
Pagi harinya aku pun melangkah pergi menuju rumah sakit umum yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal ku, gedung lantai enam itu nampak begitu kokoh, di hiasi ornamen kaca yang menambah semakin elok. Aku pun melajukan kuda besi ku dengan kecepatan sedang. Setelah sekitar 15 menit aku pun sampai ke tempat tujuan, segera ku mendaftar ketempat administrasi. Aku pun menghela nafas panjang ketika melihat nomor antrian ku yang ke 15.
" Ya ampun ternyata sudah banyak yang mengantri, aku kira aku yang pertama kali. Ini saja baru jam delapan lewat lima menit sudah begitu banyak yang antri"
Aku pun mendudukkan diri di salah satu kursi yang disediakan sebagai tempat menunggu. Setelah 10 menit aku menunggu, tiba-tiba seorang berbakaian rapi jas putih memasuki ruangan. Wajahnya sangat terlihat familiar di mata ku.
"Kok tidak asing ya? Seperti pernah bertemu sebelumnya tapi di mana yah?"
Satu persatu pasien tersebut mamasuki ruangan dan kekuar ruangan dengan berbagai raut wajah, ada yang muram, bahagia bahkan menangis. Aku semakin merasa tak tenang, sudah hampir 4 jam aku menunggu bahkan sampai melewatkan jam makan siang, untung saja aku membawa sebungkus roti dan air mineral. Tak berapa lama kemudian aku pun di panggil ke dalam. Badan ku terasa panas dingin takut menerima kenyataan yang terjadi.
"Silahkan duduk Bu." Fokter tersebut masih menundukan kepalanya seraya menulis entah pa yang di tulisnya.
"Ada keluhan apa Bu?" Ia pun menatap ku sehingga pandangan kami pun beradu.
"Kamu?"
"Kamu?"
"Maaf, maksud saya kamu dokter di sini?" Aku pun melontarkan pertanyaan secara langsung.
"Iya, kamu nona yang ngontrak di dekat kontrakan ku itu kan?"
"I Iya Dok,"
"Ya ampun ternyata dunia ini sempit sekali ya? hahahah" Aku pun terkejut melihat reaksi dokter Sandi yang begitu humble, aku kira dia akan pura-pura tidak mengenali aku.
"Nona, Raifa purnama. Apa keluhan Anda?" Di sini tertulis Anda sering nyeri dada"
"Iya dok, se se benarnya, sas saayaa "
"Tidak apa-apa nona di sini privasi Anda akan kami jaga"
Aku pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dokter, saya memikiki benjolan di dada kanan saya" Aku pun menundukan kepala
__ADS_1
"Mari saya periksa terlebih dahulu, Suster tolong siapkan alat untuk melakukan pengecekan"
"Iya dokter" Perawat tersebut beranjak untuk mempersiapkan alat radiologi untuk pengecekan penyakit.
"Dokter alatnya sudah siap"
Beberapa menit kemudian aku menunggu hasilnya dan Dokter Sandi pun memberikan sebuah map coklat dengan tersenyum.
"Ini hasilnya"
Dengan cepat aku menarik dan membuka map coklat tersebut dan betapa terkejutnya aku dengan hasil pemeriksaan tersebut.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi kan dok? Ini pasti hasilnya tidak akurat" Kata ku dengan gementar dan mata berkaca-kaca.
"Maaf nona, itu adalah hasil positif, Anda terkena kanker payudara stadium a.."
"Tidak ini tidak mungkin!!!!" Aku oun kekuar ruangan dokter Sandi seperti orang kesetanan.
Akupun menangis sambil menatap kertas yang ada di ada di tangan kanan ku. Air mata ku tak henti-hentinya mangalir. Rasanya dunia ku hancur seketika, bahkan seluruh tubuh ku pun merasa lemas tak bertulang. Mengapa harus terjadi kepada ku?, apa dosa ju terlalu banyak sehingga di uji dengan penyakit seperti ini. Tak perduli orang-orang di sekitar menatap ku dengan tatapan aneh, aku trus berjalan sambil menyusuri koridor rumah sakit entah kemana langkah kaki ku membawa ku pergi. Pikiran ku benar-benar kalut, hingga langkah ku berhenti di bangku taman yang kemarin ku datangi.
"Hapus air mata mu, jangan menangis terus menarus".
Tiba-tiba ada seseorang menyodorkan sapu tangan kepada ku, sontak saja aku mendongakkan kepala ku. Aku pun menggambil sapu tangan tersebut tanpa pikit panjang.
"Terimakasih" Uhhh Betapa malunya aku ternyata orang tersebut adalah pangeran tampan ku.
"Sudah baikan?"
"Hemz, iya"Tentu saja aku merasa baikkan karena dia berada di sini. Rasanya aku pun bersemangat kembali.
"Jangan bersedih lagi, semuanya pasti ada jalan"
"Terimakasih...."
Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan ku yang masih sesegukkan.
__ADS_1
Akupun menatap kepergiannya dengan seulas senyum, ada sedikit kelegaan di hati ku ketika ia memberikan motivasi tersebut.
Setelah kepergiaanya, aku pun masih duduk di bangku taman tersebut. Ku tatap arloji ku waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Aku pun beranjak pergi dari tempat itu, ku putuskan untuk pulang ke kontrakan ku. Sampai di kontrakan. ku rebahkan tubuh ku sambil mata ku pun ikut terpejam.
~Apa yang harus ku lakukan? Aku yakin aku pasti sembuh tanpa melakukan operasi, aku takut sekali jika harus melakukan bedah. Keluarga ku, haruskah aku memberi tahu mereka. Tapi itu pasti akan membebani mereka apa lagi Ibu ku.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kontrakan ku,
Tok! Tok! Tok!
Aku pun segera membuka pintu. Namun setelah ku buka pintu tak ada seorang pun yang nampak di mata ku. Hanya ada sebuah kotak kecil berukuran 20×30cm berwarna merah muda.
"Punya siapa ini, apa ini untuk ku?"
Aku pun mengambil kotak tersebut dan membawanya masuk ke dalam.
Aku pun membuka kotak tersebut dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat isinya. Kartu ucapan berbentuk hati dan beberapa batang coklat dengan berbagai jenis model. Aku pun membuka kartu ucapan tersebut
"Hello Nona manis jangan menangis
tersenyumlah dengan senyum terindah"
"Kok tidak ada tanda pengirimnya ya? Salah kirim kali yah?"
Aku pun membolak balikan kartu tersebut dan di belakangnya tertulis "Dear Raifa Purnama". Aku semakin bingung saja.
Ku letakan kotak tersebut beserta isinya di atas meja samping ranjang tidur ku. Coklat-coklat itu pun tak ada yang ku sentuh dan ku makan sama sekali.
Kini aku tak rebahan lagi, aku oun mulai membongkar tugas-tugas peserta didik yang belum ku koreksi beberapa hari yang lalu. Besok pagi aku berniat masuk kerja kembali, kalau terlalu lama izin, aku kasian kepada peserta didik yang tertinggal materi pelajaran, bukan itu saja sih sebenarnya ada hal yang paling aku kasihani lagi yaitu dompe ku yang kempes nantinya. Hehehe...
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya pekerjaan ku selesai juga. Cukup melelahkan juga. Aku pun bergegas menyiapan masakan untuk makan malam ku lalu ku lanjutkan dengan mandi sore untuk membersihkan tubuh ku yang terasa lengket. Aku sudah terbiasa dengan kesendirian ku, melakukan sesuatu dengan sendirian.
Kalau di tanya aku rindu rumah atau tidak. Jawabannya rindu sih. Tapi aku lebih senang ketika aku jauh dari rumah dan bisa hidup mandiri dengan penghasilan sendiri. Bagi ku lebih menyenangkan hidup jauh dari keluarga tanpa membebani mereka. Namun bukan berarti aku melupakan mereka sebagai keluarga ku.
Meski pun dalam keadaan tak sesehat dulu lagi namun aku harus tetap semangat dalam menjalani hidup. Usia ku masih muda dan aku adalah wanita kuat di uji dengan ujian yang berat. Yah kalau di jalani dan berusaha dalam kesembuhan tanpa mengekuh semuanya pasti akan tidak terasa berat. Ahhh sudah lah jalani saja.
__ADS_1