
Rumah Sakit ini adalah salah satu Rumah Sakit Pemerintah di kota ini. Rumah Sakit Tipe B. Bangunannya cukup kokoh walaupun sudah puluhan tahun berdiri. Rumah Sakit ini juga merupakan salah satu Rumah Sakit Pendidikan di kota ini, yang artinya, di Rumah Sakit ini ada banyak siswa/i Kedokteran, dan tenaga kesehatan lain yang sedang menjalani praktik lapangan.
Niwi berlari sekencang mungkin. Nafasnya tersengal. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.55, artinya dia hanya punya waktu 5 menit tersisa untuk menampakkan diri di Aula, berkumpul bersama rekan-rekan Dokter Muda lain dan Dokter Pembimbing mereka, di hari pertama mereka di Rumah Sakit ini.
"Aaarrgh..seandainya tadi aku tidak menolak ajakan bang Tio, pasti tidak begini ceritanyaa...." gerutunya dalam hati.
Tio adalah senior Niwi di kampus, yang sudah lebih dulu menjalani masa koas di sini. Ada alasan kuat mengapa Niwi menolak tawaran Tio untuk pergi bersama ke Rumah Sakit. Tio menyukai Niwi, bahkan sejak masa orientasi mahasiswa baru. Tio sering menolong Niwi agar tidak diisengi para senior lainnya. Tio sering mengajak Niwi makan di kantin kampus, dan mengajaknya belajar bersama. Setahun lalu, sebelum Tio berangkat koas, dia mengutarakan perasaannya kepada Niwi. Tio adalah anak bungsu Kepala SMF Bedah di Rumah Sakit ini. Ayahnya, Dokter Erland, adalah Dokter Bedah senior di kota ini. Tio berasal dari keluarga berada, dan itu adalah point penting mengapa Niwi tidak bisa menerima cintanya. Ibunya tidak suka dia berpacaran dengan anak orang kaya.
__ADS_1
"Hampir semua temanku berasal dari keluarga berada Bu.." ucap Niwi ketika Ibunya dengan tegas melarangnya berpacaran dengan anak orang kaya.
"Ibu tidak melarangmu berteman dan bergaul dengan mereka. Tapi jangan berkomitmen lebih.." sahut Ibunya.
Niwi pernah mendengar cerita pengalaman pahit Ibunya dengan orang kaya. Bagaimana dulu ada seorang yang kaya raya, sering menjadi donateur Panti Asuhan tempat Ibunya dulu tinggal, bahkan Ibunya sudah menganggapnya seperti Ayahnya sendiri. Kemudian semua sikap baiknya berubah menjadi sangat menyeramkan ketika mengetahui Dini berpacaran dengan putra tunggal mereka. Sang Donateur murah hati seketika berubah menjadi serigala menyeramkan. Dia mengultimatum Dini untuk segera menjauhi putranya, atau dia takkan lagi bersedia menopang perekonomian Panti. Dini menyadari tidak banyak orang yang tergerak hatinya untuk menjadi donateur tetap Panti Asuhan. Dengan berat hati Dini mengubur dalam-dalam cintanya pada putra donateur itu, dan memilih pergi menghilang dari kehidupan mereka. Sampai saat ini. Dini bahkan tak pernah sekalipun mencoba mencaritahu bagaimana kabar pria pujaan hatinya itu sekarang.
Niwi menoleh pada suara yang memanggilnya. Tangannya membalas lambaian seorang Dokter Muda perempuan, dan bergegas duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Lama amat sih..hampir telat tuh.." celetuk Agni, sang Dokter Muda perempuan cantik, sahabat dekat dini sedari kuliah.
"Angkotku sepi penumpang, jalannya lelet..", Niwi menjawab sambil meneguk air minum. Dia sangat haus karena berjalan tergesa-gesa.
Agni terkikik pelan. "Pasti kamu nolak ditebengin bang Tio kan?" tanyanya.
"Apa jadinya aku kalo ada yang liat aku pergi bareng anaknya Dokter Erland? Bisa heboh se-RS, trus aku bakal di responsi tiap hari sama Residen, kalo gabisa jawab pasti diketawain, kalo bisa jawab pasti diledek..ya iyalah..calon mantunya Ka.SMF..." Niwi menjawab kesal.
__ADS_1
Acara perkenalan Koas Baru tiap stase/bagian telah selesai. Niwi mendapat giliran berjaga di bangsal Edelweiss selama 2 minggu pertama. Bangsal Edelweiss berisi pasien-pasien dengan penyakit saluran cerna. Niwi akan follow up kondisi pasien setiap hari, melaporkan pada Dokter Penanggung Jawab Pasien, dan melakukan tindakan medis di bawah pengawasan Supervisor nya.