
Setelah insiden menyenangkan itu, hari-hariku menjadi terasa lebih hidup. Bagaimana tidak?! Pria yang selama ini selalu jadi hantu dalam pandanganku, akhirnya benar-benar menjadi sosok nyata yang kukenal dengan sedikit jelas. Yah , setidaknya aku tahu siapa namanya, apa pekerjaannya, dan dimana dia sedang menempuh pendidikan nya kini. Dan ternyata yang membuat aku sangat bahagia adalah, karena kami satu kampus! Tak heran jika saat itu, dia sempat memberikan payungnya padaku, karena memang kami sebenarnya sering bertemu tapi tak saling mengenal dan jarang sekali berpapasan. Ternyata benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang!
Tante Ira dan Dena memandangiku aneh , ya karena sejak pulang dari cafe tadi aku tak henti-hentinya tersenyum sendiri seperti orang kesambet . Tapi , aku juga tak bisa menyembunyikan betapa bahagianya hati ini.
"Den, temanmu itu kenapa sih? Takut Tante ih..."
bisik Tante Ira pada Dena yang asik saja memainkan handphone nya .
"Tau deh, kesambet kali!" jawab Dena tak peduli.
Karena penasaran, Tante Ira pun menghampiriku dan bertanya.
"Diandra ku sayang, sadar ya nak' jangan suka senyum - senyum sendiri, serem tau!" Tante Ira menepuk pundakku hendak menyadarkan khayalanku.
"Eh, gapapa kok, Tan ..." jawabku gelagapan , ternyata sedari tadi aku diperhatikan, ya Tuhan!
"Hmmm... yauda, jangan banyak ngelamun yah, kalo ada apa-apa cerita aja sama Tante ."
"Iya, tanteku sayang."
Tante Ira pun berlalu meninggalkanku untuk melakukan pekerjaannya yang lain.
Tiba-tiba saja handphone ku berbunyi tanda pesan masuk. Kebahagiaanku semakin pecah saat tahu bahwa orang yang sedang kubayangkan ternyata mengirimiku pesan singkat namun mampu membuat hatiku meledak.
'Hallo, ini Juna. Save ya'
"Aaargghhhh ... !!!" spontan aku berteriak kegirangan dan membuat orang yang berada di toko kaget bukan main.
"Astaga , Diandra!" bentak Dena kaget .
"Oops, sorry." kembali ku kontrol hati ini dan berusaha tenang. Huft ...
__ADS_1
Arjuna perwira Mahendra, nama yang terngiang-ngiang dalam otakku saat ini . Nama yang kusimpan dalam memori handphone dengan username "my own"
Entahlah meski namanya cukup gagah dan bagus, aku hanya ingin mengenalnya sebagai seseorang yang istimewa dan kuputuskan untuk menamainya sedikit unik dan berbeda. Semoga tidak hanya my own, kamu kelak bisa menjadi be mine , arrghhh ....
***
Satu bulan berlalu, hampir setiap hariku habiskan hanya untuk menunggu balasan chat darinya walau hanya sekedar say hai atau bercerita hal-hal simple yang kami lalui hari ini.
Hidupku pun hampir 50% berubah drastis, dari yang pendiam , kini aku lebih sering tersenyum dan menyapa orang - orang yang kulalui dan kutemui. Rasanya jalan hidupku lebih berwarna dan indah, terlebih saat mendengar suaranya walau hanya sekedar lewat sambungan telepon. Karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan dan kelas kuliah masing-masing , kami jarang bertemu , hanya jika sesekali aku iseng sengaja belajar di cafe tempatnya bekerja bersama iamm teman SMA ku.
Terkadang , aku aneh sendiri dengan diri ini . Apa benar aku jatuh cinta? Atau hanya sekedar kagum? Entahlah , yang jelas ini adalah pertama kalinya aku tahu, bagaimana rasanya seseorang hadir dan menjadi penyemangat hidup setelah Ayah dan Ibu .
Meski begitu, Juna sosok yang masih misterius bagiku . Tak banyak yang aku tahu tentangnya, seperti , siapa Ayahnya? Ibunya? saudaranya? apakah dia anak tunggal? Tak banyak yang kutanyakan perihal itu, karena selama dia tak memberitahuku , selama itupun aku tak ingin bertanya , takut jika dia akan merasa bahwa aku terlalu membosankan .
Begitupun sebaliknya, hal-hal yang dibicarakannya tak pernah menyinggung perihal siapa keluargaku? Apa yang dilakukan Ayah dan ibu? Apakah aku anak tunggal?
Yah, mungkin kami hanya merasa sudah cukup nyaman jika hanya sekedar membahas hal yang lebih menyenangkan ketimbang interview perihal keluarga .
Aku bahagia dan nyaman, tapi apakah Juna pun merasakan hal yang sama?
***
"Emang Lo yakin, sama my own Lo itu, Di?"
tanya Dena saat ku ceritakan perihal perasaanku pada Juna.
"Gatau, yang jelas bahagia aja sih kalo denger suaranya, baca chat nya, apalagi ketemu orangnya , hehehe ..."
"Dih, emang ya! Cinta itu bisa bikin orang gila!"
"Hush, gue ga gila , Dena! Cuma ..." ucapku menggantung karena bingung mencari kosakata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku pada Juna.
__ADS_1
"Cuma ga waras!" Dena menyambung kataku dengan gaya nya yang sewot.
Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar sahabatku ini kesal dengan sikapku yang berubah drastis , meski begitu Dena bahagia jika aku bahagia, hanya saja dia tak habis pikir dengan aku yang tidak mencoba mencari tau tentang bagaimana Juna sebenarnya dan apakah cintaku bertepuk sebelah tangan? Aku merasa kami punya rasa yang sama terlihat dari bagaimana dia intens membalas chatku dengan fast respond dan memberi penjelasan jika sedang sibuk.
But , I don't care . Bagiku selama Juna yang kukenal adalah pria mengagumkan yang intens memberi perhatiannya pada ku selama itupun aku tak peduli siapa dirinya.
***
My own calling ....
"Bisa ketemu sebentar? Ada yang pengen aku obrolin, Diandra." ucap pria diseberang telepon
Tanpa pikir panjang, aku pun mengiyakan.
Lima menit berlalu, tanganku berkeringat dingin dan gugup, bahkan hampir tiap detik kulirik jam di handphone karena merasa tak tenang.
Kami memang sering bertemu, tapi untuk pertama kalinya Juna mengajakku bertemu di cafe tempatnya bekerja sekaligus tempat dimana pertama kali aku tau namanya, saling berkenalan dan berakhir hingga sekarang.
Tampak dari jauh, seorang pria gagah dengan setelan kasual datang menghampiriku, yah dialah orang yang membuatku gugup tak karuan sejak tadi. Wajah tampan dengan senyum teduh nya. Arrghhh ...
"Sorry, udah lama?" Sapa nya menghampiriku dan duduk tepat didepanku.
"Engga kok , " jawabku ragu karena terlampau gugup.
"Diandra putri, " suara beratnya memanggil nama lengkapku untuk pertama kalinya .
"I-iya, " jawabku kaget .
"Aku sayang kamu."
Satu kalimat yang mampu membuat ku diam membeku dan segala rasa dalam diri membuncah tak karuan. Seperti mimpi yang menjadi nyata , sampai membuat bibirku kelu tak sanggup berucap dan hanya menangis haru karena terlampau bahagia. Kalau saja waktu bisa ku hentikan, aku ingin tetap bertahan di detik ini menit ini jam ini dan waktu ini, selamanya.
__ADS_1
12 Mei 2020
***