Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
Bab X -Rahasia Terpendam-


__ADS_3

Rumah megah itu berada di sebuah komplek perumahan elit di kota ini. Rumah bertingkat bergaya Eropa dengan pilar-pilar besarnya semakin menambah nuansa mewahnya. Sebuah taman bunga di rumah itu tampak tertata rapi. Tembok pagar rumah itu sangat tinggi dan kokoh. Sangat susah bahkan untuk bisa mengintip bagian depan rumah itu.


Rumah itu terdiri dari 3 bangunan. Bangunan pertama ada di bagian depan, bentuknya seperti pendopo, lumayan luas. Ruangan ini sering dipergunakan untuk menjamu tamu sang tuan rumah. Bangunan itu bersebelahan dengan pos security. Bangunan kedua ada di bagian tengah, yang merupakan kediaman utama. Bangunan ketiga ada di area belakang, berseberangan dengan bangunan kedua yang dipisahkan oleh kolam renang. Bangunan ketiga biasa digunakan sang tuan rumah sebagai ruang kerja.


Sang pemilik rumah mewah itu bernama Roy Adiputranto, seorang pemilik perusahaan konstruksi, dan juga beberapa perumahan elit. Usianya sudah hampir menginjak 70tahun, tapi masih terlihat gagah dan tampan. Istrinya yang cantik bernama Ny.Kinanti Adiputranto, seorang pensiunan banker yang juga masih terlihat menawan di usia senjanya.


Mereka dikaruniai seorang putra, Ray, yang lebih memilih mengabdikan diri menjadi Dokter Spesialis Penyakit Dalam ketimbang meneruskan kerajaan bisnis Ayahnya. Hal ini juga yang membuat hubungan Ayah dan Anak inienjadi sedikit merenggang. Tn. Roy masih belum bisa menerima keputusan putra tunggalnya untuk memilih jalur yang berbeda dengan ayahnya.


Keluarga ini juga terkenal dermawan. Mereka memiliki beberapa yayasan sosial, dan juga menjadi donateur di beberapa Panti Asuhan. Tn. Roy lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja, atau pergi mengunjungi proyek konstruksinya, sementara sang istri, semenjak pensiun lebih sering menghabiskan waktu mengurus taman bunganya.


"Pagi, mam.." Ray menyapa sang Ibu yang sedang menyusun pot anggreknya.


"Pagi..." Ny.Kinanti membalas sapaan putranya tanpa menoleh.


Ray menyeruput kopinya dan duduk di dekat Ibunya. "Mama gak pergi ke ulangtahunnya tante Netha?" tanyanya lagi. Tante Netha adalah adik bungsu sang Ibu.


"Nggak, ah. Mama males.." jawab Ny.Kinanti.

__ADS_1


"Kenapa, ma? Mama sama tante Netha kan dekat banget.." tanya Ray.


Ny.Kinanti meletakkan pot terakhir di rak atas, dan menatap mata Ray. Raut mukanya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat.


"Mama males ketemu sodara-sodara, teman-teman arisan, pokoknya siapapun itu. Mereka, yaa, kalo sudah ngumpul, pasti sibuk bicarain cucu masing-masing.." jawab Ny.Kinanti dengan kesal.


Ray tersenyum kecil. "Taruhan, deh. Anaknya teman mama gak ada yang jadi Dokter ganteng seperti aku kan? Harusnya mama banggain Ray, dong.."


"Haduh, Ray... kalo sekarang ini yang dibanggain itu yaa cucu. Kamu sih, gak nikah-nikah. Umur kamu udah segini, mau nunggu sampai mama sama papa kamu meninggal sekalian,hah?" Ny.Kinanti tampak sangat marah.


Sekali lagi, Ray tersenyum dan menggoda Ibunya. "Yaudaaah, Ray nikah, ya.. Hari ini?"


"Kamu nggak ngerti gimana perasaan mama. Belum lagi mama harus menghadapi kecurigaan teman-teman mama kalo kamu itu punya masalah dengan orientasi seksual. Kamu itu..."


"Gay?" tanya Ray lagi sambil tertawa.


Wajah sang Ibu semakin tampak sangat marah. "Nggak usah mengada-ada kamu. Gak ada sejarahnya di garis keturunan keluarga mama, atau papa kamu, yang seperti itu. Jadi gak usah macem-macem kamu, yaa.."

__ADS_1


Ray memeluk sang Ibu yang masih terlihat sangat marah. "Sabar,ya, mam. Ray juga gak ingin jadi lajang tua begini. Tapi mau gimana,mam? Belum ada satu orangpun wanita yang bikin Ray pengen nikah.."


"Dari sekian banyak rekan kerja kamu? atau teman-teman kamu yang model dulu? Masa iya gak ada satupun sih, Ray?" tanya Ny.Kinanti lagi.


Ray mengangguk pelan. "Belum pernah ada wanita lain, mam. Satu-satunya perempuan yang ingin Ray nikahin dulu ya...."


"Jangan sebut nama itu lagi...." ibunya memotong ucapan Ray dengan cepat.


"Tapi aku gak bisa bohongi perasaanku, mam. Ray pernah beberapa kali punya relationship sama perempuan lain, tapi mam lihat sendiri, kan? Mereka gak tulus, gak ada yang setulus gadis itu,ma.." ujar Ray lagi. Kenangan menyakitkan itu kembali terlintas di benaknya. Tak peduli betapa sakit hatinya, namun Ray tidak bisa membohongi perasaannya bahwa dia begitu merindukan gadis itu.


"Dia sudah mengecewakan kamu, kan? Dia nikah sama orang lain.." ujar Ny.Kinanti.


Ray menggeleng. "Aku kenal dia, mam. Aku yakin ada alasan tertentu atas semuanya. Aku belum sempat meminta penjelasan kepadanya.."


Dari jendela ruang kerjanya, Tn.Roy mengamati istri dan anaknya. Dia mendengar percakapan mereka berdua. Tangannya membuka laci meja kerjanya dan mengenggam sebuah amplop putih. Warnanya mulai pudar, sepertinya usia amplop tersebut juga sudah tua.


Hubungan Tn.Roy dan putranya memang kurang begitu baik sejak peristiwa itu. Sejak dia mengetahui putra tunggalnya menjalin kasih dengan seorang anak perempuan penghuni Panti Asuhan yang didanai olehnya. Dia tidak menyetujuinya. Putranya berhak mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik, menurutnya.

__ADS_1


Dia menyaksikan betul bagaimana kegigihan putranya untuk mempertahankan gadis itu, sampai akhirnya putranya menyerah. Menyerah ketika gadis pujaan hatinya itu lebih memilih untuk menikah dengan orang lain ketimbang dirinya. Tn Roy lega, walaupun ada hal yang mengganjal di relung hatinya. Ada sebuah rahasia yang dia tidak inginkan putranya untuk mengetahuinya.


__ADS_2