
Malam ini aku memutuskan untuk keluar kontrakan, niat hati ingin mencari angin dan bebelanja kebutuhan bahan dapur yang sudah menipis. Dengan memakai sweater tebal dan bergaya tomboi, aku pun keluar kontrakan.
"Setannnnn!!!!" Aku melihat sosok bayangan hitam hendak menuju ke arah ku dan dengan cepat ku tutup kembali pintu.
"Huhhh,,, itu tadi benar- benar setan kan?"
"Setan? mana setannya?"
"Fa?, Raifa (Tok tok tok!)"
"Itu siapa yah kayaknya aku kenal deh sama suaranya" Terdengar ada seseorang memanggil nama ku dan mengentuk pintu kontrakan ku, suaranya pun familiar di kuping ku. Dengan mengumpulkan sejuta niat dan berusaha menghilangkan rasa takut, aku pun perlahan membuka pintu.
"Sreeeeetttt"
"Ifa?"
"Ya ampun, (mengelus dada) kamu ngapain pakai pakaian kayak ini. Mana hitam semua lagi?"
"Aku tadi mau ke luar bentar, eh tiba-tiba kamu teriak setan sekali liatin aku"
"Salah kamu sendiri, kenapa pakai pakaian serba hitam kayak gitu, aku kan kanget liatnya, mana mukanya nggak keliatan juga, untung aja aku nggak punya penyakit jantung" Aku pun mengomeli Sandi panjang lebar, karena begitu kesalnya. Tak perduli dia dokter atau apa pun itu.
~Ya ampun ini cewek gemes banget sih kalau lagi ngomel-ngomel kayak gitu, pengen cubit deh tu pipi.
"Maaf Fa, aku juga nggak sengaja dan nggak ada niatan mau nakutin kamu hehehehe."
"Iya deh,,,,"
"Kamu mau kemana malam-malam begini?"
"Aku mau ke supermarket, mau beli bahan makanan"
"Oh kebetulan sekali kalau begitu kita barengan aja, aku juga mau ke supermarket"
"Ya udah ayo"
Aku dan Sandi pun pergi ke supermarket bersama dengan berjalan kaki, karena jaraknya yang tak begitu jauh dan jalanan pun cukup ramai, maklum lah di sini banyak buka toko yang menjual berbagai jajanan dan hanya buka pada malam hari saja. Aku pun membeli beberapa perlengkapan yang aku ingin kan, begitu juga dengan Sandi, ku kihat dia membeli beberapa cemilan ringan.
__ADS_1
"Kamu kok beli eskrem malam-malam begini, dingin tau" Kata Sandi ketika melihat ku mengambil sebuah corneto oreo.
"Lagi pengen aja"
Kami pun lalu membayar masing-masing belanjaan. Setelah itu kami pun mampir ke beberapa toko jajanan.
"Kamu sering beli jajanan di sini?" Tanya Sandi
"Nggak kok, aku jarang keluar malam-malam begini"
"Kenapa? biasanya anak muda kayak kamu suka keluyuran malam-malam begini"
"Aku bukan ABG lagi, terlalu membuang-buang waktu jika harus keluar malam tanpa tujuan jelas"
"Aku kira kamu masih ABG. ckckckck"
"Kamu nggak liat apa, identitas ku ketika aku cek penyakit ku ke kamu kemarin?"
"Uhhh aku lupa, lagian nggak penting juga sih hahahah"
"Ya udah kalo gitu"
"22 thn lebih dikit"
"Wihhh muda amet, masih seger-segernya."
(Tukk)
"Au apaan sih kamu main pukul-pukul aja"
"Biarin, siapa suruh tu mulut nggak dijaga"Ucap ku dengan kesal"lagian aku jug bukan buah kali, di sebut lagi seger-segernya"
"Iya nona maaf kan saya, galak amet sih"
Saat di perjalanan, Aku melihat seseorang di kerumuni sama gadis-gadis muda. Ada yang minta tanda tangan dan ada yang minta foto. Alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui laki-laki tersebut adalah pangeran ku.
"Pangeran kuuuuuu?" Tiba-tiba aku berteriak kencang dan orang-orang itu pun menoleh serta menatap aneh diri ku. Aku pun merutuki mulut ku yang bodoh ini.
__ADS_1
Sandi pun menatap aneh sambil tersenyum mengejek kepada ku. Aku hanya bisa mengurucutkan bibir menahan kekesalan.
Tiba-tiba Saja Riduan berjalan ke arah kami, dan jantung ku rasanya mau meledak, muka ku terasa panas menahan malu. Aku oun menyembunyikan wajah ku di belangkang Sandi.
"Hei Bro,,, penggemar mu masih saja banyak seperti dulu yah, aku tetap saja kalah oleh mu" Kata Sandi .
"Iyaa begitu lah kadang aku pun merasa terganggu, tadi aja aku lagi duduk sendirian eh tiba-tiba ada salah satu pasien ku yang minta foto, lama-lama jadi banyak"
Aku hanya mendengar obrolan mereka dan tidak ikut campur.
"Fa, Raifa? kamu ngapain di belakang ku?" Sandi pun menarik ku agat manghadap ke arah mereka.
"Hai...."Aku pun melambaikan tangan ku sambil menyengir kuda.
"Tadi aja, pas orangnya jauh teriak-teriak manggil pangeran ku, sekarang giliran orangnya sudah ada di sini ehh malah ngumpet"
"prakkkk" "Auuhhhh aduhhh sakit tau Fa, main injak aja sih kamu"
Aku pun hanya menatap sebal Sandi.
"Ehh kalian berdua sejak kapan jadi akrab begini?" Tanya Riduan
"Belum lama kok, baru beberapa hari" Jawab Sandi.
"Oh ya aku bekum tau nama mu siapa?, Padahal kita sudah beberapa kali bertemu?"Sambil menyidorkan tangannya" Aku Riduan"
"Raifa" Balas ku, " Makasih yah udah minjemin sapu tangan mu kemarin" Kata ku
"Iya sama-sama"
"Wah wahh kalian sudah lama pernah bertemu rupanya" Sandi pun ikut bicara" Dari pada berdiri di sini mari kita duduk di bangku itu saja.
Kami pun duduk, di sebuah bangku sambil menikmati jajanan. Kami oun berbincang-bincang dan ternyata Riduan adalah salah satu dokter gigi di rumah sakit yang sama dengan dokter Sandi. Mereka adalah sahabat sejak SMP hingga saat ini. Ketika berada di sana tak henti-hentinya jantung ku berdegum kencang sambil memandang wajah pangeran tampan ku.
"Ehem.... awas jangan di liatin mulu, nanti malah kebawa mimpi" Mendengar kalimat tersebut aku pun terkesiap dan langsung menginjak kaki Sandi.
"Auhh kayaknya kaki aku bakalan gepeng nih lama-lama"
__ADS_1
"Biarin...Weeekkk..." Aku pun menjulurkan lidah.
Sedangkan Dokter Riduan hanya tersenyum tipis. Tak berapa lama kemudian kami pun memutuskan untuk kembali ke kontrakan masing-masing karena hari sudah mulai larut.