Dilema Diandra

Dilema Diandra
Luka yang kembali


__ADS_3

Dua bulan berlalu, hubunganku dengan Tommy berjalan dengan cukup baik. Tak hanya setia mengantar jemput kuliah, setiap hari Sabtu dan Minggu pun ia selalu rutin mengajakku hangout ke tempat - tempat wisata yang sebelumnya tak pernah ku datangi. Sosoknya yang humoris juga hampir setiap hari membuatku tertawa bahagia , membuatku semakin kagum padanya. Hari- hari kulalui dengan sangat amat menyenangkan dengannya. Bahkan jika moodku up down saat masa menstruasi , Tommy selalu tau caranya agar mood ku kembali stabil dengan segala perhatian dan perlakuan nya padaku , yang mungkin saja tak bisa kudapatkan dari pria lain .


Seperti hari ini, Tommy mengajakku untuk makan malam disebuah restoran yang katanya cukup enak dan salah satu restoran favoritnya.


Restorannya cukup mewah dengan desain klasik dan suasana yang membuatku merasa seperti sedang di luar negri.


Tommy membawaku ke lantai atas yang pemandangannya cukup indah dan menawan karena bisa melihat seisi kota Bandung saat malam, yang tentu saja sangat membuat mata siapa saja berdecak kagum. Dan spesialnya adalah hanya kami berdua yang menikmati malam indah ini di lantai dua outdoor restoran yang memang sengaja di booking Tommy untukku.


Setelah makanan tersaji, kami pun menikmatinya dengan ditemani alunan musik klasik dan pemandangan indah malam kota Bandung . Tommy menggenggam tanganku erat dan mengecupnya pelan.


Kemudian mengajakku berdansa , meski kutolak tapi tetap saja aku berdiri menurutinya.


Dan kami pun terlena dalam alunan musik indah yang syahdu dan udara malam yang semakin dingin. Tommy menarik tubuhku untuk semakin dekat dan memelukku hangat.


"Kamu tau, Diandra. Seumur hidupku ini adalah momen terindah yang tak kan pernah aku lupakan seumur hidup aku.Memiliki kamu adalah kebahagiaan yang takkan pernah aku bisa beli dengan apapun di dunia ini.Aku harap kamu juga bahagia ya, sayang." ucapnya lembut kemudian mengecup keningku penuh cinta.


Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum menanggapinya. Kami pun semakin terlena oleh malam yang terasa semakin dingin . Bibir kami pun bertemu dan saling bertaut dalam dinginnya malam membuat sejenak gairahku memuncak karena serangan bibir Tommy yang tak memberiku kesempatan untuk bernafas, sempat terbawa arus tapi aku sadar ini harus berhenti . Aku pun mencoba melepaskan diri dan mundur dari tubuh Tommy yang mulai berkeringat.


Dengan nafasnya yang tersengal Tommy meminta maaf dan meraih wajahku.


"I'm sorry, Di. Aku ... "


"It's okay, kita pulang sekarang ya." Jawabku sambil mengambil tas


Tommy mengiyakan dan kami pun pulang.


Di sepanjang perjalanan hanya alunan lagu Andmash yang berjudul Kumau dia yang menemani. Tommy masih saja diam , akhirnya aku pun memulai pembicaraan dengan bertanya hal-hal biasa untuk mencairkan suasana. Kami pun tertawa dan banyak saling melemparkan tebakan garing sampai membicarakan hal konyol.


Kami pun sampai di depan kosku, seperti biasa aku pamit dan Tommy mencium keningku sebelum aku turun dari mobilnya, dan kami pun berpisah.


Kurebahkan diri pada kasur empuk ku, seketika bayangan wajah Tommy dan kecupan manis bibirnya datang menghampiri. Entahlah, akhir-akhir ini aku bahkan tak bisa mengontrol ***** dan logikaku dengan baik, selalu saja terlena oleh keadaan dan hilang kendali.


Tak terasa mataku pun terpejam dengan sendirinya dan terlelap.


***


Dari jauh, seseorang terus memanggil nama Diandra tanpa henti. Meski matanya terpejam tapi tetes air mata dan bibirnya terus mengisyaratkan kerinduan yang dalam pada sosok nama itu.


Seorang Ibu paruh baya yang menemaninya di samping ranjang pun tak sanggup menahan tangis melihat putra nya terlelap tak berdaya diatas ranjang dengan keadaan tengah merindukan seseorang yang ia tidak tahu harus mencarinya kemana.

__ADS_1


Sudah hampir sebulan lebih putra tercintanya terlelap dalam koma dan tak sadarkan diri, dan kini mulai menunjukkan kemajuan namun membuat sang Ibu bingung harus melakukan apa untuk membuat putranya kembali bangun dan sehat kembali.


"Apa Ibu tidak mengenal atau tahu siapa itu Diandra, Bu? Karena akan sangat bagus jika Diandra yang di maksud pasien bisa datang dan membuatnya semangat untuk kembali pulih.Sepertinya putra ibu sangat merindukannya ." Ucap Dokter bernama Rudi itu menjelaskan.


"Saya tidak tahu, dok. Seandainya tahu, saya pasti akan langsung menemuinya. Tapi, saya memang bukan ibu yang baik , dok. Bahkan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang demi bisa membuatnya kembali bangun. " ucap sang ibu seraya menangis pilu dan mengusap pelan kepala putranya yang berbalut perban.


"Ibu bisa mencoba menghubungi teman-teman terdekatnya untuk mencari tahu, Bu . Saya sarankan supaya gadis bernama Diandra ini bisa secepatnya datang, karena kondisi pasien semakin menurun akhir-akhir ini. Baiklah , Bu . Saya permisi dulu." ujar sang Dokter berlalu pamit.


"Iya, Dok. Terima kasih."


sang dokter hanya membalas dengan anggukan dan berlalu.


Sang Ibu tak hentinya meratapi keadaan putra tercintanya dan merasa bersalah dengan waktu dan keadaan yang membuatnya menyesal. Kalau saja ia bisa melawan suaminya saat itu untuk tidak memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan putranya dengan wanita yang tidak pernah dicintainya hanya demi kestabilan perusahaannya, mungkin saja saat ini putranya takkan terbaring lemah seperti ini sekarang .


1 bulan lalu, Hendra Saputra Mahendra suaminya, sekaligus CEO dari perusahaan ternama di Jakarta, pulang ke Bandung untuk menemui sang putra dan memintanya untuk menikah dengan wanita yang katanya bisa menyelamatkan perusahaanya dari kebangkrutan. Padahal, ia tak pernah benar-benar menjadi sosok dan figur Ayah bagi kedua anaknya, Arjuna perwira Mahendra dan putri bungsunya Ghania putri Mahendra , bahkan sebagai seorang Ayah, suaminya itu tak pernah peduli bagaimana keadaan anak-anak nya yang tinggal di Bandung , sementara dirinya yang tergila-gila akan harta lebih memilih untuk tinggal di Jakarta dan fokus hanya pada bisnis nya di Jakarta.


Tapi saat butuh, apapun keinginannya harus dipenuhi, salah satunya adalah menjodohkan putranya , Arjuna perwira Mahendra dengan putri dari rekan bisnisnya demi menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan.


Karena memberontak sang Ayah dan memilih pergi dari rumah, hari itu putranya dikabarkan mengalami kecelakaan dan mengalami luka yang cukup parah hingga membuatnya tak sadarkan diri dalam waktu lama .


Sang Ibu hanya bisa menangis meratapi keadaan putranya yang sepertinya begitu sangat merindukan seseorang yang sayangnya dia tidak tahu siapa gadis bernama Diandra tersebut. Ia sudah mencoba bertanya pada putrinya, yang juga adalah adik dari Arjuna, tapi Ghania pun juga tidak tahu siapa gadis yang dimaksud , ia hanya beberapa kali mendengar kakaknya bercerita tentang gadis yang bernama Diandra itu, tapi tidak pernah bertemu langsung dan berkenalan.


Tapi sayangnya, beberapa karyawan di kafe tersebut adalah karyawan baru dan tidak mengenal kakaknya . Tapi, satu waiters kemudian bercerita, kalau Arjuna cukup dekat dengan Iamm salah satu karyawan senior yang saat ini sedang diluar kota .


"Tapi, bang iamm lagi cuti kerja selama beberapa hari. Soalnya ada seminar gitu diluar kota." Ujar sang waiters memberitahu.


"Ada nomor telpon nya ga? Please aku butuh banget ketemu dia." ujar Ghania sedikit memaksa.


"Ada kok, ini ..." si waiters pun memberitahu nomor iamm.


"Makasih banget ya, maaf juga kalo ganggu."


"Iya, sama-sama. Semoga kakaknya cepat sembuh ya!" Ucap si waiters kemudian.


Ghania mengangguk sambil pamit dan berlalu pulang untuk kembali ke rumah sakit dan memberitahu sang Ibu.


***


Iamm , pemuda tampan dan kalem itu baru saja turun dari panggung setelah menyelesaikan tugasnya sebagai MC atau pembawa acara seminar tersebut. Tiba - tiba handphone nya berdering , panggilan dari nomor tidak dikenal.

__ADS_1


Ia pun menjawab telpon tersebut dan cukup dibuat kaget dengan ucapan si penelpon yang mengabarkan perihal keadaan rekan kerja yang juga sahabat baiknya , Arjuna.


Yah, sudah hampir sebulan terakhir ini ia tak pernah lagi bertemu dengan Arjuna, terakhir kali Arjuna menghubunginya untuk memberitahu kalau dia akan cuti kerja beberapa hari, namun ternyata tak pernah kembali. Dan inilah jawabannya, yang membuat Iamm sontak kaget dan lemas . Ia pun bercerita pada Ghania kalau memang benar ia mengenal gadis bernama Diandra , tapi Iamm pun juga sudah lama tidak pernah melihat gadis itu lagi sejak Arjuna menghilang. Iamm pun meminta alamat rumah sakit tempat Arjuna di rawat dan bergegas menuju hotel untuk berbenah, karena memang tugasnya pun sudah selesai dan besok adalah waktunya untuk pulang dan kembali ke Bandung .


Tak seperti biasanya, Dena tiba-tiba saja mengajaknya bertemu di tempat yang sebenarnya cukup membuat Diandra rindu, tapi sedikit ragu jika harus memasuki kembali kafe yang memberinya kenangan manis juga pahit.


Tempat dimana ia menyimpan kenangan indah dan luka pahit sekaligus di tempat itu. Tempat dimana ia pertama kali mendapatkan cinta pertamanya. Dan , sekarang semua hanya tinggal kenangan yang harus ia lupakan . Tapi demi sahabatnya Dena, ia pun mau tidak mau kembali menyapa kafe yang sebenarnya enggan ia datangi .


Suasana kafe saat itu cukup ramai, terlebih kini ada live musik dari band lokal yang cukup membuat pelanggan betah berlama-lama di kafe. Sembari menunggu Dena, Diandra pun memesan secangkir capuccino dan menikmati alunan musik yang cukup asik.


Tak lama Dena pun datang, dan memberitahu kalau Minggu depan ia harus keluar kota untuk koas, dan mereka pun menghabiskan waktu untuk mengobrol dan membicarakan hal-hal ringan.


"Den, aku ke toilet dulu ya!" Ujar Diandra tiba-tiba yang ternyata mendapat panggilan alam.


"Okay," sahut Dena singkat.


Setelah selesai menyampaikan panggilan alam, Diandra pun mencuci tangannya di wastafel sembari merapihkan diri. Sayup-sayup terdengar para waiters yang mengobrol dan membicarakan perihal satu nama yang membuat Diandra terpaku mendengarkan.


"Ga nyangka ya, kirain bang Juna cuti kerja gitu eh gatau nya kecelakaan."


"Iya, ih padahal bang Juna tuh baik banget tau, aku aja kadang kalau pinjem uang selalu dikasih, jadi kangen ."


"Jangan kangen doang, bayar lah utangnya gimana sih! Hahaha ..."


"Kacau! Ya iyalah gue bayar astaga, lagian bang Juna tuh ga perhitungan kayak Lo!"


mereka pun tertawa dan berlalu, seketika tubuh Diandra lemas dan kaget. Juna? Apakah Juna yang dimaksud mereka adalah benar Juna cinta pertamanya? Juna yang tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi itu? Apakah benar ia , kecelakaan?! Mencoba tak percaya, tapi untuk meyakinkan diri , Diandra pun bergegas berlari mencari kedua waiters yang baru saja bicara tadi. Tapi, sayang orang yang dicarinya sudah menghilang entah kemana.


Tiba - tiba telpon genggamnya berdering .


Tommy calling ...


Sungguh momen yang tidak tepat, mencoba menenangkan diri dan menarik nafas perlahan, Diandra pun menjawab panggilan telpon sang kekasih . Hatinya pun diselimuti gelisah tak karuan, bagaimana jika Juna yang didengarnya tadi benar Juna cinta pertamanya? Apakah ini jawaban dari setiap tanya yang menghantuinya ? Lalu jika benar, bagaimana keadaan pemuda yang dirindukannya itu sekarang. Oh Tuhan ...


***


" Kenapa saat hati telah rela, jawaban itu malah hadir membuat gemuruh dalam hati yang membuat jiwa ini goyah "


Diandra putri .

__ADS_1


__ADS_2