
"Derrrttt derrrtt"
"Haloo..."
"Jangan lupa hari ini jadwal kamu buat melakukan pengobatan"
"Masak sihh?"
"Tuh kan kalau nggak di igetin kamu jadi lupa, udah pokoknya aku tunggu kamu di ruangan aku jangan nggak dateng"
"Tapi kan aku harus kerja" Kata ku dengan nada lemas.
"Kesehatan kamu juga penting loh,,, "
"Iya iyaa" Tut.
Aku pun merebahkan tubuh ku kembali. Aku pun merenung sebentar, apakah aku harus manjalani terapi ini, sebenarnya aku takut sangat takut sekali. Selain itu biayanya juga pasti lumayan besar dan juga ada efeknya ke tubuh ku yang lain. Andai saja ada pengobatan tradisional yang bisa menyembuhkan penyakit ku ini.
"Huhh"
Aku pun melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Hari ini ku putiskan untuk tetap bekerja srperti biasanya. aku tidak memperdulikan jadwal terapi yang telah di buat olah dokter sandi, bahkan untuk sementara waktu aku memblokir kontak dokter Sandi.
"Huhh tenang"
Hati ini seperti biasanya aku mngajar dan mendidik anak-anak, menyampaikan materi pelajaran seperti biasanya.
Namun tiba-tiba aku merasakan benjolan di payudara ku berdenyut kencang dan nyeri yang luar biasa hingga aku pun merasa mau pingsan.
~uhh sakit sekali,,,, stttt
"Ibu kenapa Bu, Ibu lagi sakit?" Tanya salah seorang peserta didik ku.
"Iya, Ibu kurang enak badan, kalian lanjutkan tugas nya yahh, nanti kumpulkan ke meja Ibu"
__ADS_1
"Iya Bu, nanti saya antarkan tugas saya dan teman-teman"
Aku pun meninggalkan kelas dan kembali ke kantor.
"Ibu kenapa?" Tanya Bu Desi
"Saya kurang enak badan Bu"
"Owh...ya sudah kalau begitu ibu istirahat saja"
Aku pun beristirahat di kantor, ku pejamkan mata ku sambil mengatur nafas. Pikiran ku terus menrawang tanpa arah.
Jam pulang pun tiba, aku pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku terus saja memikirkan penyakit ku ini. Sampai-sampai tak sadar aku menabrak sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Seketika itu pun mata ku berkunang-kunang dan dunia terasa gelap.
Aku pun terbangun dan ku lihat langit-lagit putih, terpasang selang infus di tangan ku. Ku dengar suara dua orang laki-laki sedang berbincang-bincang. Ingin ku buka tirai tersebut namun apa lah daya tangan tak sampai. Tak lama kemudian bunyi langkah kaki mendekat ke arah ku.
Ternyata dia adalah pangeran tampan ku, si dokter Riduan. Aku pun menatap heran dirinya, namun dia malah menebar senyum pada ku,,, ya ampunn makin meleleh deh.
"Kamu sudah sadar?"
"Tadi kamu kecelakaan, jadi aku bawa kamu ke sini"
"Emz makasih yahh dokter Riduan"
"Riduan saja, tidak usah ada embel-embel dokternya"
"I iya Riduan"
...~Pengennya sih aku manggil kamu itu ayang beb prince , bukan Riduan saja...
"Sepertinya kmu lagi banyak beban pikiran, kalau tidak keberatan boleh kok cerita sama aku"
Aku membelalakan mata mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Riduan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kok"
"Tak baik menyimpan banyak masalah sendirian, setidaknya dengen bercerita hati mu terasa lebih plong"
Aku hanya diam, dengan tatapan kosong. Aku berpikir apakah aku harus bercerita kepadanya. Namun , aku tak ingin membagi kesedihan ku dengan orang lain.
"Percayalah pada ku"
Tes! Tes! Tes!
Tiba-tiba air mata ku menetes tak terduga. tangis ku pun semakin pecah, Aku pun menangis sesegukan, tak memperdulikan adanya Riduan yang sedang menatap ku.
Sambil menangis aku pun menceritakan isi hati dan hal-hal yang menjadi beban pikiran ku. Aku tak memperdulikan Riduan yang bukan siapa-siapa bagi ku.
"Segala sesuatunya pasti ada hikmahnya, jangan bersedih hati. Kamu adalah wanita kuat, aku percaya kalau kamu bisa sembuh asalkan sabar dan tekun menjalani pengobatan"
"Terimakasih sudah mau mendengar keluah kesah ku, maaf kamu harus melihat kesedihan ku"
"Tidak apa-apa, lagi pula kita kan juga bertemankan?"
"He eh Iya..."
Prove Riduan~
Kenapa wanita seperti kamu harus menderita penyakit seperti ini.
"Teman mu ini mengalami setres berat dan sepertinya dia juga memiliki penyakit dalam yang cukup parah"
"Apa itu dokter?"
"Sepertinya kanker, tapi itu hanya dugaan saya saja, untuk lebih jelasnya nanti coba tanyakan secara langsung atau melakukan pengecekan ke dokter ahlinya"
"Baiklah dokter terimakasih"
__ADS_1
"Sama-sama dokter Riduan"
Mendengar hal itu terasa tulang-tulang ku menjadi lemas seketika.