
Malam hari sudah menunjukan pukul 7 malam, fifi yang baru saja pulang diatar oleh raka pun langsung disambut oleh ayahnya.
"kamu darimana fii!?" nampak raut wajah serius. Fifi dan raka pun bergegas bersalaman secara bergantian.
"abiss main pa, tadii aku juga udah ijin sama mama" ucap fifi
"maaf om saya yang ngajak fifi pergi, tapi kita ga berdua aja kok om adaa temen yang lain juga" sambung raka.
"Sandara pa" sambung fifi.
"udah masuk sana"
"klo gitu saya pamit dulu om" ucap raka sembari memberi salam pada ayahnya fifi. Tak lama setelah raka pulang fifi pun lagi lagi disambut oleh pertanyaan kedua orang tuanya itu.
"main dimana kamu? " tanya ibu mia.
"Di bioskop ma"
__ADS_1
"Anak perempuan kok main sampe malem" tegas ayah fifi.
"ngga malu diomongin sama tetangga apa gimana? " sambung ibu mia
"maa kan tadi ku udah ijin sama mama, lagian ini baru jam 7 maa"
"mau jam berapa pun klo pulang itu ga usah malem malem" ucap ayah fifi
"maa paa.. fifi itu cuma cari angin aja, fifi cape mah tiap hari belajar trs les jugaa"
"lalu apa aku harus pulang pagi pagi kaya kaka.ucap fifi sembari menatap tajam kak ela, "apa aku harus pulang tengah malam kaya adit? aku pergi jugaa ijin dulu sama mama ga kaya kak ela sama adit yang langsung pergi gitu ajaa. Terus sekarang aku pulang jam 7 tapi mama bilang aku malu malu in takut diomongin tetangga! Kalian itu ga adil, selalu pilih kasih. Fifi cape mah selalu ngalah sama kaka sama ade, semua nya fifi yang nangung. Fifi juga pengin diperhatiin sama mama sama papa" fifi pun perlahan mulai meneteskan air matanya. Ibu mia yang mendengar suara anaknya itu hanya membungkam mulutnya dengan tangan tidak percaya akan apa yang fifi rasakan selama inii. Nampak raut wajah sedih ibu mia.
"Maa paa aku itu cuma butuh diperhatiin aja kaya mama ke adit kaya papa ke elaa. Maa paa apa fifi pernah minta barang barang ini itu ke mama sama papa, apa pernah fifi kaya gitu maa? semua yang fifi punya cuma bekas dari kak elaa, itupun harus ada balasanya seakan kak ela ga ikhlas klo barang barangnya buat fifi. Adit minta ini mama beliin kak ela jugaa kaya gitu, fifi pernah ga maa? ucap fifi yang sudah mulai berlinang air mata sembari memegang pergelangan tangan ibunya itu. Kak ela yang menyaksikan pun hanya terdiam kaku begitu juga dengan ayah fifi.
###
"Kemanaa inii, kemana coba aku harus pergii" ucap fifi sembari menangis tersedu sedu. Fifi yang tak bisa membendung emosi nya lagi pergi berlalu saja meninggal kan rumah. Fifi berjalan tak tentu arah, bingung harus pergi kemana. Fifi hanya berjalan mengikuti langkah kakinya hingga tanpa sadar ia sudah berjalan ke tepi jalan tanpa memperhatikan jalanan ia terus saja melangkah kan kakinya menuju ke tengah jalanan. "Brukkkkkkkk" tubuh fifi terjatuh dengan cukup keras, sebuah mobil mini bus baru saja menabrak nya tapa ia sadari.
__ADS_1
"akhhhhhh... sakit" ucap fifi lirih dengan darah yang terus keluar dari tubuhnya, lututnya terluka lengan begitu juga dengan wajahnya. Hilang sudah wajah manis fifi yang biasanya kini sudah penuh dengan noda darah. Hingga membuat fifi tak sadarkan diri, orang orang pun mulai berdatangan untuk memberi pertolongan ataupun sekedar melihat sebagai tontonan.
Setalah sekitar setengah jam Fifi akhirnya sampai di Rumah sakit Kasih, rumah sakit yang memang cukup besar dikawasan jakarta itu. Dokter pun langsung datang menghampiri fifi yang terbujur lemah dengan memberikan pertolongan secepatnya. Salah seorang perawat diambulan pun sudah menghubungi keluarga fifi. Syokkk, tentu sajaa itu yang dirasakan Ibu mia. Bagamana tidak iya ingat jelas baru 1 jam ia pergi tapi sudah ada kabar duka yang menghapiri. Ibu mia pun hanya bisa menangis dipelukan sang suami. Mereka sekeluarga pun bergegas menuju rumah sakit. Saat diperjalanan ibu mia pun hanya membayangkan betapa kerasnya sikapnya selama ini terhadap fifi, terlebih lagi kejadian beberapa jam lalu yang membuat putri ke duanya itu meninggal kan rumah. Saat sampai dirumah sakit tangis ibu mia pecah meliha fifi yang tengah terbaring lemah dengan selang infus ditangan dan jugaa alat bantu pernapasan di hidungnyaa.
"Fifi maafin mama nak, maafin mama" huhuuuhu suara isak tangis ibu miaa. Ayah fifi pun tak tega melihat anak nya itu mencoba menahan air matanyaa. Kak ela dan adit yang sudah menampakan wajah sedihnyaa sedari tadi,
"kaka ga nyaka fii kamu bisa gini" batin kak ela sembari meneteskan air matanya.
"bangunn fifi bangunn nakk" tangis ibu mia sembari mengelus kepala fifi.
"Ibu yanh tenang yah, anak ibu sudah kami tangani dengan baik. Cideranya untung saja tidak begitu parah dan jugaa tangan sebelah kirinya itu retak jadi kemungkinan harus digpis ya ibu dan untuk luka luks yang lain sudah kami obati" ucap dokter yang mencoba menenangkan ibu mia.
"Lalu anak saya kapan bisa bangun dok? " sambung ayah fifi.
"Mungkin besok pagii bapak, karna tadii kami memberikan nya obat jadi dia akan istirahat cukup lama"
"huuuhuuuhuuuhhh" tangis ibu mia.
__ADS_1