
Badanku terasa lebih ringan saat bangun, pagi ini. Tapi sialnya, jam sudah menunjukan pukul 08:09 wib, astaga! Padahal hari ini ada kelas pagi, dan aku malah kesiangan, oh ghost!
Segera saja kuambil handuk dan bergegas mandi walau hanya sekedarnya.
Beruntungnya sahabatku Dena sudah siap siaga di depan gerbang kos untuk menjemputku. Ahh sweetie !
Beruntungnya masih mampu mengejar waktu dan telat hanya 15 menit, dan lebih beruntungnya lagi adalah dosen yang mengajar kelas pagiku bukanlah dosen killer, jadi aku dan Dena masih di perbolehkan masuk dan mengikuti kelas.
Dua jam berlalu , Kelas kuliah pagi ku pun selesai dengan baik.
"Di, gue duluan ya. Soalnya bokap minta buat fiting baju buat nikahannya nanti.Gapapa kan kalo pulangnya sendiri? Atau mau gue pesenin taksi online?"
"Iya, gapapa kamu pergi aja, aku bisa naik angkot kok. Lagipula aku mau ke perpus dulu ."
"Oh, oke deh kalo gitu . Duluan ya!"
"Iya, dah hati-hati!"
Aku dan Dena pun berpisah , dan seperti biasa sebelum pulang harus mengisi perut terlebih dulu ke kantin sebelum belajar di perpustakaan, terlebih pagi tadi tidak sempat sarapan .
Sambil menunggu makanan akupun mencoba mengambil handphone di tas, namun barang yang ku cari tak ada. Astaga! apakah aku meninggalkannya disuatu tempat? Ah ****! Kutepuk jidatku karena tersadar bahwa handphone ku tertinggal di kamar saat pagi tadi tergesa-gesa karena bangun kesiangan.
Dan tanpa kusadari seseorang telah menelponku berkali-kali dan mengirimi beberapa pesan di sana.
Baru saja memasuki pintu masuk perpustakaan, kembali aku berpapasan dengan seseorang yang kukenal. Ya, dia Tommy pria novel Tereliye . Entah kenapa setiap berpapasan dengannya aku selalu saja ingin tertawa dibuatnya, pembawaannya yang ceria dan selalu membuat lelucon garing dan aneh , tapi cukup bisa untuk membuatku tertawa dan melupakan sedikit kesedihanku tentang Juna, pria misterius yang entah ada dimana sekarang.
__ADS_1
Karena ingin segera mengembalikan novel Tereliye nya, mau tidak mau aku harus menumpang pulang dengannya. Setelah sampai di gerbang kosku, aku memintanya untuk menunggu saja di mobil karena kosku tidak memperbolehkan teman pria masuk tanpa ijin.
"Ini bukunya, makasih ya udah mau direpotin dan makasih juga buat bukunya." Ucapku sembari memberikan paper bag berisi novel dan handuk kecil yang pernah ku pinjam.
"Oh iya, sama handuknya juga ada di dalem udah di cuci kok, makasih ya sekali lagi."
"Hahaha ga kebanyakan tuh makasihnya? Oke , never mind." Jawabnya seraya menerima paper bag yang kuberikan.
Mobil Tommy pun berlalu pergi.
Kembali ke kamar, aku pun segera mencari handphone yang ternyata telah mati total karena lupa tak ku charger.
Sembari menunggu batre handphone ku terisi aku pun membersihkan kamar kosku yang berantakan karena tak sempat ku bereskan tadi pagi.
Jam menunjukkan pukul 3 sore , hujan deras pun turun tepat saat kucoba nyalakan handphone yang sudah terisi penuh daya.
50 panggilan tak terjawab My own
5 My own messenger
My own : Ada urusan yang gabisa aku jelasin yang harus aku selesaikan dulu
My own : Maaf, kalau aku masih belum bisa jadi seseorang yang sempurna buat kamu
My own : bisa ketemu sebentar?
__ADS_1
My own : Taman dekat kos kamu, ga lama kok cuma beberapa menit aja.
My own : Diandra putri, please trust me. Aku cuma mau bilang, I love you .
Pesan terakhir dikirim 20 menit lalu, aku pun bergegas keluar berharap Juna masih bertahan menunggu meski hujan tengah turun dengan derasnya. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bahkan tak bisa mengangkat telponnya barang satu kali saja, padahal terlihat jelas bagaimana Juna berusaha menghubungiku sejak kemarin. Orang yang paling sangat aku tunggu kabarnya, bahkan bagaimana bisa?!
Tak ku pedulikan hujan deras yang membasahi tubuhku dan dinginnya yang teramat karena yang aku ingin sekarang adalah mengejar waktu untuk bertemu dengannya, orang yang sangat aku rindukan.
Tapi nihil, telah berapa kali pun aku jelajah sekitar taman tak ada satupun kulihat batang hidungnya. Tak terasa air mataku pun berlomba dengan derasnya hujan membasahi seluruh tubuh yang tak kuasa menahan amarah dan kecewa.
Seberapa keras pun aku berusaha memanggil namanya, tak ada satupun jawaban yang kudapat.
Kenapa?! Kenapa waktu seakan tak mengijinkanku barang sedetikpun bertemu kembali dengannya, aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya, kenapa dia harus pergi menghilang bagai ditelan bumi seperti ini! Dalam keadaan aku dan hati yang begitu menginginkannya , Tuhan! Dadaku terasa teramat sesak, badanku lemas seketika ambruk dan gelap!
***
"Kasihan ya, masih muda mana ganteng lagi."
"Iya ih, mana hujan lagi deras-derasnya."
"Tapi katanya sih korban tabrak lari."
"Semoga aja selamat ya, kasihan ih beneran deh."
Bandung , 20 Agustus 2021 , 15:20 Wib.
__ADS_1
***