
"Apaa? Bang Tio mau ke Kalimantan?" tanya Agni pada Niwi, setelah mendengar penjelasan Niwi.
"Katanya gitu, mau kerja jadi Dokter Perusahaan," jawab Niwi.
Agni terdiam, sorot matanya tampak sedih.
"Ni..kamu kenapa?" tanya Niwi. Agni tersadar dari lamunannya.
"Ah.. ga apa kok.. eh gimana kamu sama konsulen ganteng itu?" Agni mengalihkan pembicaraan.
Niwi mendadak tersipu malu. "waktu sehabis poli kemarin, kami makan siang bersama," jawabnya.
"Whuih..gilee.. inceran kamu langsung konsulen, ga ke residen dulu..." Agni mendecak kagum.
Niwi tertawa lepas. "Ternyata Dokter Ray itu baiknya gak dibuat-buat. Beneran baik. Dia ceritain banyak hal tentang dirinya.."
"Hahahaha.. awas aja kamu jatuh cinta beneran.." ancam Agni.
Niwi tertegun. Cinta? Apa iya? Mungkin terlalu cepat untuk mengatakan ini cinta. Mereka baru satu kali makan siang bersama, dan belum pernah berkomunikasi lewat telepon selain untuk urusan pasien. Ditambah lagi, usia mereka terpaut hampir 22 tahun. Dokter Ray lebih cocok jadi Ayahnya ketimbang jadi pasangannya.
"Wi...malah bengong.." suara Agni membuyarkan lamunan Niwi.
"Emang kalo naksir Oom-oom itu dosa, ya?" Niwi bertanya pada Agni.
Agni terkekeh. "Yaa enggak, sih.. Asalkan oom-oom nya bukan suami orang, yaa.."
Suara dering ponsel terdengar dari dalam tas Niwi. Ia menoleh ke layar ponsel dan tercengang. Dia terdiam membisu. Mulutnya menganga, seakan tak mempercayai penglihatannya sendiri.
"Ni..." ujarnya pelan pada Agni.
"Kenapaa?" Agni mulai khawatir.
Niwi memperlihatkan layar ponselnya pada Agni. Keduanya tertegun. Niwi terlihat ragu untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Dokter Ray nelpon aku, kenapa, ya?" tanyanya.
"Udah,jawab ajaa...." celetuk Agni.
__ADS_1
Niwi mengumpulkan keberaniannya dan menjawab panggilan telepon.
"Ha..halo...selamat siang,Dokter..." ujarnya terbata.
"Halo, Niwi.. kamu lagi dimana?" suara hangat Dokter Ray terdengar dari seberang telepon.
"Sedang di kantin belakang RS, Dokter.."
"Kamu dinas sore, tidak?" tanyanya lagi.
"Tidak, Dokter. Saya sudah selesai dinas untuk hari ini", jawab Niwi.
"Ooh, kalau begitu saya tunggu di ruang poliklinik sekarang, yaa.."
"Baik, Dokter, selamat siang.."
Dokter Ray mengakhiri panggilan itu. Niwi dan Agni tercengang heran.
"Apa aku bikin kesalahan fatal, ya?" tanya Niwi.
Niwi melangkahkan kakinya ke ruangan poliklinik Gastro-Entero-Hepatology. Ruangan itu sudah hampir kosong. Hanya ada Dokter Ray yang tampan di sana. Ia masih duduk di kursinya sambil menulis beberapa lembar catatan.
Niwi memberanikan diri mengetuk pintu. Dokter Ray menoleh, lalu tersenyum. Ia mempersilakan Niwi masuk.
Dokter Ray memang luar biasa tampan. Hari ini dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru, dengan jeans warna biru dongker. Sama sekali tak terlihat bahwa usianya sudah kepala 4.
Dokter Ray menyadari kehadiran Niwi. Dia tersenyum manis menoleh ke arah Niwi.
"Hei, sini duduk," dia mempersilakan Niwi duduk.
Niwi, yang masih kebingungan, menurut saja dan duduk di kursi yang biasa diduduki pasien saat sedang konsultasi.
"Maaf, Dok. Saya ada buat salah apa?" Niwi bertanya dengan penuh kekuatiran.
Dokter Ray tertawa lepas. Lesung pipinya yang tipis semakin melengkapi ketampanannya.
"Takut amat, sih.." ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Niwi menelan ludah, Imajinasinya sudah bergerak liar. Dia membayangkan adegan-adegan romantis di Serial Drama Grey's Anatomy. Dia ingin segera melingkarkan lengannya di leher Dokter Ray, membiarkan tatapan mereka saling beradu, dan entah apa yang akan terjadi berikutnya, dia akan memilih untuk menyerah dengan keadaan.
"Niwi..." Dokter Ray melambaikan tangannya tepat di depan wajah Niwi yang sedari tadi tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Eh..iya, Dokter.." Niwi tersadar dari lamunannya. Pipinya merona merah.
"Makan malam, yuk.." ucap Dokter Ray yang membuat Niwi menggenggam erat saku jas putihnya.
****************
Dokter Ray mengajak Niwi makan di Cafe yang kebetulan tak jauh dengan tempat tinggalnya. Mereka menceritakan banyak hal.
"Kamu pasti bisa jadi Dokter hebat, Wi. Kamu pinter, pekerja keras, baik hati..." puji Dokter Ray.
"Semoga saya bisa dapet beasiswa buat sekolah spesialis, ya, Dok. Kalau untuk biaya sendiri, ibu saya mana sanggup.." ujar Niwi.
Niwi menceritakan garis besar kehidupan keluarganya. Sesekali mereka tertawa. Dokter Ray ternyata suka bercanda.
"Saya dengar kamu pacaran sama anaknya Dokter Erland, ya?" goda Dokter Ray lagi.
Niwi melotot heran. "Dokter dengar berita darimana?"
"Dokter Erland itu dulu senior saya di FK, kita cukup dekat. Beliau sering cerita soal anaknya yang lagi suka sama salah satu koas Penyakit Dalam yang imut-imut, pinter, ceriwis. Emang ada lagi selain kamu?" Dokter Ray menggoda Niwi yang membuatnya tersipu malu.
"Kita ga pacaran, Dokter.." ujarnya.
"Saya kenal anaknya, baik kok. Kenapa kamu gak mau?" tanyanya lagi.
"Mungkin saya sukanya belum sekarang," jawabnya asal.
"Memang kamu suka cowok yang bagaimana?"
"Tidak ada kriteria khusus. Yang penting dewasa," jawab Niwi.
Dokter Ray menatapnya tajam, sambil tersenyum. "Kalau sama yang jauh lebih dewasa dari kamu, mau?"
Niwi terdiam. Jantungnya berdegup sangat kencang. Namun tak dapat dipungkiri, ia merasa sangat bahagia.
__ADS_1