab dengan Ayah dan Ibu juga beberapa anak murid Ayah . Suasana hangat dan menyenangkan pun hadir di rumahku saat kehadiran Tommy.
"Jarang - jarang loh nak Tommy, putri Ayah satu-satunya ini punya teman laki-laki yang diajak kerumah. Baru kamu loh ini, iya kan, Bu?"
Ayah melirik Ibu untuk memastikan ucapannya benar.
__ADS_1
" Iya loh, paling - paling juga Dena yang kesini , itupun sudah lama sekali ya Neng Dena yang cantik dan baik itu ga kesini."
Ibu pun melirikku kali ini.
" Kebetulan Dena teman sewaktu saya kecil , Bu." Tommy yang menjawab.
"Oh ya? Waduh, bisa kebetulan sekali ya, hahaha ... " jawab Ibu.
Dan kami pun menikmati makan malam bersama dengan obrolan Ayah dan Ibu yang terlihat sangat suka pada Tommy. Tapi, entah kenapa hatiku selalu saja tertuju pada Juna, meski sudah membuatku sakit tapi aku tak bisa membohongi diri, bahwa aku sangat merindukannya .
Aku bahkan ragu, apakah aku bisa membuka hatiku yang luka ini untuk orang baru? Apa aku bisa untuk mengubur kenangan ku dengan Juna dan memulai kenangan baru dengan Tommy? Bahkan kenangan pertama kali jatuh cinta dengan nya pun aku masih belum bisa lupa. Bagaimana indah dan bahagianya aku saat tahu bahwa cinta pertamaku berbalas.
Walau hanya sebentar tapi kenangan itu tak mudah untuk aku lupa.
***
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta saat luka di hatiku bahkan belum sepenuhnya sembuh."
Diandra putri.