Dokter Muda Penuh Pesona

Dokter Muda Penuh Pesona
Petaka


__ADS_3

Rasanya bagaikan di sambar petir di siang hari, sungguh ku tak ku sangka hal ini terjadi dengan diri ku. Oh Tuhan mengapa engkau uji aku dengan hal yang seberat ini. Aku menangis histeris setelah mengetahui jika terkena penyakit berat ini, entah sudah stadium berapa aku tak mau tau. Betapa aku sangat terkejut dan sedih.


"Hiks hiks hiks...."


Tak henti-hentinya aku menangis di hari itu, hingga malam pun tiba. Sampai-sampai aku pun merasa lelah dan tertidur di karpet bludru samping tempat tidur ku. Seketika rasa lapar pun tak kurasakan lagi.


Sinar mentari pagi menusuk melalui celah-celah ventilasi kamar tidur ku.


Seketika ku rasa semburat cahaya itu pun menyinari pelupuk mata ku. Aku pun membuka mata ku yang masih terasa berat dan kepala yang sedikit pusing karena menangis semalaman.


"Ssssttttt..."


Dengan langkah yang gontai ku melakahkan kaki menuju wastafel kamar mandi untuk mencuci wajah sembab ku. Ku tatap wajah menyedihkan ku di cermin.


"Betapa menyedihkan hidup ku ini, asmara, bahkan penyakitan seperti ini. Huhhh"


Setelah mencuci wajah sembab ku, ku lanjutkan dengan mandi pagi. Pagi ini aku putuskan untuk tidak masuk kerja. Tidak memungkinkan kalau aku kerja dengan wajah yang seperti ini. Ku rebahkan tubuh ku kembali di atas tempat tidur sambil ku buka handphone dan mengirimkan pesan izin ku kepada atasan.


Hari ini ku rencanakan untuk menghibur diri, pergi ke taman kecil di dekat rumah sakit yang tak jauh dari kontrakan ku.


setelah setengah jam bersiap, aku pun melangkah pergi ketempat tujuan ku, hari ini aku belum berniat menemui dokter spesialis penyakit dalam seperti yang di sarankan bidan di klinik tempat ku cek up kemarin sore. Aku belum siap dengan kenyataan yang akan ku hadapi selanjutnya.


Oops aku lupa memperkenalkan diri. Ehemz, nama Ku Raifa purnama berusia 22 tahun dan aku baru lulus dari salah satu kampus yang ada di daerah ku, sekarang aku bekerja di salah satu sekolah swasta yang tak jauh dari kampus ku dulu. Oh ya, aku di sini bisa di sebut sebagai perantau sih, karena jarak rumah ku dan tempat tinggal ku sekarang butuh waktu hampir 2 jam dan berbeda kabupaten. Aku juga mengontrak sendirian, bukan tanpa alasan yahh, karena aku dulu pernah kehilangan barang yang berharga dan pelakunya adalah teman kos ku sendiri dengan motif iri kepada ku, ihh nggak logis banget kan?.


Tiba-tiba, aku manabrak punggung seseorang hingga terjatuh, bukan dianya yang terjatuh tapi aku nya, hehehe. Yahh punggung orang tersebut keras dan besar seperti batu dan alhasil kepala ku pun ngilu.


"Maaf, kamu tidak apa-apakan?"

__ADS_1


Sebuah suara bariton dari seseorang yang ku tabrak punggungnya dan aku pun mendonggakan kepala ku. Oh my god,, ganteng bangettt tauu sampai-sampai aku pun tak bisa berkedip menatapnya. Hidung mancung kulit putih, alis meruncing, bibir tipisss ohhh perfect banget. Andaikan aku bisa memiliki mu duhai pangeran tampan.


"Hello? Kamu tidak apa-apakan mbak?"


"Eh, nggak kok mas, saya tidak apa-apa" Aku pun terkesiap ketika ia melambaikan tangannya di depan wajah ku. Ya ampun memalukan sekali sih aku ini. Bertemu pangeran tampan dengan wajah menyedihkan dan bertingkah konyol seperti ini.


"Maaf ya mbak saya tidak sengaja"


Eh kok malah dia yang meminta maaf sih, kan yang menabrak dia itu aku.


"Iya mas nggak papa, aku juga minta maaf karena jalan nggak liat-liat" Kata ku sambil menunduk karena tak berani menatap wajahnya.


"Mbak saya minta maaf yah, dan saya buru-buru sekali lagi maaf yahh, permisi saya duluan'


"Iya mas"


Aku pun masih termangu menatap kepergiannya. Pesona pria tersebut sungguh membuat ku tersihir. Namun ku langkahkan lagi kaki ku dan ku hentikan ketika berada di sebuah bangku di taman tersebut. Aku mendudukan diri di bangku tersebut sambil menatap sekeliling taman, yang mana mayoritasnya adalah pasien rumah sakit.


"Itu hanya kemungkinan, untuk lebih jelasnya lagi mbak periksa ke dokter yang lebih ahli, jangan di tunda-tuda ya mbak. agar penangannya lebih cepat dan akarnya belum menyebar"


Kalimat tersebut masih tergiang di benak ku.


Tiba-tiba ada bola yang menggelinding kearah ku.


"Kakak, tolong lemparkan bolanya ke sini'


Suara seorang anak kecik dengan selang infus di tangannya menatap ke arah ku sambil tersenyum manis. Anak tersebut ditemani oleh seorang perawat di sampingnya.

__ADS_1


Akupun berjalan kearah mereka sambil membawa bola tersebut.


"Ini bolanya" Kata ku sambil tersenyum


"Terima kasih kakak, aku mau main bola lagi" Kata anak tersebut sumringah, ia pun berlari kecil smbil membawa cairan infusnya yang mengantung.


"Rafa jangan berlarian seperti itu, nanti jatuh"


"Iya tante"


"Sus, kalau boleh tau anak itu sakit apa sih?"


"Rafa sakit kanker mbak, tubuhnya lemah sekali tapi semangatnya sangat tinggi"


Jawaban suster tersebut membuat jantung ku berpacu lebih cepat. Anak sekecil itu harus menderita penyakit berat seperti itu.


"Kenapa mbak, mbak kok nangis?"


"Nggak papa kok sus, saya permisi dulu" Akupun melangkah pergi meninggalkan perawat tersebut yang nampak kebingungan dengan menetesnya air mata ku yang secara tiba-tiba.


Akupun meninggalkan taman tersebut dengan pikiran dan perasaan yang bercampur aduk.


"Hufff" Aku pun menghela nafas panjang dan ku putuskan unruk berhenti di sebuah mini market dengan niat membeli beberapa cemilan dan membeli masker wajah. Tak berapa lama kemudian aku pun berjalan pulang ke kontrakan ku.


Sesampai di kontrakan aku pun malakukan masker wajah sambil duduk memakan benerapa cemilan yang ku beli tadi. Meskipun pikiran ku lagi kacau setidaknya wajah ku tetap tampil cantik ketika berhadapan dengan peserta didik dan rekan-rekan kerja ku besok.


Aku berpikir sejenak, haruskah aku memberi tahu keluarga ku tetang penyakit ku ini. Ahh rasanya aku belum siap untuk memberi tahu mereka, apalagi aku belum memeriksanya dan belum di pastikan apakah itu benar atau tidak. Semoga saja tidak benar.

__ADS_1


Malam ini, aku pun mengecek kembali materi pelajaran yang akan ku sampaikan kepada peserta didik besok dan beberapa buku mata pelajatan yang akan ku bawa, sehingga besok pagi aku tak perlu repot-repot untuk mempersiapkannya.


"Hufff besok aku ngajar lagi dan hatus semangat seperti biasanya, jangan kupa minum vitamin, semangat Raifa yang cantik"


__ADS_2