Dokter Muda Penuh Pesona

Dokter Muda Penuh Pesona
pulang...


__ADS_3

Karena sudah berkali-kali keluarga ku, terutama ibu ku menyuruh ku pulang, akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali kekampung halaman. Tepat pada jum'at sore aku melajukan kuda besi ku menuju kampung halaman ku. Pukul 16.00 WIB aku berangkat dari kontrakan dan perkiraan ku sebelum magrib aku telah sampai ke rumah orang tua ku.


Sebelum berangkat aku pun berniat memberi tahu Sandi tetang keberangkatan ku.


"Tok tok tok"


"Iya sebentar" Ku dengar ada suara menyahut ketukan ku.


"Sreettt!, Eh Raifa mau kemana nih udah rapi aja?"


"Wkwkwkw...San, kamu abis ngapaian sih kok belepotan kayak gitu?" Aku pun terbahak melihat wajah Sandi yang di penuhi tepung dan beberapa olesan coklat.


"Hehehe biasa lah, lagi obrak abrik dapur" Jawabnya" Kamu mau kemana?" Lanjut Sandi.


"Ini San, aku mau palang kampung, tolong jagain kontrakan ku yahh, siapa tau aja nanti ada maling, pas aku lagi nggak ada, ckckckc" Kata ku


"Hemmz... kamu pikir aku penjaga kontrakan apa, malah minta jagain sama aku"


"Kamu kan ponakan pemiliknya, srharusnya ikut berpartisipasi juga dong"


"Iya, iya nanti aku jagain kok, tenang aja.lagi pula di sini aman kok, nggak ada maling"


"Ya sudah aku berangkat dulu" Aku oun membalikan badan hendak pergi.


"Ehh tunggu dulu, kamu berapa lama di sana?"


"Nggak lama kok, sore minggu balik lagi. Aku kan ada kerjaan juga di sini"


"Ya sudah sana, hati-hati di jalan, jagan ngebut"


"Iyaaa...."


~Dasar yahh. Jam segini baru mau berangkat, udah tau jaraknya jauh. Coba aja siangan dikit kek. ckk


Aku pun melajukan motor ku dengan kecepatan standar 60-80 km/Jam. Sambil menikmati hembusan angin sore dan pemandangan lalu lalang masyarakat di sepanjang jalan. Cuaca hari ini juga sangat mendukung perjalanan ku, aku pun melakukan perjalanan sambil menyanyikan beberapa lagu kesukaan ku. Yahh aku lebuh suka bernyanyi tak jelas, dari pada mendengarkan musik menggunakan hanseat, bagi ku itu sedikit membahayakan karena tidak begitu kedengaran jelas ketika ada orang lain membunyikan klakson.


Sekitar hampir 1 jam berlalu, tiba-tiba saja di depan ku terdapat kerumunan masa, dan terjadi kemacetan pengendara. Sudah bisa di tebak, kalau ini merukapan terjadinya kecelakaan. Yahh benar saja, ku lihat ada sebuah wanita yang di angkut ke dalam ambulance dan segera di bawa ke rumah sakit.


Setelah melewati itu semua aku pun melajukan sepeda motor ku kembali dengan kecepatan seperti semula.


"Hemmm...penatnya." Aku pun menghentikan sepeda motor ku di sebuah terminal bus. Dimana banyak toko yang menjual berbagai aneka cemilan dan makan untuk oleh-oleh. Aku sudah terbiasa sering singgah di sini dari masa kuliah dulu.

__ADS_1


Aku pun membeli beberapa keripik dan beberapa makanan lainnya. Yahh walau pun tidak banyak, yang oenting ada untuk oleh-oleh. Setelah berbelanja, aku pun kembali melanjutkan perjalanan ku. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang yang ku kenal.


"Lena? kamu kah itu?"


Sontak saja perempuan tersebut menoleh kearah ku dan langsung bergegas pergi.


"Len, lena!!!!" Aku pun terus memanggilnya tapi ia tak mengubris sama sekali.


Aku pun bergegas pergi dari tempat tersebut. Memang sejak kejadian itu, Lena tak mau bertegur sapa dengan ku. Walau pun sebenarnya aku sudah memaafkannya.


Akhirnya aku oun sampai di kampung halaman ku, ku lihat beberapa otang yang aku kenal dan aku pun menegur mereka. Yahh biar di bilang tidak sombong katna udah bergelar Sarjana. Heheheh.


Aku pun berhenti di sebuah rumah sederhana cat berwarna hijau telur asin. Yahh itu lah rumah ku, tempat di mana keluarga ku tinggal.


"Assalamualaikum,,, "


"Wa'alaikum salam" Ku dengar beberapa orang menjawab salam ku dari fakam rumah.


"Kamu kenapa pulangnya sore sekali sih Fa, ibu jadi khawatir tau"


"Maaf bu" Aku pun mencium kedua tangan orang tua ku secara bergantian.


"Ini Bu Ifa bawain beberapa cemilan" Aku pun memberikan beberapa makanan yang telah ku beli tadi kepada ibu ku.


"Kak jangan kelamaan dong ini perut Rara udah keroncongan nih gara-gara makannya harus nunguin kedatangan kakak" Ucao Rara


"Raaaa!!!" Suara bariton Ayah pun mulai keluar. "Ayo kita makan bersama dulu mumpung Raifa sudah datang"


Kami berlima pun duduk menghadap meja yang sudah di penuhi dengan berbagai hidangan. Ayah, Ibu, aku, Rara dan Randu adik bungsu ku, kami sekekuarga oun menyantap hidangan tersebut dengan lahab. Sudah hampir satu bulan lebih aku tak makan bersama dengan keluarga ku.


"Fa gimana kabar kamu?"


"Baik kok Bu"


"Kejaannya gimana?"


"Lancar kok Bu"


"Kamu kenapa jadi kurusan begitu?"


Sontak saja pertanyaan Ayah membuat makanan ku tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Ifa sering telat makan yah" Jawab ku sekenanya.


"Lain kali jangan sering telat makan, nanti kalau kamu di sana sakitkan tidak ada yang ngurusin"


"Iya Ayahh" Aku pun menghela nafas lega karena ayah tak begitu banyak tanya.


Setelah selesai makan malam, aku pun membantu ibu mencuci piring kotor. Setelah itu aku pun bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Lalu aku pun masuk kekamar ku.


"Uhh sudah lama aku tidak tidur di kamar ini" Kata ku sambil merebahkan tubuh ku di atas ranjang.


"Faaa... masukin sepeda motor mu ke dalam rumah, ini udah mau magrib"


"Iya Buuu," Aku pun bergegas memasukan sepeda motor ku ke dalam rumah.


Setelah menyelesaikan sholat magrib bersama. Aku dan keluarga ku pun menonton tv bersama sambil ngobrol bersama. Sedangkan Rara dan Randu asik dengan telepon seluler mereka masing-masing.


"Kalian berdua main handphone terus yahh?" Kata ku sambil melihat kedua adik ku.


"Iya tuhh jangan kebanyakan main handphone lebih baik baca buku" Kata Ibu.


"Apaan sih kak, bu? Ini juga lagi belajar tau, Iya nggak Ndu?" Ucao Rara


"Iya nih, sekarang itu pembelajaran itu di handphone, apa-apa selalu pakai handphone nggak kayak jaman kakak dulu lagi" Jawab Randu.


"Wahhh sekarang Randu udah pinter jawab Yahh"


"Malas aku di sini, mending ke kamar aja"


Rara pun masuk ke dalam kamarnya tetapi tidak dengan Randu.


Ayah dan Ibu ku pun hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan Rara.


"Bu Rara kok makin kesini makin kurang ajar yahh?"


"Iya Fa, Rara makin berubah saja semenjak dia tak di perbolehkan Ayah masuk sekolah kedokteran" Jawab Ibu


"Kenapa ayah nggak ngizinin Rara?" Aku pun melirik ke arah Ayah ku yang srdang asik menonton tv.


"Cari yang murah saja, jangan yang mahal-mahal. Lagi pula kan adik kamu itu ngak sepitar kamu dalam hal akademik, nanti kalau sampai nggak selesai Kuliahnya ngabisin uang banyak"


Aku pun hanya bisa terdiam mendengar jawaban Ayah ku. Memang aku akui Rara tak begitu memikiki prestasi menjulang di bidang akademik. Tapi itu keingin Rara otomatis ia pasti akan berjuang untuk tetap bertahan ketena itu merupakan cita-citanya.

__ADS_1


__ADS_2