
"Yang sabar ya fii," ucap sandara dengan nada lembut tak lupa tangannya pun mengelus pundak fifi.
"iya san, gue udah biasa dikaya giniin sama kakak gue." fifi pun mulai meneteskan air matanya perlahan, terkadang ia memang lebih memilih menangis daripada harus ditahannya. Rasa sesak didada terus saja menghatam hatinya jika iya mengingat hal hal seperti itu.
"udah dong jangan sendih ntar ga cantik lagii noh." sandara memang sudah paham betapa susahnya hidup fifi jadi sebisa mungkin sandara memang selalu berusaha menghibur fifi. "nah berhubung lagi jam kosong, gimana kalo kita ke kantin, " bujuk sandara dengan girang, mengingat sudah satu jam pelajaran mereka mengerjakan tugas dan masih ada 1 jam yang tersisa tanpa kehadiran guru mapel.
"Ya udah ayok, kebetulan gue juga haus pengin yang seger seger nih." ucap fifi sembari menghapus air matanya. Mereka berdua pun bergegas menuju kantin, sesampainya dikantin sandara dikejutkan dengan kehadiran Dio dan Raka yang tengah asik bercanda dengan ditemani ice cappuccino dimeja masing masing.
"ehh sayang, ngpain disini." tanya dio sembari menarik tangan sandara. Sandara pun hanya membalas dengan mencubit kecil lengan dio. "aww" rintih dio.
"ini tu sekolahan dio, jangan panggil sayang dong," bisik sandara yang sudah duduk disebelah dio. Sementara Raka hanya memandang fifi intens yang tengah memelih menu ice kesukaan nya.
"iya iya deh maaf, lagian lu aku chat ga dibales bales." tanya dio heran pada pacarnya itu. Sandara pun mulai melepaskan pegangan tangan dio.
"ya lu lagian dari kemaren sibuk terus,ya bete lah makanya aku ga bales." rengek sandara pada dio, dengan wajah yang cemberut. Dio pun mulai mencubit kecil pipi sandara dengan gemas.
"iyaa maaf kemaren tu emng banyak tugas, nih tanya aja sama raka. Ya kan rak." Dio menyenggol bahu raka.
"hahh.."ucap raka kaget. Raka memang dari tadi hanya memperhatikan fifi yang tengah menunggu minum nya itu.
"ngapain lu liatin temen gue?".tanya sandara heran dengan sedikit tertawa.
"emng kenapa? ga boleh gitu." ucap raka pelan. Fifi pun mulai menghampiri sandara dengan yang lain.
"nih minuman lo." ucap fifi sembari menyodorkan kan ice pop kesukaan sandara. Fifi pun ikut duduk disebelah sandara.
"tadi raka ngeliatin lo terus tau, " ungkap sandara pelan ditelinga fifi. Fifi pun perlahan mulai menatap Raka yang juga tengah menatap fifi. Fifi pun mulai memalingkan wajahnya menatap pemandangan kantin sembari menghilangkan rasa gugup nya karna mata mereka saling menatap dengan intens.
__ADS_1
"Fii ntar pulang sekolah gue anterin yah" tanya raka yang seketika membuat fifi memalingkan pandangan kepada Raka.
"ehh ngga papa kebetulan nanti fifi pulang sendiri inih," sahut sandara dengan lantang. Fifi pun kembali menatap sandara dengan gemas serasa ingin membungkam mulut sandara.
"beneran nih ga papa fii? " tanya raka semangat. Fifi pun mengangguk tanda setuju.
"iya ka ga papa". Fifi sebenarnya sedikit canggung karna emng sudah dari beberapa bulan lalu Raka mencoba mendekati fifi tapi fifi hanya menganggap nya biasa saja, karna memang sekarang fifi belum terlalu memikirkan persoalan pacaran.
"Asikk nih keknya bentar lagi ada yang mau jadian nih", seru sandara sembari menatap keduanya. Dio pun hanya melirik raka sembari tertawa kecil melihat tingkah temanya yang mencoba mendekati teman pacarnya itu.
"berarti kapan kapan kita bisa double date dong, " ucap sandara semangat. Fifi yang mendengar nya pun sontak langsung mendongakan kepalanya ke arah sandara sembari menyeruput ice nya.
"sannn apa an sii jangan gitu ah." ucap fifi malu. Raka pun hanya tersenyum sumringah mendengar ucapan fifi.
"ehh fii, siapa tau kalian ntar emng bener jadian kan, ya ga rak." sahut dio kepada fifi.
"tuh kan raka aja udah ada niatan terselubung." sambung sandara yang menahan tawa. Fifi pun yang mendengar hanya bisa menahan malu,pipinya pun mulai merona akibat celotahan teman teman nya. Mereka pun akhirnya mulai berbincang bincang dengan diringi tawa tawa kecil diantara mereka ber empat. Hal ini lah yang membuat fifi sedikit bisa menghilang kan rasa sesaknya didada.
################
Perlahan fifi mulai melangkahkan kakinya menuju raka yang sudah menunggu didepan gerbang sekolah mereka. Perasaan dag dig dug terus saja menghampiri fifi, karna memang inu pertama kalinya fifi pulang bersama teman laki laki nya. Sesampainya didepan raka, raka pun hanya tersenyum melihat fifi yang sedikit gugup itu. Terlihat jelas karna sedari tadi pandangan raka hanya menatap fifi yang berjalan ke arahnya.
"ayok pulang ka," ucap fifi gugup. Raka pun tersenyum mendengar fifi.
"inii dipake dulu helm nya fii," ucap raka sembari menyodorkan helm. Tak butuh waktu lama fifi pun mengambil helm dari tangan raka kemudian mengenakanya dikepala fifi. Fifi yang nampak gugup itu pun tanpa sadar ia belum mengancingkan pengaman helmnya.
"bentar fii," sembari menarik tangan fifi untuk mendekat kepada raka. Fifi yang menyadari hal itu hanya diam saja sembari membulatkan matanya menatap raka yang mencoba mengancingkan pengaman helmnya.
__ADS_1
"udahh selesai. " ungkap raka sembari mengelus puncak kepala helm fifi. Fifi pun hanya bisa tersenyum malu melihat kelakuan raka itu. Perlahan fifi pun mulai menaiki motor Klx raka itu. Untung saja rok fifi yang tidak terlalu panjang itu bisa sedikit menutupi pahanya.
Di perjalan pulang fifi pun hanya diam mematung sembari menikmati angin dijalanan kota Jakarta itu. Tiba tiba saja tangan raka menarik tangan fifi untuk perpegangan dipinggang raka.
"engga papa ka gue pegangan baju lo aja udah cukup." ucap fifi gugup.
"pegangan pinggang gue aja fii, biar lebih aman." ucap raka yang lagi lagi menarik tangan fifi untuk melingkar kan tangan nya berpegangan pada raka. Fifi pun perlahan hanya mengikuti gerakan tangan raka, sampai akhirnya tangan fifi sudah melingkar dipinggang raka.
"Raka kenapa lo mau nganterin gue pulang? tanya fifi untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
"yaa gue pengin aja, gue juga pengin kenal lo lebih fii." ungkap raka yang membuat fifi lebih gugup lagi. Fifi pun hanya diam mendengar pernyataan raka tadi.
Tanpa sadar akhirnya meraka sudah sampai di depan rumah fifi. Dari dalam rumah sudah muncul ibu mia yang tak lain adalah ibu fifi. Fifi pun bergegas turun untuk menghampiri ibunya diikuti dengan Raka.
"assalamualaikum bu," tak lupa fifi bersalaman dengan ibu nya yang juga diikuti raka. "oh iya bu ini raka temen fifi," sembari menujuk raka untuk mengenalkan pada ibunya itu. Bu mia pun hanya tersenyum melihat raka.
"Bu raka langsung pamit pulang yaa," ucap raka dengan sedikit gugup.
"loh ga mau mampir dulu raka," tanya Bu mia pada raka. Melihat hal itu fifi hanya heran dengan sikap ibunya, fifi pikir ibunya akan memarahi raka dan juga dirinya.
"engga bu mungkin kapan kapan bu kalo boleh, " ucap raka dengan senyuman hangatnya.
"ohh iya udah ga papa, hati hati ya dijalan." Bu mia pun langsung pergi untuk masuk kedalam rumah.
"makasih ya udah nganterin aku pulang." ucap fifi sembari tersenyum pada raka yang hendak pergi.
"iyaa fii, gue balik dulu ya" . Raka pun mulai mengatur motornya untuk meninggalkan rumah fifi.
__ADS_1