Dilema Diandra

Dilema Diandra
Buku yang hilang


__ADS_3

Matahari baru saja terbenam, dan aku masih disini, duduk sendiri diujung cafe mematut pada layar laptop mencoba konsentrasi menyelesaikan tugas yang diberikan dosen. Sudah hampir dua jam lamanya, dan aku masih belum selesai, rasanya sulit sekali untuk fokus . Sejak kejadian dua hari lalu bertemu dengannya, aku masih saja belum bisa melupakan bayang wajah dan senyum teduhnya. Tuhan, aku ingin lupa! Kenapa rasanya berat sekali, huft ...


Kuhembuskan nafas beratku sembari mengedarkan pandangan keluar jendela cafe yang secara langsung mengekspos jalanan Bandung sore ini. Hujan baru saja reda, banyak orang lalu lalang dan ....


"Hah? itu kan .... " kembali kudapati wajah dengan senyum teduh itu .


'Ya Tuhan! Apakah aku terlalu memikirkannya sampai berhalusinasi?!' gumamku sembari mencoba menyadarkan diri .


"Huft .... sadar Diandra! Ayo fokus!" ujarku pada diri sendiri sembari kutepuk tepuk pipi dan kembali fokus pada layar laptop.


Tapi hati ini tak bisa berbohong! Aku ingin melihatnya! Tapi sayangnya saat ku coba kembali melihatnya , pandangannya sudah menghilang entah kemana. Kembali aku menyadarkan diri untuk tidak terlalu memikirkan orang yang bahkan namanya saja aku tidak tahu .

__ADS_1


Tapi .... kupandangi payung hitam lipat didalam tas , aku hanya ingin mengembalikannya, tapi apakah waktu akan mengijinkan? Ah sudahlah .


"Woi! ngelamun aja baby chubby!" Seseorang menepuk pundakku dan membuatku kaget tentunya. Yah, siapa lagi kalau bukan Miss bolos Dena.


"Apasih Den, ngagetin aja! Gimana, udah urusan nya?" Tanyaku pada Dena yang langsung duduk berhadapan denganku sembari menyeruput kopi yang tentu saja milikku.


"Yah gitu deh biasa, " Jawabnya singkat .


Dena kembali bolos siang tadi pada jam kuliah karena tiba-tiba saja Ayahnya menelpon memintanya untuk segera datang . Aku sebenarnya penasaran kenapa tiba-tiba Ayahnya Dena yang kukenal cuek memintanya untuk bertemu, padahal sesering apapun Dena membuat onar Ayahnya tidak terlalu peduli selama semua bisa di selesaikan dengan uang , dan bahkan aku jarang sekali bisa bertemu langsung dengan Ayahnya yang super sibuk itu, selalu menggunakan jasa pengacara keluarga untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan Dena.


"Gue gapapa kok!" Jawabnya sambil tersenyum tipis. Yang aku yakin ada yang sedang disembunyikan, tapi kuurungkan untuk bertanya karena ekspresi wajahnya berubah nanar menatap jendela cafe dengan pandangan menahan tangis. Segera saja aku mendekati dan memeluknya, dan benar saja tangisnya pecah .

__ADS_1


"Bokap gue mau nikah lagi, Di .... " ujarnya diiringi tangis yang sejak tadi ditahannya.


Entahlah, aku tak bisa berkata-kata saat melihat untuk pertama kalinya Dena menangis tersedu dengan rasa sakit yang membuat siapa saja mendengarnya sesak.Aku hanya bisa memeluknya dengan erat , karena mengucapkan sabar pun tak akan menjadi obat baginya.


Aku memang terlahir dari keluarga sederhana bahkan terkadang sulit dan harus mengejar beasiswa untuk dapat melanjutkan sekolah. Tapi apa yang buatku berat harus berjuang pahit dan kerasnya hidup demi cita-cita, tak seberapa jika dibandingkan dengan beratnya hidup Dena yang harus kehilangan sosok Ibu sekaligus Ayah disaat yang bersamaan. Dan yang membuatku selalu bersyukur memiliki keluarga yang lengkap dan selalu mendukungku .


Hari mulai gelap, setelah mengantarkan Dena pulang kerumahnya dalam keadaan tertidur, aku pun bergegas pulang untuk segera meluruskan otot-otot tubuh yang lelah seharian merasakan udara luar.


Sebelum tidur, salah satu rutinitasku adalah merapikan buku-buku yang mungkin saja harus kubawa besok.Tapi ... kenapa aku merasa ada yang kurang, ya?


Dan ... Astaga! Buku diary ku! Ah sial, pasti tertinggal di cafe tadi !

__ADS_1


Buku diary yang kubeli saat SMA adalah salah satu buku wajib yang kubawa kemana pun aku pergi , kenapa aku ceroboh sekali sampai meninggalkannya ! Kalau ditemukan oleh orang yang iseng bagaimana? Karena banyak sekali isi hati yang aku tulis di sana . Huft ... Aku harus kembali ke cafe itu lagi besok , semoga saja diary ku masih aman atau paling tidak ditemukan oleh orang yang baik, oh God!


***


__ADS_2