
"Niwi Sahandya.. ini adalah panggilanku yang ketiga untukmu..." Dini mengetuk pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga, berkali-kali meneriaki putrinya agar segera bergegas keluar dari kamar mandi.
"Sebentar, Bu.. masih ada sisa lulur tertinggal di kakiku.." Niwi mencoba bernegoisasi dengan Ibunya dari dalam kamar mandi.
Dini sadar bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bisa dikompromikan. Dia kembali mengetuk pintu kamar mandi dengan sekeras mungkin.
"Aku sudah bilang berkali-kali kan.. di rumah ini kita berbagi 1 kamar mandi, dan kita sama-sama punya aktifitas mendesak di pagi hari. Apa tidak bisa luluran di sore hari saja?"
"Nanti aku dinas siang,Bu..sampai jam 8 malam. Bagaimana mungkin aku bisa menyempatkan diri luluran?" Niwi masih mencoba bernegoisasi dengan Ibunya.
"Kalau begitu bangunlah lebih awal..", lanjut Dini.
__ADS_1
"Aku sudah bangun pukul setengah 5 pagi, Bu, membersihkan rumah, menyiapkan sendiri keperluanku, dan memasak sarapan. Apa besok aku harus bangun jam 3 pagi?" Niwi mulai emosi.
"Kalau perlu.." Dini tak mau kalah.
Niwi mendengus kesal. Dia segera bergegas membasuh tubuhnya dan melilitkan handuk melingkari tubuh mungilnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah sangat kesal.
"Kenapa kita setiap hari harus berdebat,Bu?"
"Jangan pernah berharap hidupmu harus selalu indah. Dunia ini kejam,nak.. kau tak kan selalu mendapatkan hal terindah sesuai keinginanmu. Hidup ini keras, menyakitkan.."
"Aku hanya ingin mencoba mewarnai hidupku sendiri,Bu. Mencari cara bagaimana caraku untuk bisa menikmati hidup. Aku tidak mengeluh. Hanya saja, tolonglah, bisakah kita untuk tidak meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting seperti ini?" Nafas Niwi tampak tersengal menahan amarah.
__ADS_1
Dini beranjak masuk ke kamar mandi, dan hendak menutup pintu. Ia membelai rambut hitam putrinya. "Maafin Ibu yaa.. Tante Sera hari ini punya banyak sekali reservasi pasien. Ibu hanya ingin bergegas ke klinik, menyiapkan segala sesuatunya agar tidak kacau balau.."
Niwi masih kesal, matanya hanya terpaku menatap lemari es. "Hari ini aku stase pertama.. apa Ibu tahu?"
Dini tersenyum kecil. Lesung pipinya tampak malu-malu. "Ibu tahu, dan Ibu tidak ingin kau terlambat. Setiap waktu sangatlah berharga, nak. Jangan pernah menyia-nyiakannya.."
Niwi beranjak ke kamarnya, menutup pintu, dan menghempaskan tubuhnya di kasur, masih dengan handuk basah yang melilit tubuhnya. Jantungnya masih berdebar, menahan amarah.
Niwi sangat menyayangi Ibunya, dan setiap saat dalam hidupnya dia sangat menginginkan memiliki hubungan yang jauh lebih baik dengan Ibu kandungnya. Seperti anak perempuan lainnya yang bermanja dengan Ibunya, pergi berbelanja bersama, ke salon, atau memasak bersama. Tapi inilah hidupnya. Ibunya bukan tipikal Ibu seperti itu. Ibunya bekerja sangat keras demi menghidupi mereka berdua. Niwi juga sadar masa kecil Ibunya dan juga cerita masa lalunya yang tidak baik, menjadikan watak Ibunya menjadi seperti sekarang.
Niwi berpakaian,mengenakan pakaian yang telah disiapkannya semalam. Menyiapkan segala peralatan tempurnya,stetoskop,tensimeter,thermometer,penlight, refleks hammer, buku catatan kecil, dan beberapa alat tulis. Dia memandang jas putih yang tergantung di balik pintu, mengambilnya, dan mengenakannya dengan bangga. Ia menatap cermin, mulai menata rambut, dan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Dokter Muda Niwi Sahandya, calon Dokter Bedah Kardiovaskuler handal di masa depan.." ucapnya di cermin