
Niwi sudah menyelesaikan stase pertamanya dengan baik. Prof. Dr. dr.Hadyanto Rusdi,Sp.PD, K-GH (Konsultan Ginjal dan Hipertensi), sebagi Kepala SMF Penyakit Dalam di RS itu memberikan nilai sempurna kepadanya. Niwi tertawa bahagia. Ia pulang ke rumah dengan sumringah dan memberitahu Ibunya.
"Ibu, aku dapat nilai A, dari Prof, lho.." ujarnya bangga.
Ibunya memeluknya, menepuk pundaknya dengan bangga. "Aku tahu suatu saat kamu pasti bisa sukses, Wi. Jangan cepat puas, ya. Belajar lagi, karena pasien berobat gak mau tahu berapa nilai kuliah kamu dulu, mereka cuma mau sembuh di tangan kamu.."
"Iya, Bu. Niwi tahu. Masih ada banyak bagian lagi yang bakal Niwi laluin.."
Dini menatap putri tunggalnya sambil tersenyum kecil.
"Kamu sudah punya pacar, ya?"
Niwi menjatuhkan jas putihnya spontan, mendengar pertanyaan Ibunya
"Kenapa Ibu tanya seperti itu?" tanyanya.
"Aku ini, Ibumu, juga pernah seusiamu. Memangnya aku tidak lihat semua gelagatmu?" Dini bertanya balik
Jantung Niwi berdegup kencang.
"Ibu melarangku berpacaran, kan?" tanyanya.
"Ibu hanya khawatir kau akan salah langkah,nak..", nada suara Dini terdengar berat ketika mendengar pertanyaan putrinya. "Ibu takut gadis seusiamu tak mampu mengendalikan diri ketika merasa terbuai dengan perasaan...", lanjut Dini lagi.
Mendadak Niwi ingin mengajukan pertanyaan yang begitu tidak disukai oleh Ibunya.
"Sebegitu bejatnya kah Ayah dulu sampai trauma Ibu begitu mendalam?" tanyanya.
Dini menatap putrinya. Sebulir air mata jatuh mengalir dari pelupuk matanya.
"Ayahmu adalah laki-laki yang baik. Dia sangat menyayangiku..", Dini menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Lantas kenapa Ayah meninggalkan kita berdua seperti ini?" tanya Niwi lagi.
"Situasi dan keadaan tidak berpihak kepada kami saat itu. Tak peduli seberapa besarpun rasa sayangnya kepadaku, kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama.." jawab Dini.
Dini memang menutup rapat-rapat cerita kelam masa lalunya dari putrinya. Setiap kali Niwi bertanya di mana keberadaan Ayahnya kini, Dini selalu berkata bahwa Ayah Niwi ada di luar kota, dan karena keadaan yang tidak memungkinkan, mereka berdua tidak dapat bertemu.
__ADS_1
"Aku sudah dewasa,Bu. Dua Puluh Satu tahun dan belum pernah bertemu dengan Ayah kandungku sendiri. Bahkan mendengar suaranya sajapun belum. Bahkan aku tidak mengetahui namanya. Seandainya Ayah memang sudah meninggal, izinkan aku berziarah sekali saja.." pinta Niwi pada Ibunya.
Dini semakin terpukul mendengar penuturan putrinya. Bagaimana bisa ia mempertemukan Niwi dengan ayahnya, sementara ia sendiri juga tidak tahu menahu di mana keberadaan Ayah Niwi sekarang.
Terlalu sakit rasanya bagi Dini setiap kali Niwi mengungkit tentang Ayahnya. Bertahun-tahun Dini menutup rapat semua luka lama itu. Putri kecilnya kini sudah dewasa, mungkin sebentar lagi akan menemukan pasangan hidupnya, sementara ia sendiri belum pernah sekalipun bertemu ayah kandungnya.
Dini mengelus rambut hitam Niwi. Tangisnya tak terbendung lagi.
"Maafkan Ibu, yaa.. Ibu tidak bisa memberikan kamu kehidupan seindah teman-temanmu.."
Emosi Niwi mereda. Ia memeluk Ibunya. Mereka berdua larut dalam isak tangis.
*******
Sementara itu di pelataran parkiran RS, Agni tampak berlari mengejar Tio.
"Bang Tio.." suara Agni terputus-putus karena kelelahan berlari.
Tio menoleh. "Ni.. ada apa?"
"Agni dengar Abang mau ke Kalimantan.."
"Nanti, kalau Abang sudah lulus Ujian Kompetensi..", jawab Tio.
"Terus gak balik ke sini lagi?" nada suara Agni mulai terdengar berat.
Tio menatap Agni heran. "Tergantung keadaan, sih. Kalau nanti Abang nyaman di sana, yaa kemungkinan menetap. Tapi itu ma.."
Kalimat Tio mendadak terputus. Tio menghentikan ucapannya ketika Agni tiba-tiba memeluk Tio dengan sangat erat.
"Ni..ka..kamu kenapa" tanya Tio terbata. Agni semakin erat memeluknya. Terdengar suara isaknya.
"Agni sayang sama Abang. Dari dulu, tapi Agni gak pernah dikasih kesempatan buat ungkapin semuanya. Setiap kita ketemu Abang cuma bahas Niwi, gak ada yang lain. Niwi gak punya perasaan sama Abang, kenapa Abang bertahan nungguin? Kenapa Abang gak kasih kesempatan hati Abang untuk mencintai orang lain?" Agni berujar nyaris tanpa terputus helaan nafas
Saat itu juga, Agni mengungkapkan seluruh isi hatinya pada Tio. Isi hati yang telah begitu lama ingin diungkapkannya.
Agni telah menaruh hati pada Tio sejak awal masa orientasi kuliah. Awalnya dia merasa hanya merasa kagum saja pada sosok senior yang tampan dan baik hati ini. Lama kelamaan Agni merasa bahwa dia telah jatuh cinta pada Tio.
__ADS_1
Agni cukup populer di kampusnya, banyak lelaki mendekatinya. Dia sempat berpacaran dengan teman satu angkatannya, walaupun tak bisa dipungkiri bahwa hati dan perasaannya hanya untuk Tio.
Sampai hubungannya dengan pacarnya berakhirpun Tio tetap berjuang untuk mendapatkan hati Niwi. Hati Agni semakin terluka rasanya.
Tio masih terdiam, membiarkan Agni menumpahkan seluruh isi hatinya. Pakaiannya mulai basah terkena air mata Agni yang masih terus bercucuran.
Tio mengelus rambut Agni, dan perlahan melepaskan rangkulan Agni dari tubuhnya. Dia menuntun Agni ke mobil dan mengajak untuk berbicara di dalam mobil saja.
Tio menenangkan Agni. Dia menawarkan sebotol air mineral. Agni menerimanya.
"Udah tenang" tanya Tio.
Agni mengangguk.
"Maafin Abang, ya, kalau Abang selama ini tanpa sadar selalu menyakiti Agni.." ujar Tio pelan.
Agni tak berani menatap mata Tio. Dia hanya terdiam sambil menatap ke luar melalui kaca depan.
"Maaf Agni sedikit emosional. Agni sayang sama Abang. Sejak dulu. Kenapa Abang selalu mengharapkan Niwi yang gak pernah cinta sama Abang?"
Tio menghela nafas panjang. "Kalau Abang bisa, Ni. Abang mau aja buang semua perasaan Abang buat Niwi. Abang lempar jauh-jauh kalau bisa sampai ke ujung dunia..", ujar Tio.
"Abang ga mau buka hati buat orang lain.." ujar Agni lagi
"Kata siapa? Abang berharap bisa mengalihkan semua perasaan Abang ini ke orang lain, tapi Abang minta maaf karna belum bisa..." Tio berusaha menenangkan Agni.
"Sampai kapan Abang nungguin Niwi? Abang belum tahu kalau Niwi pacaran dengan Dokter Ray?"
Tio terkejut mendengar penuturan Agni. Dia memang sudah lama tidak berbicara dengan Niwi. Tio sengaja menjaga jarak, agar tidak semakin mengharapkan Niwi.
"Niwi berhak untuk bahagia dengan pilihannya,Ni. Sama seperti kamu, seperti Abang juga...", tak bisa dipungkiri hati Tio sangat terluka.
Agni memberanikan diri menatap Tio.
"Kasih Agni kesempatan buat dicintai juga, bang.."
Tio menatap Agni. Hatinya tersentuh melihat ketulusan Agni, bersamaan dengan perasaan pedihnya mendengar wanita yang dicintainya ternyata lebih memilih orang yang lain. Tio terpaku dalam diam, membiarkan Agni menenangkan diri dalam pelukannya.
__ADS_1