Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
Bab.III -Konsulen Tampan-


__ADS_3

Hari ini Niwi mendapat giliran jaga malam, yang artinya dia akan berjaga sampai pukul 8 keesokan paginya. Niwi telah berpamitan pada Ibunya.


"Jangan jajan sembarangan," pesan Ibunya melalui pesan teks.


Niwi mengamati status-status pasien di Bangsal itu. Penyakit mereka beragam, dengan tingkat keparahan yang berbeda pula.


"Koas, nanti tolong cek lagi tekanan darah pasien di Bed 2 ya, pasien tadi sudah dapat obat hipertensi sub lingual 15menit lalu, Nanti kalau sudah dicek, langsung laporkan ke Dokter Ray, beliau penanggungjawabnya", seorang perawat tiba-tiba berkata pada Niwi.


Niwi sudah berkenalan dengannya. Namanya Suster Hesti, Kepala Ruangan bangsal ini.


"Sebentar ya, kak.." Niwi bergegas mengambil tensimeter dan stetoskop, dan berjalan mendekati pasien di Bed 2. Pasiennya adalah seorang pria paruh baya, dengan diagnosa klinis Gastric Ulcer+Hipertensi.


"Permisi,Pak, saya cek tensinya yaa.." Niwi meminta izin pasien terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan. Pasien mengangguk, dan Niwi mulai bekerja.


"160/90..." Niwi berkata sambil tersenyum, lalu berjalan ke arah Nurse Station untuk mencatat si buku. Dia lalu mengambil telepon dan bersiap melapor pada Dokter Ray, sang Konsulen.

__ADS_1


Bagian ini adalah bagian paling mendebarkan bagi setiap Dokter Muda. Harus melaporkan kondisi pasien secara mendetil, dan harus mengingat instruksi dari konsulen. Kalau ada yang salah, bisa fatal akibatnya.


Niwi terlebih dahulu sudah berkonsultasi dengan rekan dan seniornya di bagian itu, dan meminta izin untuk melapor pada Dokter Ray. Niwi mulai menekan nomor telepon dan mendengar nada tunggu.


"Ya, halo.." terdengar suara dari telepon.


Deg.Jantung Niwi berdebar kencang. Ya, dia sangat gugup. "eh..maaf selamat malam,Dokter, maaf mengganggu. Saya koas Niwi, dari Bangsal Edelweiss, hendak melaporkan........" Niwi melaporkan hasil pantauannya dengan lengkap. Dia sangat gugup, khawatir jika ada kesalahan.


Tanpa diduga Dokter Ray sangat ramah. Niwi mencatat setiap advice therapy dan pemeriksaan lanjutan dari Dokter Ray dengan sangat teliti.


"Terimakasih banyak ya,dik.. Jaga kesehatan," ujar Dokter Ray di seberang sana.


"Dokter Ray itu tampan sekali lhoo," suara Suster Hesti sedikit mengejutkan Niwi. Dia mengedipkan matanya,menggoda Niwi.


"Sepertinya beliau baik ya,kak?" tanya Niwi lagi.

__ADS_1


"Wah.. Dokter Ray itu tipe suami idaman setiap wanita. Tampan, baik hati, ramah, jenius, mapan, dan tidak pelit. Sayang, di usia yang sudah kepala 4, belum juga menemukan jodohnya.."


Glek. Niwi tertegun menatap Suster Hesti. "masa sih kak?" tanyanya meragukan ucapan Suster Hesti.


"Dokter Ray itu banyak sekali ditaksir Dokter dan perawat di RS ini, bahkan di luar RS juga banyak sekali yang berusaha mendekati. Tapi yaaah.. sama sekali belum ada yang sukses meluluhkan hatinya.. Kadang bikin orang jadi berpikir, apa Dokter Ray gak suka wanita ya?" Suster Hesti tertawa pelan.


Niwi ikut tertawa dan membatin, "mungkin juga yaa.. masa iya laki-laki top qualified seperti itu belum laku juga. Masa kalah sama laki-laki pengangguran yang bisa dapet istri?"


"Tapi dengar-dengar, Dokter Ray masih cinta mati sama wanita cinta pertamanya, makanya sampe sekarang belum bisa buka hati", Suster Hesti melanjutkan.


"Memangnya sekarang wanita itu ada di mana kak?" Niwi juga ingin tahu.


"Ada yang bilang menetap di luar negeri, ada yang bilang jg sudah meninggal, yah begitulah, tidak ada yang tahu pasti.."


Niwi menyimak ucapan Suster Hesti, dan mendadak sangat-sangat ingin bertemu dengan Dokter Ray.

__ADS_1


"Mudah-mudahan besok beliau visit pasien sebelum jam jagaku berakhir," gumamnya pelan.


Niwi kembali memeriksa catatan pasien, memastikan tidak ada pasien yang harus di follow up secara ketat. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. Niwi sudah mengantuk. Rekan jaganya yang lain juga sudah beristirahat secara bergantian. Yah, menjalani masa koas memang harus bisa multifungsi. Makan sambil ngetik, dan curi-curi waktu tidur.


__ADS_2