Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
PROLOG -RAY-


__ADS_3

Ray Gialwi Septian. Aku lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang berada. Kehidupan masa kecilku bisa dibilang sangat bergelimang harta. Ayahku memiliki perusahaan konstruksi, dan Ibuku adalah seorang karyawan Bank. Aku adalah anak tunggal mereka.


Sedari kecil Ayahku mengungkapkan keinginannya untuk menjadikanku penerus di perusahaannya. Bahkan Ayahku lebih mendukungku untuk mengambil kuliah bisnis daripada kuliah kedokteran. Bahkan ayahku sudah berencana mengirimku kuliah di Amerika. Tadinya aku juga berpikiran sama dengan ayahku, sebelum akhirnya aku berubah pikiran.


Aku berkenalan dengan seorang gadis ketika usiaku menginjak 17tahun. Perkenalan kami terjadi saat gadis itu menolongku ketika kakiku terluka terkena ranting pohon. Dia membantuku merawat lukaku. Kami berkenalan, dan mulai menceritakan kisah masa kecil kami.


Aku begitu mengagumi gadis itu. Dia sudah terbiasa dengan kerasnya hidup, mengalami banyak cerita sedih, dan berjuang sendiri demi masa depannya. Dia juga cerdas, sering menjadi juara kelas di sekolahnya. Dia juga bercerita betapa inginnya dia menjadi seorang Dokter.


Semakin lama aku semakin terpesona padanya. Paras ayunya, kedewasaannya, kecerdasannya, dan pendiriannya yang teguh. Aku jatuh cinta padanya, dan ternyata dia juga berperasaan sama denganku. Dia selalu memotivasiki untuk menjadi orang yang mandiri. Tak peduli seberapa mapan orangtuaku, aku harus bisa berdiri dengan kakiku sendiri.


Kami memutuskan ingin sama-sama berjuang untuk masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri ternama di kota ini. Setiap malam kami belajar bersama, dan aku semakin terpesona padanya. Dia begitu cerdas, bahkan dengan serba keterbatasannya dia bisa menguasai pelajaran dengan sebegitu baiknya.


Setahun kemudian kami berdua diterima di Fakultas Kedokteran. Kami sangat bahagia. Sudah terlintas di benakku akan masa depan yang akan kami punya.


"Aku ingin jadi Dokter Anak," ujarnya pada suatu hari di saat kami sedang menjalani masa orientasi mahasiswa baru. "Kamu jadi Dokter Kandungan saja,Wi.." celetuknya lagi.


Dia memanggilku Alwi, karena menurutnya nama depanku terlalu kebarat-baratan.


"Aku jd Direktur RS sajalah. Aku pengen punya RS sendiri, urus sendiri, biar aku bisa dekat-dekat kamu terus", ujarku ketika itu yang membuatnya tersenyum.


"Jiwa bisnis kamu gak ilang-ilang emang, yaaa.." Dia tertawa sambil mencubit perutku.


Melewati semester pertama, aku sudah bisa menebak dia pasti mendapat nilai terbaik, dan benar saja. Dia mendapat Indeks Prestasi tertinggi di angkatan kami, dan berlanjut di semester berikutnya. Dia mengajukan beasiswa ke sebuah Lembaga milik Pemerintah, dan ternyata dikabulkan, maka dia tak perlu risau untuk urusan biaya perkuliahannya sampai selesai nanti.


Kami begitu bahagia. Hanya ada satu hal yang mengusik kebahagiaan kami. Kedua orangtuaku tak mengetahui hubungan kami, walaupun sudah hampir 2tahun kami berpacaran. Aku tahu persis, kekasihku ini bukanlah perempuan yang tepat di mata ayahku, untuk menjadi pendampingku. Bahkan seringkali mereka mengenalkanku pada anak perempuan kolega bisnis Ayahku, ataupun kenalan Ibuku, agar aku bisa berkenalan dengan mereka.


Bulan Juli di tahun itu, gadis kesayanganku ini akan genap berusia 19 tahun. Aku sudah menyiapkan kejutan. Aku mengajaknya makan malam berdua di sebuah villa di puncak. Dia sangat suka dengan alam, terutama kawasan pegunungan. Aku merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginannya.

__ADS_1


Dia mengenakan pakaian layaknya orang yang akan mendaki gunung, karena aku memang mengajaknya dengan alasan itu. Dia tidak tahu bahwa aku sudah mempersiapkan dekorasi untuk makan malam romantis. Ketika akhirnya dia melihat apa yang sudah kupersiapkan, dia memukulku dengan kesal.


"Tau gini kan aku bisa pakaian yang lebih pantes. Bisa pakai gaun.." celetuknya kesal.


Aku tertawa. "Kamu tetap cantik, dengan apapun yang kamu kenakan, kamu tetap mempesona, walau tanpa riasan sedikitpun. Selamat ulangtahun ya,sayang.. semoga suka dengan hadiahku ini.."


Meskipun masih kesal, dia menggenggam tanganku sambil tersenyum. "Kamu gak perlu lakukan apapun, karena aku gak minta. Yang penting kita tetap sehati buat mencapai tujuan indah kita berdua", ujarnya.


Aku memeluknya. Betapa aku sangat menyayangi gadis ini. Gadis sederhana, tapi sangat bersahaja. Berbeda dengan gadis-gadis seusianya, dia sangat dewasa.


Kami menghabiskan makan malam kami, sebelum akhirnya kami masuk ke villa dan terduduk di lantai karena kekenyangan.


"Kamu ini ya,Wi... makan malam romantis tapi menunya kayak makan di kawinan.. gimana sih.." ujarnya sambil tertawa dan mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Kan kamu yang bilang makan itu harus enak, kenyang, bukan cuma gaya-gaya doang.." jawabku.


"Tenang aja, sayang. Aku udah punya penghasilan, kok", aku tertawa.


Dia mentapku heran, lalu mengangguk. "yaaa.. aku lupa kalau kamu udah punya perusahaan atas nama kamu sendiri. Tapi tetap aja, itu warisan, Wi. Kamu harus bisa punya sendiri, atau seenggaknya mengurus sendiri, bukan cuma kebagian profitnya aja," ujarnya lagi.


Begitulah gadisku ini, selalu memotivasiku untuk jadi lebih baik lagi, tak pernah membuatku merasa nyaman dengan semua kemapanan orangtuaku.


Aku menggenggam tangannya erat, dan menatap matanya. "Pasti. Nanti ketika aku sudah sukses, sudah punya RS sendiri, kamu harus tetap ada di samping aku ya. Aku gak mau sama yang lain lagi.."


Gadis itu tersenyum. Kami lama saling menatap, sebelum akhirnya suasana malam itu menciptakan gejolak di hatiku. Gejolak anak muda, mungkin, tapi bagiku ini bukan sekedar hasrat anak muda. Aku sangat menyayangi gadis ini, bahkan walaupun usia kami masih muda, aku benar-benar sangat menginginkannya untuk mendampingiku kelak.


Aku mendekatkan wajahku kepadanya, dan kulihat dia mulai salah tingkah. Aku meraih punggung tangannya, mengecupnya pelan, lalu mulai mengecup bibir merahnya. Ia refleks menjauh, sambil memegang bibir bawahnya. Wajahnya merona merah.

__ADS_1


"Alwi..." aku mendengar lirih suaranya.


"Aku cinta sama kamu..." ujarku sambil semakin mendekatkan tubuhku dengannya. Aku berhasil membuatnya melawan ketakutan dan keraguannya sendiri.


Tak butuh waktu lama untukku bisa membuatnya merasakan hasratku malam itu. Aku juga ingin dia merasakannya. Merasakan betapa besar keinginanku untuk memilikinya seutuhnya, bukan cuma untuk satu malam saja, tapi untuk seumur hidupku.


**********


Pagi itu aku terbangun dari tidurku, mendapatinya masih tertidur lelap. Aku mengecup keningnya, dan dia terbangun.


Aku merasa bersalah, tapi tak bisa kupungkiri betapa bahagianya hatiku saat ini. "Maafin aku,yaa.." ujarku pelan.


Dia menggeleng pelan, wajahnya masih memerah, dan terlihat salah tingkah. "Aku juga salah, Wi, gak bisa mengendalikan semuanya..."


Aku membantunya bangun, mengambilkan pakaiannya yang terjatuh di lantai, dan dia menerimanya sambil memalingkan wajahnya. Dia tampak malu. Dia berusaha bangkit berdiri sambil melilit tubuhnya dengan pakaian seadanya. Dia tampak serba salah. Aku mengerti. Aku memalingkan wajahku agar dia bisa berpakaian.


"Aww..." dia merintih pelan.


Aku tahu pasti alasannya. Aku langsung memeluknya. "Maafkan aku..." ujarku.


**********


Tanpa kami sadari malapetaka itu mulai terjadi. Ayahku mengetahui hubungan kami, dan marah besar. Ayahku memaksaku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku bersikeras menolak. Ayahku juga pantang menyerah melakukan apapun untuk memisahkan kami. Aku terus memperjuangkan sampai akhirnya aku menyerah, saat Ayahku menunjukkan sepucuk surat dan sebuah foto kekasihku yang sedang bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.


Aku terduduk lemas. Surat itu berisi surat perpisahan. Sangat sakit rasanya. Aku mengejarnya ke tempat tinggalnya, namun ternyata dia telah pergi, meninggalkan luka yang teramat dalam di hatiku. Bahkan sampai detik ini. Masih sulit rasanya membuka hati untuk perempuan lain.


Sampai akhirnya, 22tahun kemudian aku mengenal seorang Dokter Muda di RS tempatku mengabdi. Gadis mungil yang sepertinya mulai berhasil membuka pintu hatiku. Dia sangat cerdas, mengingatkanku betapa cerdasnya kekasihku dulu. Aku merasa nyaman saat menghabiskan waktu dengannya, tapi aku merasa masih butuh waktu untuk bisa mengartikan rasa ini.

__ADS_1


__ADS_2