Dilema Diandra

Dilema Diandra
Pertemuan kedua


__ADS_3

Hari terasa lebih hangat pagi ini, selepas hujan yang turun beberapa hari terakhir di Bandung . Dan karena hari Minggu adalah hari dimana tidak ada kelas kuliah untukku , biasanya membantu Tante Ira di toko bunganya adalah rutinitasku, tak terkecuali hari ini. Meskipun hanya freelance tapi pekerjaan di toko bunga adalah favoritku, selain bertemu bunga-bunga indah dan wangi, mengantar pesanan bunga kepada pelanggan pun menjadi kegiatan yang menyenangkan. Tapi tentu saja, siang ini pun aku harus bergegas kembali ke cafe kemarin untuk memastikan bahwa diaryku aman dan berharap tidak ada yang membacanya . Astaga , membayangkannya membuatku bergidik takut kalau saja ada yang membacanya dan menertawakan isi diaryku. Arrghhh .... !


"Di .... Diandra!" Suara cempreng Tante Ira mengagetkanku.


"Eh, i-iya! Ada apa tan," jantungku rasanya mau copot astaga !


"Kamu ini kenapa sih, pagi-pagi kok sudah melamun! Ga baik tau anak perawan melamun.Nanti kesambet hayoloh!" Kini logat bicara sedikit centil dengan ciri khasnya menggodaku .


"Eh, a ... nu, engga kok Tan, aku ga melamun.Ada apa tan?" tanyaku mengalihkan


"Ini, ada pesanan tolong diantar ya!Seperti biasa alamatnya sudah Tante catet , kalo ga ada orangnya telpon Tante aja ya!" ujar Tante Ira sambil memberiku sepucuk kertas dengan alamatnya.


"Siap!"


"Eh, jangan lupa minta tanda terima yah!"


"Iya, Tante Ira ku yang cantik!"


"Bagus, good girl ." Ujarnya sambil memberika jempol untukku dengan gayanya yang sedikit centil tapi lucu.


Tante Ira adalah adik dari Ibu kos ku yang kebetulan memiliki toko bunga, dan hanya memiliki dua orang pegawai tetap.Dan aku pegawai freelance nya yang hanya bekerja khusus dihari Minggu, karena biasanya hari Minggu kedua pegawainya Tante Ira diberi libur . Meskipun pembawaannya centil , ceria dan terkadang cerewet, tapi Tante Ira adalah wanita yang kuat dan tangguh. Buktinya saja dia bisa membesarkan kedua anak lelakinya seorang diri setelah almarhum suaminya meninggal dunia tepat saat anak keduanya berusia 2 tahun. Dan sekarang kedua anaknya telah beranjak dewasa, Andi , anak sulungnya yang kini berusia 17 tahun, dan Aji , anak keduanya yang berusia 10 tahun.


***


Akupun menjalankan sepeda motor dan membawa sebuah bingkai bunga mawar putih segar yang sangat cantik. Orang yang menerimanya pasti sangat beruntung !


Jalanan pagi ini cukup sepi, tak seramai biasanya membuatku leluasa mengitari jalanan kota Bandung. Yah, kota kelahiranku ini memang cukup sibuk setiap weekday dikarenakan salah satu kota yang aktif dan produktif. Tapi inilah yang membuatku nyaman tinggal disini meski harus jauh dari Ayah dan Ibu yang tinggal di Lembang .


Tak terasa sepeda motorku sudah memasuki area komplek perumahan . Sesuai alamat yang diberikan Tante Ira.


Perumahan dengan rumah mewah berjejer dengan rapih dan bersih.

__ADS_1


Beberapa security penjaga gerbang menanyaiku terlebih dulu sebelum memberiku ijin masuk, penjagaan yang cukup ketat mengingat pemilik hunian komplek perumahan ini bukanlah orang sembarangan.


Setelah melewati beberapa baris rumah akhirnya aku menemukan alamat rumah yang pas dengan alamat yang diberikan Tante Ira.


Rumah mewah dengan desain klasik dikelilingi pagar yang cukup tinggi. Setelah menemukan bel, aku pun mencoba memencetnya. Tak lama kemudian seorang ibu paruh waktu keluar menghampiri dan bertanya maksud dan tujuanku. Selang tak berapa lama muncul seorang wanita muda cantik nan anggun datang menghampiri sambil bertanya , dan saat tahu bahwa kiriman bunga yang datang ia terlihat sangat amat senang hingga berlari menghampiriku untuk segera mengambil bunga yang ku pegang.


"Wah, cantiknya! Masih seger lagi! Makasih ya!" tuturnya lembut saat menerima Bunga dariku .


Setelah menyelesaikan tanda tangan dari penerima pun aku segera bergegas pulang memutar balikkan sepeda motorku.


Baru saja ku kenakan kembali helm, terdengar suara berat lelaki yang seperti tak asing ditelingaku. Seperti sedang bertanya, samar-samar terdengar olehku, seperti sedang bertanya perihal bunga yang baru saja ku kirim . Karena penasaran aku pun mencoba memberanikan diri menoleh sebentar , dan ... boom! Wajah dengan senyum teduh itu?!


Hampir gila aku dibuatnya! Bagaimana tidak? hampir setiap waktu aku seperti terus dipertemukan dengannya, namun tak diijinkan untuk sekedar bertemu bertegur sapa, dan membuat kembali teringat penyesalan karena tak sempat berkenalan dengannya kala itu. Kalau saja aku tahu namanya!


***


Setelah kembali dan memarkir sepeda motor ditempatnya , aku pun bergegas masuk . Tapi , seperti ada suara tak asing yang kudengar saat akan masuk toko bunga Tante Ira , Yah tentu saja suara sahabatku, Dena. Gadis yang semalaman kutemaninya menangis kini telah kembali menjadi gadis yang ceria lagi, terlebih dia sangat nyambung sekali saat mengobrol dengan Tante Ira yang memang cukup menyukai Dena yang notabene humble .


"Kok kamu disini , den?" tanyaku sambil meletakkan helm di meja .


Aku sebenarnya tak terlalu gemuk, hanya saja untuk bagian pipi memang sedikit kurang ajar dan membuat siapa saja ingin mencubitnya, terutama Dena!


"Ish, sakit Den!" ujarku menghempaskan tangannya


"Yauda, daripada berantem mending bantuin Tante sini rangkai bunga!" Ajak Tante Ira


"Males ah, gue ga suka bau bunga!" decak Dena seraya berlalu . Dena memang tak suka wangi bunga, terlebih saat Ibunya pergi tanpa pamit .


Karena aku adalah pegawai, yah tentunya mau tidak mau harus membantu Tante ira, lagipula aku suka wanginya bunga apalagi yang masih fresh .


Ditengah kegiatanku memetik duri pada tangkai bunga, aku pun teringat harus mencari diary ku yang ketinggalan kemarin.

__ADS_1


Setelah meminta ijin Tante Ira untuk pergi sebentar, aku pun bergegas menuju cafe kemarin bersama Dena , tentunya.


Dan, benar saja diaryku tertinggal dan beruntung pelayan cafe sangat bertanggung jawab dan menjaga privasi diaryku. Aman dan utuh!


Tapi, tak disangka salah satu pelayan cafe adalah teman sekolah menengah ku dahulu.


Andrian syiam atau yang kukenal dengan nama Iamm, salah satu teman favorit ku yang memang memiliki pribadi baik dan ramah, juga salah satu teman yang selalu membantu saat aku butuhkan. Tak disangka kami kembali bertemu setelah sekian lama. Tak banyak yang berubah darinya, masih sama tampan dan kalem. Setelah cukup berbasa basi dan aku pun harus kembali bekerja, aku pun bergegas kembali ke toko bunga Tante Ira .


Baru saja badanku berbalik , tiba-tiba saja wajahku menabrak seseorang dan membuat kepalaku sakit karena terkena tabrakan yang cukup membuat kaget.


"Eh, ma ... maaf. Kamu gapapa? Ada yang luka?" Tanya si penabrak khawatir .


Yah, beruntungnya kepalaku tak apa, hanya sedikit sakit dan kaget .


"I-iya, gapapa kok!" balasku seraya memijat bagian kepala yang sakit.


'Eh , tapi kok suaranya ga asing ya!' gumamku dalam hati


"Biar saya obati dulu lukanya, ya!" Ajaknya


Aku yang merasa lukanya tak seberapa, bahkan mungkin tak ada luka, hanya sedikit sakit karena terbentur kancing jaketnya yang cukup tebal dan keras.


"Engga usah, saya ... " kataku menggantung dengan ekspresi melongo melihat wajah tak asing di hadapanku kini.


"Kamu ... "


"Ya?" tanyanya heran melihat wajahku melongo memandanginya.


'Astaga! Demi apapun aku akhirnya bertemu dengan pria berwajah teduh itu, oh God!'.


Cukup lama kami terdiam, sampai akhirnya aku sadar bahwa jodoh memang tak kemana, babe!

__ADS_1


Bisa kalian bayangkan betapa bahagianya aku?!


***


__ADS_2