
Kehadiran Tommy membawa warna baru dalam hidupku memang. Tapi kenangan tentang Juna tak hilang semudah itu, aku masih saja berharap padanya meski mustahil.
Tommy yang juga mulai akrab dengan pamanku yang seorang peternak memulai bisnis bersama dan membuat Tommy tinggal lebih lama di kampungku.
Beberapa Minggu terakhir banyak kuhabiskan waktu bersamanya.
Membuat hatiku sedikit goyah, meski hati terdalamku masih berharap cinta pertamaku kembali.
Tapi dengan segala kebaikan dan ketulusannya, apakah aku sanggup bertahan untuk tidak jatuh cinta lagi?
"Di, ngapain bengong disitu? Sini ikut turun, airnya jernih dan seger banget tau!" Ajaknya sambil menyipratkan air sungai padaku.
Aku hanya tertawa sambil mencoba menghindari cipratan airnya.
Tommy pun membuka baju atasannya dan berenang dengan senangnya. Salah satu hobinya memang berenang, makannya ia sangat senang saat tahu ada sungai jernih di kampungku , yah walaupun tak seluas dan sebagus kolam renang dirumahnya.
Tommy bercerita, dia memang seorang yang berasal dari keluarga berada karena Ayahnya seorang pengusaha sukses, tapi tak jauh berbeda dengan Dena, orang tua nya pun berpisah tapi saat dirinya masih kecil, saat Ayahnya masih seorang pedagang kecil dan hidupnya serba pas-pas an. Karena kerja keras dan tentu saja doa pada sang Rabb, Ayahnya berhasil sukses dengan beberapa usaha kulinernya, maka dari itu Tommy ingin mengikuti jejak sang Ayah yang tak akan menyia-nyiakan kesempatan dalam berbisnis. Salah satunya yah dengan berbisnis bersama pamanku. Meski masih cukup awam dalam dunia peternakan, tapi dia cukup yakin peluang dan keuntungannya cukup menjanjikan. Walau hanya sekedar memberi modal, ia juga ingin benar-benar mengerti bagaimana dunia peternakan, sampai rela menyewa rumah untuk ditinggali nya beberapa hari di kampung ku ini.
Ada dua harta Karun yang akan didapatkannya disini, jika ia mau bersabar dan berusaha katanya, membuatku spontan bertanya apa harta Karun yang dimaksudnya?
"Keuntungan dalam usaha peternakan tentunya, dan ... " katanya terhenti sebentar lalu menatapku dalam, " Kamu ... " ucapnya kemudian.
Membuatku seketika kaget dan kaku tak bisa berkata apa-apa. Tubuh dan bibirku kelu mendengarnya mengatakan bahwa harta Karun yang dicarinya adalah aku. Aku tak punya untaian kata untuk diucapkan.
Disatu sisi, Tommy adalah pria menyenangkan yang selalu mampu membuatku tertawa lepas dan cukup membuat nyaman. Tapi disisi lain, ada Juna dengan luka yang masih belum selesai yang membuatku sulit menerima orang baru, terlebih aku takut dan tak ingin membuat Tommy kecewa jika akhirnya aku tak bisa menerimanya sepenuhnya dan terus terbayang akan Juna. Pria yang masih saja kuharapkan untuk kembali datang walau hanya sebentar.
Bertarung dengan masa lalu yang masih ingin aku selesaikan sepenuhnya, bukanlah perkara mudah, tapi juga sangat amat menyiksa dan membuatku jadi orang paling naif dan egois.
"Gausah dipikirin Diandra, aku ga maksa kok. Let it flow aja, saat hati kamu siap anytime aku slalu ada." Kata-kata nya membuatku menjadi seperti orang jahat yang memaksanya menunggu tanpa kepastian.
Dan aku tak sanggup menjawabnya, hanya mengedarkan pandangan untuk menghindari tangis yang mungkin saja pecah karena kekesalan hati yang begitu kuat mencintai cinta pertama tanpa kepastian ini. Cinta pertama yang mungkin saja tak pernah kembali.
Hari mulai sore, dan kami pun bergegas pulang . Tapi, kakiku tergelincir karena licinnya bebatuan yang kami lewati, beruntungnya Tommy berdiri di belakangku dan spontan meraih tubuhku yang hampir terjatuh . Mata kami bertemu, seketika hatiku berdebar tak karuan. Wajahnya yang tegas menegaskan parasnya yang tampan membuatku sedikit goyah, tapi kemudian kucoba menepiskan perasaan itu, dan kembali berdiri tegap.
"Ma-maaf,"
"It's okay. Hati-hati, Di. Sini tangannya biar ga jatuh lagi." Tangannya meraih tangan kananku, mau tidak mau harus kuterima agar badanku seimbang melewati bebatuan yang cukup licin ini.
Setelah sampai di rumahku, Tommy pun pamit karena hari memang mulai gelap.
__ADS_1
Ibu mengagetkanku di depan pintu, dan menggodaku yang hampir setiap hari selalu pergi dengan Tommy. Aku coba jelaskan bahwa aku hanya sekedar mengantarnya berkeliling kampung . Tapi Ibu kekeh saja bahwa aku memang sangat cocok dengan Tommy dan mengingatkan untuk tidak menyia-nyiakan orang seperti Tommy.
Aku hanya mengiyakan dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri .
Setelah menyelesaikan rutinitas shalat isya, aku pun menyandarkan diri pada kasur ternyaman ku, dan mengambil laptop untuk menyelesaikan beberapa tulisan di blog pribadiku. Yah , akhir-akhir ini ku sempatkan menulis diary online ini untuk mengisi waktu suntuk dan tentu saja untuk mencurahkan isi hatiku yang tak bisa ku ceritakan begitu saja pada orang . Hanya diary online ini yang kupercaya .
Tiba-tiba saja Ibu mengetuk pintu kamarku dan mengajakku pergi ke pasar malam yang memang jarang mampir dikampung ku. Pasar malam ini memang tak selalu ada, hanya ada di waktu tertentu, salah satunya sekarang . Selain jajanan anak-anak dan makanan enak , banyak juga yang berjualan baju, mainan anak, segala kebutuhan rumah juga permainan anak yang menyenangkan. Salah satunya kora-kora, komedi putar dan masih banyak lagi. Ayah sedang sibuk memeriksa ulangan muridnya, jadi ibu mengajakku. Karena memang keramaian pasar malam terlalu sayang jika dilewatkan. Membuatku teringat masa kecil dulu, bermain bersama teman-teman seusiaku dan rela membuka celengan demi bisa menaiki banyak wahana.
Tapi saat bertemu dengan ibu-ibu lain, ibu malah meninggalkanku dan pergi entah kemana bersama mereka . Beruntungnya aku sudah besar jadi takkan tersesat, tapi tetap saja bagaimana bisa aku dibiarkan berjalan sendirian seperti ini?
Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahuku pelan dan membuatku menoleh, ternyata yah Tommy. Kami kembali bertemu dan akhirnya berjalan bersama menikmati pasar malam dan melihat lihat . Beberapa kali Tommy memainkan permainan dan membuatnya menang dan mendapatkan boneka dan mainan lucu, dan diberikan padaku tentu saja.
Kami pun banyak tertawa dan asik menikmati seru nya pasar malam.
Tak terasa waktu mulai mendekati tengah malam. Tommy pun mengajakku pulang dan sesampainya di rumahku, Tommy memberikan sesuatu untukku.
"Bukan sesuatu yang mahal apalagi bagus, aku cuma mau kamu menyimpan ini buatku ya, Di. Jadi, kalau kamu kangen dan aku engga ada, kamu bisa liat ini dan inget aku." ucapnya sambil mengulurkan sebuah kotak musik kayu. Sangat lucu dan alunan musiknya saat ku buka kotaknya cukup merdu .
"Makasih ya, Tom. Kamu selalu bisa bikin aku ketawa dan seneng." ujarku berterima kasih dan menerima kotak musik pemberiannya.
"Iya, Di. Semoga aku ga cuma bisa bikin kamu seneng tapi juga bisa bikin kamu move on dari masa lalu mu dan ... " kata Tommy terhenti karena kupotong.
"Tom, please." kataku sedikit menekankan perihal masa lalu dan luka yang masih belum sembuh .
"Gapapa, Tom. Tapi, tolong dan maaf kalau aku cuma bisa bikin kamu menunggu tanpa kepastian. Tapi, memang ga semudah itu , Tom ... "
"Iya, aku paham. Maaf ya, kamu ga marah kan?"
Aku menjawabnya dengan gelengan pelan.Dan aku pun pamit masuk rumah karena tak enak jika terlalu lama mengobrol dengan laki-laki di depan rumah seperti ini. Dan memintanya untuk pulang dengan hati-hati. Kami pun kembali berpisah.
Tapi aku sungguh tak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan Tommy tadi . Jujur, hati ini cukup goyah saat mengetahui begitu sabarnya dia menungguku yang egois ini . Kembali ku tatap kotak musik pemberiannya .
Seandainya, jika saja hatiku tidak sesakit ini , mungkin mudah saja diri ini untuk menerimanya , tapi keadaan tak berpihak padaku untuk mencicipi kembali bahagia nya jatuh cinta .
***
Pagi-pagi sekali Ayu, putri pamanku sekaligus sepupuku datang kerumah dan mencari ku. Gadis SMP itu menyampaikan amanah Ayahnya untuk memintaku menemani Tommy mengantar beberapa bebek mereka yang dipesan pelanggan.
Pamanku harus menemani Ayu putrinya untuk mendaftar ke pesantren, sementara mang Ujang yang biasa mengantar pesanan ternak sedang sakit. Dan ini adalah usaha pamanku dengan Tommy, jadi mau tidak mau Tommy lah yang harus mengantarkannya tapi karena orang baru Tommy tak tau tempatnya dan aku diminta untuk mengantarnya. Karena pesanan bebeknya cukup banyak dan tempatnya cukup jauh jadi harus segera diantar. Aku pun mengiyakan dan bergegas .
__ADS_1
Mobil pick up hitam pun sedang menungguku bersama supirnya yang tentu saja, Tommy.
Kami pun bergegas mengantarkan pesanan .
Setelah berhasil mengantarkan pesanan, Tommy mengajakku untuk makan siang terlebih dulu.
Dan setelah makan siang berlalu kami pun kembali pulang. Sepanjang perjalanan, tak banyak yang kami bicarakan, selain jalanan dan pemandangan indah yang kami lewati. Sebelum pulang, Tommy mengajakku untuk kembali ke sungai kemarin untuk istirahat sejenak, yang kebetulan memang kami lewati sebelum jalan pulang.
Karena memang tidak ada urusan lain, aku iya kan saja .
Sesampainya di sungai, Tommy langsung saja membuka baju atasannya dan menyeburkan diri, tanpa aba-aba. Entahlah, mungkin ia ingin merasakan segarnya air sungai karena hari memang cukup terik siang ini.
Setelah puas berenang , ia pun duduk tepat di sebelahku.
"Sorry ya, Di. Aku kalau lagi kesal emang suka melampiaskannya dengan berenang. Kamu ga keberatan kan nemenin aku disini sebentar?"
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu tahu ga sih, Di. Aku ini sebenarnya tipikal orang yang ga sabaran, tapi sama kamu aku sabar . Orang yang pemarah dan arogan, tapi sama kamu, aku selalu berusaha menahan amarah. Banyak hal baik yang aku dapat saat kenal kamu, bahkan aku ga pernah berfikir kalau semisal kamu tiba-tiba hilang dan pergi, apa aku masih bisa menahan semuanya?" Kata-katanya dalam membuatku kaku dan kelu mendengarnya.
"Kamu pantas bahagia, Diandra. Dan aku adalah orang yang paling berharap jadi orang yang bisa ngasih kebahagiaan itu buat kamu. Aku paham, hati kamu masih sulit menerima aku karena ada luka yang belum selesai, tapi seengganya ijinkan aku jadi perban buat luka kamu, walaupun lukanya ga sembuh sempurna . Tapi aku mau jadi perban yang kuat buat kamu." Kini tatapannya kuat memandangku penuh yakin.
Hatiku mulai goyah dan sesuatu didalam sana bergemuruh menyerang ku . Kami pun hanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti yang berbeda namun sama kuatnya.
Perlahan tapi pasti wajah kami saling mendekat, dan hidung kami bertemu. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku hanya ingin melepas gemuruh rasa yang bergejolak dalam hatiku yang semakin kuat . Bibir kami saling bertemu, bersentuhan dan bertaut dalam beberapa saat, air mataku menetes begitu saja. Bibir basahnya semakin kuat mengulum bibirku yang mungil dan kelu, semakin kuat semakin membuatku terlena melupakan sejenak rasa sakitku, dan ... bayang wajah senyum teduh Juna tiba-tiba hadir dan menatapku nanar. Membuatku spontan mendorong Tommy cukup keras dan membuatnya kaget dan tersadar.
Tangisku pecah, bagaimana bisa aku bahkan tak bisa menahan nafsuku dan bayangan wajah itu datang begitu saja, seperti selalu menahan ku untuk melupakan nya.
"Maaf, Di. Aku ... minta maaf," Katanya penuh penyesalan karena tak bisa menahan diri melawan nafsunya .
Mencoba menata kembali hati dan menghapus air mata, aku kembali bangkit dan mengajak Tommy kembali pulang dan memintanya melupakan yang baru saja terjadi. Meski mungkin tak mudah dilupakan, karena itu adalah pertama kalinya aku mendapatkan ciuman pertamaku.
Sepanjang jalan, hanya diam yang mengisi jarak antara aku dan Tommy. Aku masih saja merasa bersalah pada diriku sendiri yang bodoh. Masih belum bisa melupakan cinta pertama tapi memberi ciuman pertamaku pada pria lain.
Begitu bodoh dan naif nya diri ini. Sampai pada lelahku aku ingin hilang saja.
Sejak kejadian itu, aku masih belum bisa kembali menata hatiku dengan baik. Aku seperti menggali lubang kematian diriku sendiri saja . Ingin tetap menunggu, tapi malah menerima uluran tangan lain. Manusia teregois itu adalah aku. Dan pelakunya adalah hatiku yang mudah goyah.
***
__ADS_1
"Hati, berikan aku jalan untuk keluar dari dilema tak berkesudahan ini, aku lelah."
Diandra putri .