
"manaa siih ni anak udah mau jam 7 juga belum dateng dateng tumben bngt" ucap sandara dengan sedikit kesal. Dari tadi ia coba menghubungi fifi namun tidak aktif jugaa. Kriinggg kringggg suara lonceng berbunyi tanda masuk kelas tibaa.
"ihh fifi ko ga masuk si, apa dia telat tapi ko ngga ngabarin yah" ucap sandara heran. Tak lama walikelas pun masuk ke ruang kelas.
"Selamat pagi anak anak"
"Pagii bu" jawab murid serentak.
"Hari ini ibu mau menyampaikan kabar duka, teman kita Fifi laraswati mengalami musibah tadi malam, di kecelakaan di jalan dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Tadi pagi orang tuanya berhubungin saya.
"haaaa" jawab sandara sembari bangkit dari duduknya karna kaget mendengar penjelasan walikelasnya itu.
"kenapa sandara? "
"Bu saya boleh ijin jenguk gaa bu? " ucap sandara khawatir.
"Tentu saja boleh tapi nanti pulang sekolah, mengerti! "
Sandara masih saja tidak percaya dengan apa yang dialami fifi, baru kemarin mereka pergi bersama tapi dipagi hari ini justru sandara mendapatkan kabar duka seperti inii. Setelah walikelas pergi fifi pun langsung menghubungi dio untuk bertemu di kantin sekolah.
"Dio.. fifi kecelakaan " ucap sandara sedih.
"Apah!! Kecelakaan? dimana? kapan? " tanya raka dengan penuh khawatir.
"semalem"
"gimana ceritanya, bukanya semalem kita nganterin fifi bareng slamat sampai tujuan" sambung dio.
"ngga tau sayang, tadi walikelas aku bilang fifi kecelakaan tadi malem dan sekarang lagi dirawat dirumah sakit"
__ADS_1
"yaa udah nanti siang kita kesana bareng bareng" sambung raka.
######
"Dok gimana anak saya? " tanya ibu mia pada dokter yang baru saja selesai memeriksa fifi.
" untuk tanda vitalnya semua normal mungkin karna masih syok saja jadi belum bangun"
"tapi anak saya bakalan sembuh kan dok? "
"tentu saja ibu" ucap dokter yang kemudian pergi keluar ruangan.
Tak lama setelah itu fifi perlahan membuka matanya.
"fiii, nak kamu baik baik ajaa? " ucap ibu mia sembari menitihkan air mata
"Apa harus fifi seperti ini dulu baru mama akan menangis untuk fifi, peduli dengan fifi, tadinya fifi pikir lebih baik fifi mati mah untuk apa hidup tanpa kasih sayang orangtua" ucap fifi. Fifi sebenarnya sudah sadar sejak sebelum dokter masuk hanya saja ia malas membuka matanya dan memilih mengingat kejadian tadi malam.
"Bohong!!!!, dimana mama sama papa saat fifi butuh penyemangat, dimana mama sama papa saat fifi butuh diperhatiin kaya mama papa perhatian sama kak ela dan adit, kemana maa? "
"Fii udahh ga usah ngomong kaya gitu sama mama papa" ucap kak ela.
"itu karna kak ela ga pernah ngerasaain apa yanh fifi rasain" ucap fifi yang perlahan mulai menutup matanya kembali.
Sementara itu kak ela tengah duduk termenunh dikantin rumah sakit itu,
"Fii kaka emng ga pernah tau apa yang kamu rasaain, tapi kamu juga pernah ngerasain jadi kaka, jadi anak pertama yang belum bisa ngebanggain orang tua fii, sebenarnya mama sama papa itu begitu membanggakan kamu fii, sikap kamu yang dewasa cerdas jadi buat mama sapa papa kagum sama kamu sampai bangga banggain kamu ke orang lain tanpa kamu tau" batin kak ela, tanpa sadar air mata kak ela mulai keluar perlahan.
####
__ADS_1
"ehh gimana rak, sekarang aja ni kerumah sakitnya" tanya sandara
"iyaa langsung aja, kelamaan klo pulang dulu"
"yaa udah ayok, san buruan naik" sambung dio. Mereka bertiga pun melajukan kendaraan nya menuju rumah sakit ditengah perjalanan raka masih saja memikirkan fifi.
"kenapaa fii, kenapa ini bisa terjadi? apaa yang sebenarnya nya kamu sembunyikan dari aku apa masalah mu fii? apa orang tuamu marah karna kita pulang malam kemarin?" batin raka. Pertanyaan pertanyaan terus saja melintas dipikirannya. Tak lama mereka pun sampai dirumah sakit dan langsung menuju ruangan fifi.
Nampak fifi tengah berbaring tidur dikasurnya dengan ditemani kak ela disampingnya.
"fii berhentilah bersikap bodoh seperti itu, mama sama papa sangat menyayangi asal kamu tau, kamu itu kebanggan mereka. Berbeda dengan kaka, kaka ngerasa masih menjadi beban orangtua, iya memang kaka udah kerja tapi gaji kaka belum mencukupi fii buat ngebantu mama sama papa. Papa perhatian sama kaka itu karna dulu kaka pernah salah pergaulan itu sebabnya papa sekarang lebih perhatian sama kaka tapi bukan berarti papa ga sayang sama kamu fii, mama pun begitu adit sangat manja berbeda dengan kamu yang cerdas dan mandiri. Kaka iri fii liat mama sama papa percaya sama kamu, bangga banggain kamu didepan orang lain. Sementara kaka masih belum mampu fii ngebahagiain mereka." ucap kak ela pelan dengan diiringi air matanya. Tanpa sadar fifi pun mulai membuka matanya, fifi memang hanya pura pura tidur sedari tadii.
"Kak elaa" ucap fifi sembari menatap kosong ke arah langit langit kamar
"fifii... " ucap kak ela sembari menegakan kepalanya keatas.
"mungkin fifi emng bodoh kak, fifi ga pernah tau apa yang terjadi. Fifi hanya memikirkan diri fifi sendiri" ucap fifi sembari menetaskan air matanya. Perlahan fifi mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
"kak fifi minta maaf" ucapnya sembari menundukan kepala nya. Deggg.. kak ela tak percaya dengan apa yang fifi ucapkan tadii. Kak ela pun memeluk fifi
"iyaa kaka juga mintaa maaf". Dibalik pintu ibu mia dan suaminya melihat hal itu dan langsung menghampiri fifi.
"fifi kenapa apa ada yang sakit" ucap ibu mia. Mereka pun kemudian melepaskan pelukannya.
"Maa paa fifi mintaa maaf, fifi salah udah bertindak kaya kemarin maa". Ibu mia pun langsung memeluk fifi.
"engga papa fifi engga papa". Pelukan itu pun diikuti ayah fifi dan kak elaa. Dibalik pintu kamar berdiri tiga sahabat fifi, sandara yang melihat hal itu pun masih tidak percaya. Mereka pun perlahan menjauh dari ruangan tersebut.
"gue masih ga percaya ternyata emng karna masalah keluarga makanya fifi kaya gini" ucap sandara.
__ADS_1
"emang kenapa dengan fifi" tanya raka.
"uwahh ternyata fifi itu pinter bngt yah nyembunyiin masalah." sambung dio.