
πΆπ΅πΆ 365 hari
bayangmu masih menghalangi hatiku berlari
bagaimana kubisa temukan cinta yang baru
bila kau masih di fikiranku
masih jelas ditelinga manisnya suara
derap langkah kita yang biasa seirama
kau tuntunku tuk mencinta
namun tiba-tiba
kau melangkah kearah berbeda .... π΅πΆπ΅
Alunan musik MP3 lagu dari Tiara Andini berjudul 365 , membuatku terpaku menghayati tiap liriknya yang seperti sedang menyentil hatiku yang mulai gelisah dan goyah akan cinta pertama yang hilang . Ingin melupa, tapi hati seperti enggan untuk berhenti bertanya , apa yang membuatnya pergi begitu saja tanpa pamit . Bahkan jika pamitnya adalah satu kesakitan bagiku, jauh lebih indah ketimbang ditinggal tanpa alasan yang pasti.
Aku terlalu menghayati lagu itu, hingga tak terasa air mataku menetes dengan derasnya. Membuat Tommy melirikku heran, dan bertanya sembari meraih tanganku sambil tetap fokus menyetir.
"Eh, hmm ... aku gapapa kok, kamu fokus nyetir aja ya. Ini cuma aku terlalu larut sama lirik lagu nya, sedih banget ga sih?" Jawabku mengelak sembari mencoba menghapus air mata.
Ya Tuhan, aku bahkan tak sadar bahwa yang disampingku saat ini adalah Tommy, pria baik nan tulus yang selama ini selalu ada untukku. Yang tak seharusnya aku memikirkan pria lain saat sedang bersamanya. Hati ini mungkin saja dapat menerimanya , tapi kenapa aku selalu saja kembali pada luka yang seharusnya sudah kulupa. Apakah aku rindu? Bagaimana bisa merindu luka yang membuatku terpuruk itu?
π΅πΆπ΅ Meski waktu memang bisa sembuhkan luka
Namun waktu tak bisa ajak hati melupa
365 hari,
Bayangmu masih menghalangi hatiku berlari
Bagaimana kubisa temukan cinta yang baru
__ADS_1
Bila kau masih difikiranku
Entah mengapa
Luka yang ada
Meski kuhapus
kenangan di dada ...πΆπ΅πΆ
Lagu nya masih saja terus terngiang-ngiang dan membuatku tak berhenti menangis dalam gelap nya kamarku, sendirian . Meratapi hati yang selalu saja mudah goyah . Aku bahkan tak tahu pada siapa hati ini berlabuh .
Tapi, aku pun tak bisa jadi egois hanya karena ada hati yang harus kulindungi agar tak terluka seperti apa yang kurasa .
Aku mungkin tak sepenuhnya melupa cinta pertamaku pada Juna, tapi Tommy pun berhak untuk mendapatkan cintanya yang juga tulus menerimanya . Jika saja waktu kembali pertemukan aku dengan Juna, aku harus amat bijak mengontrol hati ini agar tak goyah dan menyakiti hati Tommy yang tulus mencintaiku.
Tak terasa mataku pun terpejam terbawa arus malam yang semakin larut.
***
Setelah di periksa, Dokter mengatakan bahwa putranya mengalami kemajuan yang signifikan dan jika mau bersabar dan juga atas kehendak yang di atas tentunya , kemungkinan besar putranya akan segera siuman dari koma.
Sang ibu pun tersenyum haru mendengar kondisi putra nya yang semakin baik.
Tak lama putri bungsu nya datang dan memberitahu bahwa mungkin saja dia akan segera menemukan gadis bernama Diandra itu.
Tapi harus menunggu kedatangan Iamm, sahabat baik kakaknya .
Tak lama, handphone Ghania pun bergetar, satu pesan dari Iamm yang mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di rumah sakit dimana Juna di rawat .
Iamm sedikit terkejut mendapati sahabat baiknya tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan banyak terlilit infus dan oksigen pembantu pernafasan. Iamm pun duduk disamping ranjang pasien mencoba melihat keadaan Juna lebih dekat. Lalu, mengajak Ghania untuk berbicara diluar.
"Udah hampir sebulan lebih bang Juna koma, dan saat kondisinya menunjukkan kemajuan, cuma nama Diandra yang dipanggilnya , sampai sekarang aku bahkan belum tau Diandra itu siapa dan ada dimana sekarang , mungkin bang Iamm bisa bantu." Ujar Ghania pada Iamm menjelaskan .
"Terakhir gue liat dan ketemu Diandra itu adalah saat Juna menghilang , saat itupun Diandra terlihat murung dan sedih karena Juna hilang tanpa kabar. Dan saat Juna hubungin gue terakhir kali bilang mau cuti kerja, gue mau nyampein ke Diandra, tapi dia ga pernah keliatan lagi dan ga pernah dateng lagi ke kafe. Tapi, gue akan coba cari tahu di kampus nya ya, siapa tau Diandra ga tau akan hal ini." balas Iamm sambil duduk di ruang tunggu .
__ADS_1
"Iya, makasih ya bang Iamm mau bantu, karena jujur aku ga tau harus nyari Diandra kemana , aku ga tau dia kuliah dimana. Karena bang Juna ga banyak cerita juga soal Diandra ke aku, mungkin karna emang selama ini bang Juna selalu jadi pendengar yang baik buat aku, tapi sebaliknya aku ga pernah nyoba buat jadi pendengar yang baik juga buat dia, padahal aku adalah satu-satunya orang yang harusnya selalu ada buat dia." Lirih Ghania sambil mengusap air matanya yang hadir begitu saja.
"Yauda, gausah salahin diri sendiri kayak gitu. Juna juga kayak gini kan bukan karena Lo , sebagai laki-laki gue paham posisi Juna.Kalau dia ga banyak cerita tentang hal yang dia alami ke Lo adeknya, ya bukan berarti Lo ga penting atau Lo bukan pendengar yang baik, tapi memang sebagai laki-laki kita cuma pengen jadi pendengar yang baik tanpa harus didengerin . Abang Lo keren dan baik Ghania, tetap selalu ada buat dia ya!" Iamm mencoba menenangkan Ghania dan memberinya sapu tangan .
"Iya, makasih bang Iamm . Bang Juna emang kakak yang luar biasa buat aku, setiap aku berbuat salah atau di marahin papah cuma bang Juna orang yang berani bela aku dan ada buat aku. Makannya aku pengen liat bang Juna bahagia dan ketemu sama orang yang dicintainya."
"Insya Allah gue akan bantu sebisa gue ya! Juna buat gue bukan cuma sahabat atau rekan kerja, tapi dia lah orang yang selalu bikin gue percaya kalo di dunia ini ga ada yang mustahil. Orang yang selalu ada buat gue, makannya gue benar-benar kehilangan saat dia tiba-tiba menghilang. Makannya gue bela-belain nih dari bandara langsung kesini."
Keduanya pun mengobrol banyak hal tentang Juna, dan sampai pada akhirnya iamm pun pamit untuk pulang dan berjanji untuk segera mencari Diandra dan membawanya bertemu Juna.
Dari jauh, Tommy sedang membeli sebuah cincin istimewa untuk diberikannya kepada sang pujaan hati, Diandra. Bukan meminang, Tommy hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk gadis tercintanya. Tapi, untuk mengetahui ukuran yang pas, Tommy mengajak teman masa kecilnya yang juga sahabat terdekat Diandra, yaitu Dena untuk membantunya memilih cincin yang tepat .
"Kalau yang ini bagus ga, Den?" Tanya Tommy pada Dena sembari menunjukkan sebuah cincin perak dengan mutiara mungil yang sangat indah.
"Bagus, kok bagus. Tapi Diandra suka yang simple aja gausah yang berlebihan ." Jawab Dena sambil memperhatikan cincin yang ditunjukkan Tommy.
Mereka pun mencari dan memilih cincin lain yang lebih simple seperti yang dikatakan Dena.
Setelah berhasil mendapatkan cincin yang dirasa pas untuk Diandra, Tommy pun memilih satu gelang emas dengan motif Doraemon yang cukup indah dan lucu .
"Den, cobain deh . Kayak nya cocok nih buat Lo." Ujarnya sambil mengulurkan gelang tersebut.
"Ah, apaan sih gue ga suka pake gituan ." Dena menolak.
Tapi Tommy memaksa dan memakaikan gelang tersebut langsung ke tangan kanan Dena.
"Tuh kan bagus gue bilang , lucu hahaha ... udah yah Lo pake, sebagai tanda terima kasih karna Lo udah mau bantuin gue pilih cincin yang pas buat Diandra ." Ucap Tommy seraya mengeluarkan kartu debit nya .
"Saya beli ini sama cincinnya ya,"
Dena pun mau tidak mau menerima gelang tersebut . Dalam hatinya ada sedikit bahagia kecil mendapati teman masa kecilnya ini begitu baik memberikan gelang yang indah dan lucu itu untuknya, tapi sisi lain hatinya terasa ada yang sakit menyadari wanita yang beruntung mendapatkan cinta Tommy adalah sahabatnya sendiri. Hatinya berkecamuk sendiri, apakah boleh aku cemburu pada sahabatku sendiri, Tuhan?
***
Cinta, kenapa kamu begitu rumit?
__ADS_1
Dilema Diandra