
Suasana kekeluargaan nampak didalam ruang tamu Dika ayah raka, sembari menyeruput teh hangat miliknya.
"pah, gimana nanti raka mau dikulain kemana?" tanya Nila ibu raka.
"papah ingin mengirimnya keluar negeri mah" ucap dika sembari meletakan cangkir teh nya.
"tapi apa raka setuju pa?"
"itu harus maa,karna nanti nya dia juga yang bakalan gantiin papa nerusin perusahaan.
"hemm baik lah pa?" Nila pun hanya menghembuskan nafas pasrah terhadap keputusan suaminya itu.
Sementara disekolah, Fifi masih saja memain kan ponselnya disebelah motor raka.
"raka belum dateng fi" tanya sandara.
"hemm belum san"
"padahal tadi dia yang semangat keluar duluan" sambung dio.
"benarkah" ucap fifi heran, lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali pada layar ponselnya, ya begitulah raka belum juga mengabarinya.
"fii maaf yaa kita cabut duluuu, ga papa kan" ucap dio.
"iyaa fii lo ati ati yaa" imbuh sandara yang sudah duduk nyaman diatas motor.
"iyaaa, kalian hati hati lah dijalan. Mereka berdua pun berlalu pergi meninggalkan fifi sendiri
"loh fii ngapin disini" tanya didik heran pada fifi,
" ehh lo dik, iya ini gue lagii..belum sempat melanjutkan kalimatnya sudah dipotong oleh raka.
"lagiii nungguin gue,ucap raka yang sedang berjalan kearah fifi sembari menepuk pelan pundak didik.
"kalian pacaran?"
"hah, ehhh engga dik" ucap fifi.
"belummm" sambung raka dengan nada tegas.
"ohh gitu, berarti gue masih ada lampu ijo kan fii hehe"
"apaan si lo ikut ikut ajaa, dah sana pulang lu" seru raka yang mulai menatap tajam didik. Didik pun hanya membalas dengan senyum semringai sembari menaikan kedua pundaknya.
"gimana? dah lama kan kitaa ga kesini"
"iyaaa, ahhh (fifi menarik nafas panjang) seger bngt udaranya"
__ADS_1
"makanya aku ngajak kamu kesini biar kamu bisa ngelupain suasana rumah sakit, ahh pasti pengap bukan"
"hehe terimakasih yah"
"ayo duduk" raka menarik fifi untuk duduk dikursi kesayangannya itu,
"aku masih ingat saat dulu kamu bawa aku kesini untuk pertama kalinya, apa mksd kamu cium kening aku?" tanya fifi
" ehh kenapa tiba tiba tanya gitu?" tanya raka heran.
ehh iyaa yaa ngapain gue tanya hal itu! batin fifi sembari memalingkan wajahnya malu.
"fiii, kamu itu spesial buat aku mungkin sekarang emng kita ga bisa pacaran seperti yang kamu mau tapi nanti aku akan berusaha buat kita buat hubungan kita lebih berarti" ucap raka sembari memegang kedua tangan fifi
"kenapa aku? kenapa bukan orang lain? banyak yang lebih dari aku" ucap fifi sembari menatap mata raka.
"kamu itu lebih dari cukup" sembari mengelus puncak kepala fifi. Yaa tentu saja fifi hanya bisa tersenyum merona.
"udah jam mau jam 3 ayo balik" ucap raka.
"eh iyaaa"
####
"fii nanti mau kuliah dimana kamu?" tanya ayah fifi disela sela makan keluargaa.
"udah nentuin jurusanya" sambung ibu mia.
"udah maa, fifi pengin ngambil manajemen bisnis. Oh ya nanti fifi pengin kuliah sambil kerja mah kaya kak ela ga papa kan"
"dihh mantep banget nih kayaknya" sambung kak ela.
"ngga papa asalkan kamu serius kuliahnya paham" ucap ayah fifi.
"siap pahh"
semoga kamu bisa buat mama sama papa bangga fii, batin kak ela.
"ela gimana sama kerja kamu" tanya ayah
"baik baik aja pa, sekarang emng lagi sibuk bngt makanya ela berangkatnya pagi terus"
"ingat kerja yang bener, inget papa sama mama udah tua lo"
"papa ihhh ela aja belum bisa buat mama sama papa bangga, udah ngomong gitu aja"
"sayang, mama sama papa itu bangga sama kalian bertiga" sambung ibu mia
__ADS_1
"iyaa maa makasih ya udah ngertiin ela"
"hayoo lo kak, kaka kan udah tua kapan nih mau nikah"
"shuttt, anak kecil ngomong nikah nikah aja lu"
"hehehe"
"kalian iniii" ucap ibu mia.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hingga hari yang ditunggu tungu pun datang. Yaa hari kelulusan fifi dan lainnya tentunya, mereka semua sudah bersiap rapi dengan pakaian kebaya brukat yang cantik untuk siswi wanita sedangkan untuk laki laki mengenakan setelan jas.
"ehh fiii ayo kitaa foto duluu buat kenang kenangan" tarik sandara sembari memeluk sebelah pundak fifi.
"hey sayang, aku ga diajak nih foto" ucap dio yang berjalan menghampiri sandara dan fifi, tentu saja disebelah dio berdiri seorang raka yang sedang memegang bungaa yanh sudah dirangkai dengan sangat cantik.
"ehh sayang," menarik lengan dio manja.
"inii buat kamu, pacar aku yang paling cantik" sembari menyerahkan buket bunga.
"ahh makasih sayangku" cuppp sandara mencium pipi dio dihadapan raka dan fifi.
"fiii ini buat kamu" menyodorkan buket bunganya.
"makasih rak"
"ehh ayo kita foto bareng ber empat, trs nanti kita foto dua dua bareng pasangan masing masing" ucap sandara semangat.
Fifi yang masih nampak malu malu pun memberanikan diri menggandeng tangan raka saat sesi foto itu. Senyum manis nya pun tak luput iya pancarkan.
Sementara itu suasana nampak tegang dirumah raka.
"paa raka baru aja lulus, masa iya harus secepet ini pergi keluar negerinya"
"raka papa sudah mepersiapkanya sejak minggu lalu, kamu itu cuma tinggal berangkat ajaa sayang"
"paa, harusnya papa bilang dong dari kemarin, Raka belum pamitan pah sama temen temen raka"
"Raka papa sama mama itu pengin kamu fokus kuliah di inggris, masalah temen ntar papa yang bilang sama dio. Oh ya satu lagi papa udah ganti hp kamu selama buat disana, nanti di sana ada asisten Tio yang akan membantu kamu."
"Paaa Maa" teriak raka sedih
"sayang , kamu ini anak mama sama papa satu satunya kamu juga nanti nya yang akan gantiin papa jaga perusahan. Kamu ga kasian liat papa kerja keras buat masa depan kamu" sambung mama raka.
"Udah sekarang kamu berangkat aja kebandara, asisten tio sudah nunggu kamu didepan"
Dengan berat hati raka pun melangkahkan kakinya keluar untuk pergi kebandara, didalam mobil pikiranya kacau dan tak henti henti nya memikirkan fifi
__ADS_1
Bagaimana caraku menghubunginya, bagaimana jika fifi mencariku, kenapa juga papa tiba tiba seketat itu padaku.. Batin raka.