Dokter Muda Penuh Pesona

Dokter Muda Penuh Pesona
Malu


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasanya aku brangkat berkerja pagi-pagi dan ketika aku hendak berangkat, aku perpapasan dengan dokter Sandi.


"Pagi dokter" Aku pun menyapanya, tak enak jika tak menyapa nya. Bagaimana pun juga ia adalah salah satu penghuni kontrakan ini.


"Pagi juga, Oh ya nona ini jadwal pemeriksaan nona yang sudah saya buat,nona harus melakukan pengobatan ekstra agar selnya tidak menyebar luas" Dokter Sandi pun menyodorkan sebuah kertas.


"Maaf dokter, saya belum memikirkan hal tersebut, trimaksih banyak Dokter sudah peduli dengan saya" Aku pun mengambil kertas tersebut.


"Oh ya nona, bolehkan lain hari kita berbincang-bincang santai?"


"Hah?"


"Maksud saya bolehkan kita ngobrol sebagai tetangga kontrakan, bukan sebagai dokter dan pasien, atau sebagai teman?"


"Tentu saja boleh dok"


"Baik lah, mari kita berangkat" Aku oun bingung dengan ucapan sang dokter


" Maksud ku, kita berangjat ke masing-masing tujuan, nona Raifa. Hehehe. Jangan panik gitu" Kata dokter Sandi


"Oh ya nona, aku harap nona jangan terlalu formal dengan ku, lagian juga kita tetanggaan, aneh saja kuping ku mendengarnya.


"Baik lah dokter"


Lalu kami pun berangkat ke masing-masing tempat tujuan.


Aku pun mengajar seperti biasanya lalu pulang sesuai jadwal. Hari ini ku jalani dengan semangat. Meskipun aku terasa lebih cepat lelah dan dada ku terasa nyeri.


"Bu Raifa, kita pulang duluan ya Bu" Ucap Bu Desi salah satu rekan kerja ku, ia pulang bersama dengan Bu Lenda


"Iya bu, selamat sampai tujuan yah" Kata ku sambil masih membereskan peralatan ku.


Tak lama kemudian aku pun bergegas pergi.


Sampai di kontrakan, betapa terkejutnya aku melihat dokter Sandi duduk santai di teras kontrakan ku sambil memaikan ponselnya.


"Dokter, kenapa dokter di sini?" Tanya ku


"Eh Raifa,, , aku lagi nungguin temen aku, tadi kunci kontrakan ku ketinggalan di kantor. jadi nanti dia dateng ke sini buat nganterin"


"Boleh aku numpang kan, soalnya teras ku lgi kotor, teras mu kan bersih jdi aku duduk di sini aja"

__ADS_1


"Iya boleh-boleh saja kok dok, hehehe" Aku pun menggaruj tekuk yang tak gatak.


"Oh ya dok aku masuk dulu," Aku pun bergegas masuk menyimpan barang-barang ku.


Tak enak hati meninggalkan dokter Sandi sendirian akhirnya ku putuskan untuk menemaninya sambil menyuguhkan secangkir kopi.


"Dokter, ini silahkan di nikmati"


Aku pun menyuguhkan kopi tersebut.


"Ya ampun, jadi merepotkan saja. Makasih ya"


"Iya sama-sama"


" Kamu panggil saja aku dengan sebutan nama saja, ngak isah ada iming-iming kata dokternya. lagian kayaknya kita seumuran deh"


"Heheh iya Dok kalau begitu, eh maksud aku Sandi"


Dokter Sandi pun meminum kopi buatan ku, entah bangaimana rasanya aku oun jadi deg deg kan takutnya nanti tak sesuai lidah.


"Kopi buatan mu enak Fa, manisnya pas. Sama kayak kamu"


"Dokter bisa aja"


"Belum kok, baru beberapa bulan aja, kalau kmu udah lama ya?" Aku pun balik bertanya ke pada Sandi.


"Belum lama juga sih, palingan sekitar 1 bulanan lah"


"Kok aku ngak pernah liat kamu yah, selama 1 bulan belakangan ini, aku juga ngak tau kalau kamu tetangga ku, kamu kenapa mau ngontrak di sini kamu kan seorang dokter" Mulut ku langsung nyerocos melontarkan berbagai pertanyaan.


Sandi pun malah terbahak, lalu ia pun menyeruput kopinya kembali.


"Pertanyaan mu banyak dan panjang banget sih Fa, udah kayak kereta api aja"


"Hehe iya maaf abis aku penasaran sih" Kata ku sambil nyengir kuda.


"Oke, aku jawab ya. Sebelumnya aku tuh kerjanya siang dan pulang larut malam, jadi kita ngk pernah ketemu. Yang kedua, kenapa aku mau ngontrak di sini itu karena kotrakan inj dekat dengan Rumah sakit jadi lebih hemat, selain itu juga aku lebih suka tinggaldi sini karena tempatnya bersih dan lumayan nampak asri karena banyak tanaman bunga. Pemilik kontrakan ini juga masih kerabat ku"


"Ohhh begitu rupanya"Aku hanya bisa ber oh ria saja setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Sandi.


Tak lama kemudian datang lah seseorang yang amat berwibawa dan tampan, yang tak lain dan tak bukan adalah pangeran tampan ku.

__ADS_1


"Wahhh serunya duduk berdua sambil menikmati kopi"


"Iya dong, apa lagi di temani nona manis ini"


"Ck iya dehh dasar kadal, ini kunci mu.Bikin repot aja di suruh dateng nganterin inj segala"


"Jadi kamu ngak ikhlas ni bantu aku, dasar bunglon"


"Menurut mu?"


"Ehemzzz, kalian kalau mau droan jangan di sini, kayak anak kecil aja." Aku oun mengeluarkan suara untuk menghentikan aksi konyol mereka.


Mereka pun menoleh bersamaan ke arah ku.


"Kenapa, ada yang salah?"


"Hehehe nggak kok, maaf" Merekapan serempak mengatakan kalimat tersebut.


"Cie kompak ni yeee, bener-bener sejoli banget deh, heheheh" Aku oun tertawa sambil mengejek mereka


"Apaan sih kamu, oh iya kamu Fa, mendingan aku sejoli sama kamu" Kata Sandi.


"Aihh tapi aku maunya oengeran tampan ini"


"Maksud mu, aku?" Riduan pun menunjuk dirinya sendiri


"Eahh bukan siapa-siapa"Mulut ember yang ngak bisa di tahan, aihh malu banget deh.


" Tuhh pipi nya aja merah,,,, grogi yahh?" Ya ampun ini si Sandi minta bogem mentah deh.


"Ya sudah aku pergi dulu yah, jangan nangis sendirian lagi kayak kemarin" Lalu Riduan pun pamitan meninggalkan Raifa dan Sandi.


"Huhhh...kamu ini apa-apan sih bikin malu aku aja tau"


"Cie-cie... kamu suka yahh sama Riduan sampai-sampai salting gitu?"


"Nggak ahh"


"Hayoo ngaku aja, nggak usah bohongin aku"


Sandi terus saja mengoda ku.

__ADS_1


"Sudah sana pulang, kunci mu kan udah di antar tuh" Aku pun mengambil kopi Sandi dan hendak masuj ke dalam


" Ya ampun gitu aja ngambek, Raifa kalau kamu suka sama dia, inget yahh saingan kamu tuh banyak" Ketkka aku sudah masuk ke dalam, Sandi mengatakan sesuatu yang masih terdenger jelas di telinga ku.


__ADS_2