Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
BAB IV -Terpesona-


__ADS_3

Niwi tidak bisa tidur semalaman. Matanya sangat mengantuk, namun menolak untuk terpejam. Untungnya jaga malamnya kali ini cukup tenang, Tidak ada pasien gawat.


Niwi pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya, dan menyikat gigi. Matanya sembab, dan dia sangat lelah dan mengantuk. Ini sudah pukul 07.30, dan sebentar lagi jam jaganya berakhir. Dia sudah menyelesaikan laporan jaganya semalam.


"Wi...Dokter Ray visite.." Niwi mengenal baik suara itu. Tio. Dia mengetuk pintu kamar mandi.


"Kok abang tau?" Niwi membuka pintu sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.


"Abang tadi sarapan di kantin depan, mobilnya Dokter Ray masuk parkiran, paling sekarang masih visite di sebelah, habis itu kesini.." jawab Tio sambil tersenyum kecil. Tio menyerahkan secarik kertas pada Niwi. "Pasien Dokter Ray ada 2 orang di bangsal ini..."


Niwi mengamati kertas tersebut. Tertulis data pasien lengkap dengan diagnosa, terapi, pemeriksaan penunjang terakhir, dan rencana tindakan.


Tio menyadari kebingungan Niwi. "Kamu baca aja ini, nanti kalo ditanya, gak bingung lagi. Memang senioran kamu disini gak ngajarin?" tanyanya lagi sambil mencari tahu keberadaan rekan jaga Niwi.


Niwi semalaman bertugas jaga dengan 3 koas lain. salah satunya adalah seniornya sendiri. Tapi Niwi kenal betul seniornya yang ini bagaimana. Semalaman malah asyik bermain game online, dan melimpahkan tanggung jawab pada Niwi dan kedua koas lainnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Tio lagi.

__ADS_1


Niwi menggeleng. "Makan di rumah saja, bang. Ibu sudah siapin makanan."


"Abang antar pulang, ya.." Tio kembali membujuk Niwi, walaupun dia tau gadis mungil ini pasti menolaknya.


"Niwi pulang bareng Agni. Tadi Agni ngajakin sarapan bareng.."


"Lhaa..katanya mau makan di rumah?" pertanyaan Tio membuat Niwi terdiam. Sial. Ketahuan bohongnya.


"Intinya Niwi akan pulang bareng Agni.." Niwi kembali menegaskan.


Tio tersenyum, menyerah. "Baiklah.. hati-hati ya.. Abang duluan.." dan Tio melangkah pergi.


"Bang Tio..." terdengar suara Agni dari kejauhan. Tio membalikkan badannya. "Abang mau pulang?" tanyanya. Dia sudah berada di samping Tio.


Niwi memandang dari kejauhan. Agni sangat cantik. Ibunya berdarah Manado-Belanda, dan mewariskan sepasang mata coklat nan indah untuknya. Rambutnya kecoklatan dan sangat lebat. Kulitnya juga putih mulus. Jujur,seringkali Niwi merasa iri pada kecantikannya.


"Agni mau nungguin Niwi,ya? tanyanya.

__ADS_1


Agni menggeleng. "Agni kan jaga pagi, bang.. ini baru sampai," jawabnya.


Tio sekali lagi menatap kecewa pada Niwi. Dua kali sudah Niwi membohonginya. Niwi juga merasa bersalah. Dia hanya menunduk malu.


"Wi...Dokter Ray.." Tio spontan menunjuk ke arah belakang Niwi. Niwi menoleh dan bergegas kembali ke bangsal.


Dokter Ray Gialwi Septian, Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastro-Entero-Hepatologi. Berkulit sawo matang, rambut ikal dengan bagian depan sedikit menjuntai di depan bingkai kacamatanya. Sangat tampan, hidung mancung, dan tubuhnya sangat atletis.


Glek. Niwi menelan ludah. Ketampanan Dokter Ray sangat jauh melampaui ekspektasinya. Kharismanya juga sungguh luar biasa. Dia tersenyum ramah menyapa para perawat dan dokter jaga. Dengan lembut ia menyapa pasiennya. Dia memicingkan matanya ketika menatap Niwi.


"Halo, dik koas. Semalam kamu yang follow Bapak Yuda, ya?" tanyanya sambil tersenyum.


Niwi mendadak salah tingkah. "i..iyaa benar, Dokter", jawabnya terbata.


Dokter Ray tertawa kecil. "Habis jaga malam,ya? kecapean sekali sepertinya. Nanti langsung istirahat yaa.." ujarnya lagi.


Jantung Niwi berdegup kencang. Wajahnya merona merah. Dia sudah sering bertemu pria tampan tapi tak pernah merasakan perasaan seperti sekarang ini. Sepertinya sudah terlambat untuk menutup celah di hatinya. Tanpa sadar dia sudah memberikan ruang yang cukup untuk benih cinta untuk tumbuh dan berkembang di sana.

__ADS_1


Dia terpaku. Sesaat melupakan segala larangan Ibunya. Dia begitu terpesona.


__ADS_2