
Setelah kepergian Riduan dan Sandi, aku dan Nita pun ngobrol bersama.
"Ifaaa kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Nita.
"Aku cuman kecapean aja Nit, jadi tadi tuh nggak fokus naik motornya.
"Hemzzz...oh yaa itu yang sama kamu tadi siapa? Pacar kamu ya?"
"Ihh bukan kok"
"Hayoo ngaku aja, itu kan gebetan yang kamu ceritain ke aku waktu kita telponan itu?
"Ahahahahhaa... Bukan Nit, bukan dia"
"Terus yang mana? Ayolah kenalin ke aku, nanti kalo aku nggak kenal, aku gebet, mau kamu"
"Walaupun kamu nggak tau pun nggak mungkin bakal kamu ngebet"
"Emz...masak sih, jadi yang mana dong"
Nita sama seperti Nita yang aku kenal dulu, Nita yang selalu kepo dan nggak sabaran.
"Kasih tau nggak yahh?"
"Ayolah...pelit amet sih"
"Orang yang aku maksud itu adalah orang yang bawa kamu ke sini tadi" Kata ku sambil tersenyum.
"Apa????!!!!! Maksud kamu, kak Riduan?" Tanya Nita yang nampak panik dengan pernyataan ku.
"Ya ampun Ifaa masak kamu tergila-gila sama kak Riduan sih, pantas saja tadi kamu bilang walaupun nggak tau pun aku nggak akan gebetin dia"
"Hehehehe...., eh Nit kamu nginep di mana?"
"Aku nginep di salah satu hotel di dekat sini"
"Owh...kamu udah keterima kerjanya?"
"Udah kok Faa, aku senang banget tau, aku kerjanya satu rumah sakit dengan kak Riduan"
"Selamat ya, Nit aku juga ikutan senang mendengarnya..."
Kami pun terus ngobrol ringan sambil sesekali tertawa, Sudah lama sekali tidak berjumpa, aku sangat senang bisa bertemu dengan sahabat ku yang satu ini.
Tak terasa waktu terus berjalan dan menunjukkan pukul 17.00 WIB. Nita pun pamit pulang.
"Fa, aku pulang dulu yahh,kamu nggak papa kan kalau aku tinggal?"
"Nggak papa kok, palingan besok aku udah boleh pulang..."
"Oke kalau gitu aku pulang dulu yahh"
"Iyaa hati- hati di jalan"
Pagi harinya aku sudah di perbolehkan pulang. Aku pun segera pulang dan hari ini pun aku izin tidak masuk kerja. sampai di kontrakan, ku rebahkan tubuh ku.
"Akhhirnya... rebahan lagi"
Tak lama kemudian aku punendapat telpon dari Rinduan.
"Hallo?"
"Hallo Ifa kamu udah di kontrakan?"
"Iya, ini barusan nyampai"
"Kenapa kamu nggak kabarin aku dulu kan bisa aku antar kamu?"
~Apa? wahh apa aku salah denger nih. Riduan kok kayak perhatian banget sama aku? Au au au...gemesss dehh
__ADS_1
"Raifa? Kamu masih di sanakan?"
"Iya masih"
"Oh yaa motor kamu masih di bengkel tidak ada kerusakan yang parah nanti orang suruhan aku yang mengantarnya ke tempat mu"
"Iya makasih banyak Riduan maaf sudah merepotkan"
"Tidak masalah, selagi aku masih sanggup membantu, aku akan membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan. Kamu istirahat saja yahh.Aku tutup dulu telponya" Tut.
Aku pun berbaring di tempat tidurku, penyakit ini benar-benar membuat tenaga ku melemah, aku tidak mau operasi. Tak lama kemudia twrdwngar ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!!!
Aku pun srgera bangkit untuk membukakaan pintu. Ketika ku buka ternyata dia adalah Nita sahabat ku dan dokter Sandi.
"Nita? Dokter Sandi?
"Hai Ifaa..."
"Ngapaian kalian ke..."
"Kita mau mengunjungi kamu, nggak boleh?"
"Boleh sih..."
"Ya udahh kita mau masuk"
Nita dan Sandi pun menerobos masuk. Mereka mengamati sekeliling ruangan.
"Aku buatkan minuman dulu yahhh" Aku pun membuatkan mimuman sirup untuk meteka karna cuman itu adanya, maklum anak kontrakan....
Setelah beberapa menit aku pun keluar dengan membawa dua gelas minuman.
"Ifa kamu dah lama tinggal di sini?"
"wahhh, lumayan juga yahh, Fa sekarang kita bakal jadi tetangga lohhh"
"Masak sihhh? Kamu ngonyrak di sini juga?"
"Iyaa, ini aja aku baru selesai mindahin barang-barang, yahh sekalian dekat sama kamu, udah lama juga tidak main bareng"
"Sekalian juga kamu pantau Ifa, siapa tau nanti ada apa-apa" Kata Sandi
"Emang kenapa haris di pantau?"
"Ifa itu punya penyakit serius"
"Faa? coba kamu jelasin ke aku"
"Aku..."
"Ifa itu terkena kanker. Kemarin aku sudah menganjurkan dia untukenjalani pengobatan yang serius, tapi malah tak di perdulikan. Aku juga yakin kalau kemarin dia sampai masuk rumah sakit itu bukan karena kecelakaan yang serius, tapi karena efek pemyakitnya yang mempengaruhi pikirannya"
"Ya ampun Ifaaa...( Langsung memeluk Rifa) kamu yang kuat ya Fa aku disni bakal terus menemani kamu"
Aku pun menangis sesegukan mendengar perkataan sahabat ku Nita.
"Makasih yah Nit"
"Ehh Nggak makasih sama aku yahh? Kalau tidak aku katakan tadi tuh dia nggak bakal tau" Celoteh Dokter Sandi.
"Ihh dasar yahhh..." Aku pun memukul lengan dokter Sandi.
"Besok kamu harus ke rumah sakit yahh aku temani. Aku nggak mau penyakit kamu oti tambah parah, mau ya?" Tanya Nita
"Tapi Nit"
"Udah pokoknya besok kita kerumah sakit, jangan takut aku bakal sesalu di samping kamu"Nita pun tersenyum" Orang tua kamu gimana apa sudah tau?"
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Orang tua kamu juga harus tau Fa, ini tuh bukan penyakit main-main"
"Aku belum siap jika mereka harus tau, aku tidak mau ibu aku menjadi khawatir. Kalau pun mereka tau aku nggak bakal di izinkan untuk tinggal di sini, pasti aku bakal di surij pulang kampung. Aku nggak mau itu" Jawab ku sekenanya."
"Ya sudah kalau begitu yang penting besok kita harus ke rumah sakit"
"Kamu kan harus kerja Nit..."
"Aku akan bekerja 2 hari lagi, jadi hari ini aku masih freee"
"Nanti akan ku kirimkan jadwal pemeriksaan Ifa" Ucap dokter Sandi.
"Maksudnya?" Tanya Nita
"Iya, Raifa ini tuh pasien aku tau"
"Owh...pantas saja dirimu tau penyakitnya, ya sudah besok aku mau bagian pagi-pagi, bisa kan dok?"
"Tentu saja bisa"
Keesokan hari belum sempat ku mencuci muka, sudah terdengar gedoran pintu dan suara teriakan Nita.
"Ifaaaa!!! dug dug dug Raifa bangun"
"Iyaaa"
Hari itu aku dan Nita pun pergi menemui dokter Sandi. Setiba di sana ternyata Dokter Sandi sudah menunggu kami.
"Pagi...Dokter"
"Pagi...silahkan duduk"
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan akhirnya aku pun tak sabar ingin mendengar hasilnya.
"Raifa, berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, kamu harus segera mengambil tindakan, yang pertama yaiti kemoterapi dan yang kedua biaopsi"
Aku dan Nita pun mendengarkan pemaparan dari dokter Sandi dengan seksama, dengan perasaan tak menentu aku berusaha menguatkan diri.
"Jadi bagaimana keputusan mu Ifa?"
"Sayaaa...."
Nita pun menggenggam tangan ku dengan erat sambil menganggukan kepalanya.
"Saya pilih kemoterapi saja dulu"
"Namun ada satu cara lagi, cuman cara ini cara tradisional keberhasilannya pun cuman berapa persen saja selain itu cara ini juga belum begitu banyak di terapkan oleh penderita kanker payudara"
"Apa itu dok?" Tanya Nita
"Melakukan terapi Jus"
"Bagaimana caranya?"
Dokter Sandi pun menjelaskan prosedur terapi jus tersebut dan sepertinya aku lebih tertarik dengan cara ketiga ini.
"Kalau begitu aku akan memilih cara ini saja terlebih dahulu"
"Baiklah kalau begitu, nanti akan saya tuliskan bahan2nya tetapi kamu haris benar-benar rutin melakukannya jangan sekalipun terlupakan, jika ada sati kali saja terlupakan maka kamu harusengulangnya dari nol lagi di hitung dari awal lagi"
"Baiklah dokter"
Setelah sudah, pada akhirnya aku memilih pengobatan melalui terapi jus ini. Semoga saja ini pilihan yang tepat dan bisa sehat kembali.
"Makasih ya Nit udah nemenin aku"
"Iya sama-sama sahabat ku".
__ADS_1