Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
Bab VIII -Berbunga-bunga


__ADS_3

Kedekatan Niwi dan Dokter Ray membuatnya sangat bersemangat menjalani hari-harinya di stase Penyakit Dalam. Niwi juga semakin giat belajar, karena tak ingin membuat Dokter Ray malu jika dia terlihat bodoh. Tiga minggu terakhir ini mereka sangat intens berkomunikasi, bahkan beberapa kali mereka makan bersama, seperti siang ini.


"Berapa minggu lagi sebelum pindah stase?" tanya Dokter Ray pada Niwi.


"Seminggu lagi, Dokter," jawab Niwi.


"Saya gabisa sering-sering ketemu kamu,dong" ucap Dokter Ray yang membuat Niwi tertegun.


"Memangnya Dokter bakal kehilangan saya, gitu? atau mungkin Dokter bakal kangen sama saya, ya?" goda Niwi.


Dokter Ray tertawa lepas, meneguk minumannya, dan menatap Niwi.


Ia mengedipkan sebelah matanya. "Sepertinya begitu.."


"Di RS ini banyak koas-koas cakep, loh, Dokter. Nah..residen-residen cakep juga banyak.." ujar Niwi.


"Saya tidak sedang mencari perempuan cantik, lho.." Dokter Ray berujar sambil tertawa kecil.


"Tapi Dokter harus secepatnya cari calon istri, sebelum semakin banyak perempuan yang godain, sebelum semakin banyak orang yang mikir kalau dokter itu ga.. oopsss.." Niwi tersadar dan tidak melajutkan kata-katanya. Kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga.


Dokter Ray menatapnya curiga, dan kemudia tertawa kecil. "Sudah, tidak perlu ragu untuk melanjutkan ucapanmu. Saya sudah terlalu sering dikatain gay, kok.."


"..dan Dokter kenapa tidak marah?" tanya Niwi.


"Buat apa saya marah? Yang pertama seorang gay sekalipun tidak pernah meminta dilahirkan untuk menjadi seorang gay. Mereka hanya memiliki masalah dengan jati diri dan juga orientasi seksualnya. Diatas semua itu, mereka juga manusia biasa dan tidak layak dianggap sedemikian hinanya.."


Niwi mendengar dengan cermat.

__ADS_1


Dokter Ray melanjutkan ucapannya. "dan yang terpenting sedari dulu sampai sekarang, saya masih suka sama perempuan, kok.."


Perlahan Niwi menurunkan kembali kedua tangannya dan meletakkan di atas meja. "Lantas kenapa dari sekian banyaknya perempuan cantik di sekeliling Dokter, tidak ada satupun yang berhasil mencuri perhatian Dokter?" tanyanya lagi.


Dokter Ray menghela nafas panjang. "Saya masih laki-laki dewasa, yang sewajarnya laki-laki normal, pasti tertarik pada lawan jenis yang terlihat menarik. Setiap wanita punya sesuatu dalam dirinya yang bisa mempesona lawan jenisnya, entah itu tampilan luarnya, karakternya, prestasinya, hobbynya, dan banyak hal lagi. Bagi saya komitmen pernikahan itu lebih dari sekedar ingin memiliki lawan jenis berdasarkan ketertarikan semata. Saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup saya"


Niwi terdiam mendengar penjelasan Dokter Ray barusan. Mulutnya ternganga, masih banyak rasanya pertanyaan yang ingin diajukannya, namun ia ragu.


Dokter Ray menatapnya sambil tertawa. "Ayo, tanya saja. Minggu depan kan giliran saya yang nanyain kamu saat ujian akhir.."


Niwi memberanikan diri kembali. "Apa yang menjadi pertimbangan kuat Dokter dalam memilih pasangan hidup?"


Dokter Ray menghela nafas panjang. Sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Saya tahu persis bagaimana rasanya jatuh cinta dan ingin memilikinya seutuhnya, untuk selamanya. Saya pernah merasakannya dulu, bahkan saya masih ingat betul semua rasa itu. Bahagianya, cemasnya bahkan sakit hatinya. Saya pernah beberapa kali dekat dengan seseorang, tapi rasa yang saya rasakan tidak sama seperti apa yang pernah saya rasakan dulu.."


"Apa Dokter merasa bahagia setiap bersama saya?"


Dokter Ray tertegun mendengar pertanyaan Niwi. Dia terlihat sedikit salah tingkah, dan beberapa kali menghela nafas panjang, sebelum menjawabnya.


"Ada perasaan bahagia ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama kamu,Niwi. Ada rasa rindu setiap kali saya tidak melihat kamu. Saya seperti merasa harus bisa mengajari kamu banyak hal, membahagiakan kamu, dan bertanggung jawab atas hidup kamu.Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang sedang saya rasakan, tapi yang jelas saya memang sangat-sangat ingin untuk selalu ada di dekat kamu.."


Jantung Niwi berdegup sedemikian kencangnya. Sang Konsulen tampan idola satu Rumah Sakit saat ini sedang ada di hadapannya, dan mengucapkan setiap kata yang mungkin sangat ingin didengar oleh setiap wanita di RS ini. Dia tersenyum salah tingkah.


"Dokter jangan bikin saya GeeR, dong.." ujar Niwi malu-malu.


Dokter Ray tertawa, lalu mengacak rambut hitam Niwi. "Makanya kamu jangan jauh-jauh dari saya, ya..."

__ADS_1


"Saya gak ada uang juga buat beli tiket pesawat ke kutub utara, Dokter. Paling jauh juga gerbang RS.." ujar Niwi lagi yang membuat Dokter Ray tertawa lepas.


"Makanya kamu belajar yang bener, jadi Dokter yang baik, nanti saya bawa kamu jalan-jalan ke manapun yang kamu mau. Janji.." ujar Dokter Ray.


"Saya sih, gak kemana-mana juga gak apa, yang penting bisa lihat Dokter" jawab Niwi lagi.


"Memangnya kamu suka lihat Oom-oom seperti saya ini? Teman-teman kamu banyak tuh, yang masih muda, keren, seperti anaknya Dokter Erland.." goda Dokter Ray.


"Sejak kenal Dokter, kok saya jadi doyan oom-oom kayaknya yaa?" jawab Niwi sambil mendelik jahil ke arah Dokter Ray.


"Yang penting kamu harus lulus tepat waktu, jadi dokter yang baik dan bener, gak nakal, itu sudah bisa bikin oom-oom ini bahagia, kok.." ujar Dokter Ray.


"Omongan Dokter itu persis seperti ucapan Ibu saya," ujar Niwi.


"Yaaah wajar lah, saya kan seumuran Ibu kamu", balas Dokter Ray lagi.


"Berarti Dokter gak boleh main ke rumah saya.." ucap Niwi mendadak yang membuat Dokter Ray bingung.


"Kenapa?" tanyanya. "Gimana saya mau ijin ke Ibu kamu buat bisa dekat sama anaknya"


Niwi menatap mata Dokter Ray dengan tajam, mendekatkan wajahnya ke wajah tampan sang konsulen tampan.


"Nanti Ibu saya naksir, saya yang patah hati..", jawab Niwi.


Mereka berdua tertawa lepas. Merasa bahagia.


Tak ada kata berpacaran. Tak ada juga momen romantis layaknya dua orang yang sedang saling suka. Tapi itu semua sudah cukup bagi keduanya.

__ADS_1


Cukup bagi Ray untuk memberitahu Niwi tentang perasaannya, dan cukup bagi Niwi untuk tahu bahwa sang Konsulen tampan memang menyukainya


__ADS_2