Dilema Diandra

Dilema Diandra
Sweet heart


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sangat amat indah , kulalui hari-hari indah bersama Juna saat kami sepakat untuk menjalin asmara karena tahu perasaan kami saling berbalas.


Meski begitu, aku masih saja belum mampu memberanikan diri untuk bertanya tentang keluarganya . Tak mengapa, aku yakin seiring berjalannya waktu, kami pasti akan saling mengenalkan keluarga masing-masing satu sama lain suatu hari nanti.


Dan hari-hari kulalui dengan sangat amat indah, bagaimana tidak? Juna tak hanya tampan dan baik, dia juga memiliki sisi romantis yang membuatku merasa beruntung memilikinya.


Tapi, semakin kita sayang pada seseorang, kenapa semakin besar rasa ketakutan kehilangan itu muncul? Rasanya aku ingin menghentikan waktu saat sedang bersama dengannya. Sampai membuat sahabatku Dena merasa mual karena kebucinanku ini.


Walau begitu, Dena selalu saja mau membantuku dan mendukung apapun yang jadi keputusanku.


Seperti biasa, aku dan Dena mengerjakan tugas kampus di kafe favoritku , yang tentu saja adalah kafe tempat mas pacarku bekerja .


Tapi sudah ku edarkan pandangan mencarinya, tak kunjung terlihat juga batang hidungnya yang mancung itu.


"Hayoloh! Itu matanya serius amat kek pemburu nyari mangsa!" Dena mengagetkanku


"Ish, apa sih Den, "kuhembuskan nafas berat karena yang kucari tak kutemukan.


"Ayo, nyari mas pacarnya kan? ckckck " suara berat Iamm kali ini yang mengagetkanku.


Sambil meletakkan dua gelas ekspreso di mejaku, Iamm memberitahu kalau mas pacarku hari ini tidak masuk kerja karena ada salah satu saudaranya yang sakit.


Saudara? Aku sempat bingung karena memang tak ada kabar darinya perihal tentang ini. Bukankah sebagai pacarnya aku punya hak untuk tahu? Entahlah suasana hatiku mendadak suram .


"Di, anterin gue ke toko buku, yuk!" ujar Dena sembari menyeruput ekspreso nya.


"Hmm? iya. Eh, tumben toko buku?" jawabku kaget . Karena memang Dena bukan tipikal orang yang suka membaca, dan toko buku? Tumben sekali nona satu ini.


"Iya, jadi tuh kan bokap mau nikah kan Minggu depan, jadi yaa gue mau jadi anak yang baik dululah sehari mah, "


"Iya, tapi kenapa toko buku, den?"


"Karena gue mau ngasih kado nyokap , eh calon nyokap tiri gue buku panduan untuk jadi Ibu tiri yang baik, gituuuu ..." diakhir kalimat Dena memonyongkan mulutnya dengan gaya yang lucu membuatku terpingkal seketika.


"Hahaha, Dena! Ih!"


"Hahahaha, Diandra apa sih!"


tawa kami pun lepas dan sejenak melupakan kekhawatiran ku tentang Juna yang sedari tadi malam tak mengabariku sama sekali, bahkan notif WhatsApp nya pun offline .


***


Aku dan Dena sudah sampai di salah satu toko buku di mall Bandung, karena benar saja Dena ingin mencari buku untuk calon ibu tirinya. Entahlah, sahabatku yang satu ini memang unik dan sedikit ekstrem. Walau aku tahu, dalam hatinya Dena sangat tidak ingin memiliki ibu tiri, tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan sang Ayah, jika ancamannya adalah diusir dari rumah nya jika tidak merestui pernikahan Ayahnya itu. Dan demi untuk menjaga hak warisannya, Dena akhirnya manut dengan apapun keputusan Ayahnya. Dan sejak ditinggal Bundanya yang kini entah dimana , Dena menjadi pribadi yang dingin pada pria, meski kebanyakan temannya adalah pria, tapi Dena seperti tak lagi percaya dengan apa itu cinta? Baginya cinta itu bulshit, karena jika memang ada, cinta pasti mampu menahan Ayah dan Bundanya tetap bersama. Itulah kenapa, setiap kali aku membicarakan Juna dan perasaanku padanya, Dena selalu merasa bahwa aku perlu berhati-hati dalam memilih cinta, apalagi jika aku tak begitu tahu bagaimana keluarga Juna sebenarnya.


Meski terkadang tertampar oleh kata-kata Dena yang membuatku takut , tapi tetap saja perasaanku pada Juna mengalahkan segala ketakutan itu. Dan selalu aku yakin kan bahwa Juna adalah pria baik yang Tuhan turunkan untukku sebagi cinta sejati .


Salah satu judul buku membuatku tertarik untuk mengambilnya, tapi tanganku ternyata bertemu dengan tangan lain yang juga ingin mengambil buku yang sama.


"Eh, maaf silahkan." suara bas nya mengijinkan ku mengambil buku tersebut.

__ADS_1


Tapi , aku juga tak enak untuk mengambilnya.


"Hmm , gapapa kok mas nya aja yang ambil. Saya cuma liat-liat aja kok." balasku mengalah.


"Yakin? Ini bukunya bagus loh, salah satu sekuel terbaru karya Tere Liye yang lagi hype." Ujarnya menjelaskan sambil mengambil buku yang ternyata hanya tinggal satu itu.


Sebenarnya aku cukup penasaran dengan judulnya, tapi aku juga tak cukup percaya diri untuk mengambilnya.


"Kalau mau, kita bisa gantian. Aku yang bayar, tapi kamu bisa baca bukunya duluan."


'Hah?! mataku tercengang tak percaya, bagaimana mungkin dia yang membeli tapi aku yang membacanya terlebih dulu?' gumamku dalam hati.


"Hmm, gausah mas. Buat mas nya aja, saya masih bisa cari di toko lain kok." Tolakku halus.


"Gapapa, lagipula cari buku ini susah loh, sebentar ya!" Ia pun bergegas pergi menuju kasir untuk membayar. Karena merasa tak enak segera saja aku kabur mencari Dena.


Setelah menemukan Dena, kami pun membayar ke kasir, ternyata Dena benar mendapatkan buku yang menurutnya menarik untuk dibaca calon ibu tirinya , entahlah ajaib memang sahabatku yang satu ini.


Kami pun bergegas untuk mencari tempat makan untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan. Setelah memesan kami pun menunggu pesanan sambil anteng memainkan handphone, dan status WhatsApp Juna masih juga belum berubah , membuatku sedikit gelisah takut terjadi sesuatu padanya.


"Kenapa? masih belum ada kabar dari doi?" Tanya Dena yang melihat raut wajahku lemas dan meletakkan handphone dengan sedikit kesal di atas meja.


Aku hanya bisa mengedikkan pundak dan melepas nafas berat untuk melepas kekesalanku.


"Makannya, jangan terlalu bucin nona cantik.Siapa tahu aja kan dia lagi ... " Kata Dena terhenti saat membuka bungkusan buku yang dibeli nya tadi.


"Eh, ini apa deh . Perasaan gue ga beli buku ini deh, di ." Ujarnya sambil mengulurkan sebuah buku yang sepertinya aku kenal.


Buku yang tadi aku pegang dengan lelaki asing di toko buku . Ada secarik kertas kecil bertuliskan,


* Hai, ini bukunya bisa kamu baca duluan, tapi jangan lupa kembalikan saat sudah selesai ya!


Tommy. *


begitu kira-kira yang tertulis, membuatku kaget karena aku sudah berusaha kabur tapi tetap saja buku ini mampir di tanganku.


"Eits, apasih sini liat!" Tangan Dena gercep merebut kertas itu dari tanganku.


"Wow, Tommy? ini sih modus baru buat kenalan nih hahahaha , jago loh nih orang kayaknya,Di."


Dena mengembalikan kembali kertasnya padaku.


"Gatau nih , Den. Padahal tadi aku udah nyoba buat kabur, kok bisaan aja ya buat nyempilin ini ditas belanjaan kamu."


"Makannya, gue bilang dia nih master, Diandra!"


tawa kami pun pecah menyadari betapa lucunya sikap si mas yang baru kukenal ini.


Pesanan kami pun datang dan segera saja aku dan Dena menyantapnya hingga tak bersisa.

__ADS_1


Hari mulai gelap, dan masih juga tak kudapati kabar dari Juna.Pria misterius yang membuatku tak bisa tenang seharian ini. Andai saja aku bisa, aku tak ingin selalu memikirkannya, mengkhawatirkannya, karena sungguh membuatku hampir frustasi dan lelah dibuatnya.


***


Tiga hari berlalu, dan masih saja kabarnya tak muncul. Hampir setiap menit setiap selesai, mandi, makan, bahkan sebelum dan setelah bangun tidur pun pandanganku tak lepas mematut pada layar handphone, berharap orang yang entah dimana sekarang itu berada mengabariku hanya sekedar menyapa. Setidaknya, biarkan aku tahu kalau dia baik-baik saja!


Beberapa kali bahkan aku coba untuk melakukan aktivitas menyibukkan diri dengan membaca buku, belajar, bekerja , bahkan berlari di sore hari yang tak pernah kulakukan sebelumnya , demi membuat hati ini tenang tanpa memikirkannya.


Tapi tetap saja, setelah semua rutinitas kulakukan otak dan hati ini tak bisa lepas memikirkan satu nama itu.


Dan seperti sore ini, kucoba membuat lelah tubuh dengan berlari disekitar komplek perumahan tak jauh dari tempat kosku.


Berhenti sejenak dibawah rindang pohon yang teduh dan meneguk air mineral yang kubekal untuk melepas lelah sejenak.


Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiriku dan mengulurkan handuk kecil padaku.


"Loh, kamu?!" kudapati wajah tak asing itu tersenyum manis padaku sembari mengulurkan handuk kecilnya padaku .


"Nih, buat lap keringet. Kebetulan banget ya kita ketemu lagi." sapanya sambil duduk tepat di sampingku.


"Eh, i-iya makasih! Tapi, kok bisa sih ada di sini?Dan ohiya buku yang kemarin ... "


"Iya, gapapa simpen aja kalo emang belum selesai bacanya, santai aja. Dan gue emang biasa lari disini , Lo sih yang asing kayaknya baru liat gue soalnya." Ujarnya menatapku penuh tanya.


"Hehehe, iya. Emang baru kali ini sih, tapi ternyata lari seru juga meskipun capek." Jawabku sambil mengelap keringat dengan handuk yang diberikannya.


"By the way, gue belum tau nama lu siapa? Gue Tommy, lengkapnya Tommy Rahardian, dan gue juga anak komplek sini. Kalo Lo?"


"Diandra, aku bukan anak komplek sini sih.Tapi anak Ibu yang sedang merantau demi mengejar cita-cita." Jawabku , tanpa jabat tangan seperti orang kebanyakan jika berkenalan, Tommy pria dengan perawakan tinggi besar yang duduk di sampingku pun tertawa mendengar lelucon garingku itu.


Dan seiringnya waktu tak terasa sudah hampir setengah jam lebih kami mengobrol tentang lelucon garing dan orang yang lalu lalang.


Tommy, tipikal pria humoris dan cukup menyenangkan bisa mengobrol bersamanya.


Tapi aku harus segera pamit pulang karna hari mulai menuju petang.


Kami pun berpisah karena arah pulang yang berlawanan. Handuk kecil yang tadi kugunakan tak sempat aku kembalikan, lagipula bau keringatku juga, next time akan ku kembalikan dalam keadaan wangi dan bersih, juga dengan buku yang dipinjamkannya. Ah aku baru ingat , tinggal beberapa halaman lagi yang belum aku selesaikan.


Setelah selesai membersihkan badan, aku pun teringat dengan buku yang dipinjamkan Tommy, baiklah akan ku selesai kan agar segera kembali pada pemiliknya.


Karena terlalu lelah, mataku pun tak terasa telah terpejam dengan sendirinya .


Handphoneku berdering, tapi lelah mengalahkan segalanya dan membuatku pulas terlelap.


My own calling ...


***


"Jangan biarkan orang yang kamu sayangi terbiasa tanpamu , atau kamu yang mungkin saja akan dipaksa juga untuk terbiasa tanpanya ".

__ADS_1


Diandra putri.


__ADS_2