
Sudah hampir 2minggu sejak Tio resmi berpacaran dengan Agni. Keduanya sering terlihat duduk berdua di kantin, diskusi bersama, bahkan Tio tampak sering mengantar jemput Agni. Tio memang memberikan kesempatan kepada hatinya untuk melupakan Niwi, dan belajar mencintai Agni.
Niwi masih belum menyadari hal itu, sampai pada hari ini, ketika Niwi memergoki Agni sedang tertidur di bahu Tio.
"Ni...gak pulang?" bisiknya pelan di telinga Agni.
Tio yang ikut tertidur perlahan sadar, dan tampak salah tingkah melihat Niwi sedang memergoki mereka berdua.
"Eeh, Wi..sudah lama di sini?" tanyanya kikuk.
"Barusan, kok, bang.." jawab Niwi.
"Agni habis jaga malam. Banyak pasien *folket (*\=follow ketat) katanya.." ujar Tio lagi.
Niwi dan Agni saat ini ada di stase Bedah. Agni dapat jadwal jaga IGD dan Niwi berjaga di bangsal.
Tio menyikut Agni, dan kemudian Agni terbangun.
"Eeh,Wi.." Agni spontan merapikan rambutnya dan segera berdiri.
"Abang tinggal dulu, ya. Mau ngeprint paper.." ujar Tio sambil berlalu dari hadapan Niwo.
Niwi menatap Agni sambil tersenyum. "Kayaknya ada hal yang aku belum tahu,yaaa.."
Wajah Agni tampak memerah. "Apaan,sih?" tanyanya kikuk.
"Kalian pacaran,kan?" goda Niwi lagi.
Agni masih terlihat salah tingkah. "Kamu marah?" tanyanya.
Niwi menggeleng. "Yah enggak lah.. Aku malah senang. Selamat, yaaa.." ujar Niwi sambil memeluk Agni.
"Tapi kok aku ngerasa cinta sepihak gini, ya, Wi?" tanya Agni.
"Sepihak gimana?" tanya Niwi.
"Aku udh lama naksir bang Tio, tapi aku tau bang Tio itu hatinya cuman buat kamu. Tadinya aku pasrah, yaa, kalau misal kamu juga sehati sama bang Tio akunya ikhlas, kok.." ujar Agni. Sorot matanya mendadak sendu .
__ADS_1
Niwi menatap Agni lekat, tak menyangka bahwa sahabat baiknya selama ini menaruh hati pada laki-laki yang justru menaruh hati padanya. Dia menggenggam jemari Agni, betapa ia sangat merasa bersalah selama ini.
"Maafin aku, ya,Ni. Suwer aku sama sekali nggak tahu kalau kamu naksir bang. Tio. Kamu kenapa gak cerita sama aku dari awal?" tanya Niwi.
Agni menggeleng. "Buat apa, Wi? Aku lihat bang Tio konsisten banget ngejar-ngejar kamu. Aku sih yakin kamu lama-lama bakalan luluh.."
"Dari awal aku memang tidak mau membuka hati buat bang Tio. Kamu tahu ibuku, kan?" ujar Niwi.
"Ibu kamu yang anti sama orang kaya, ya?" Agni tertawa lepas. "Apa jadinya kalau Ibu kamu tahu anaknya lagi kencan sama Dokter Ray yang supertampan supertajir superpopuler, ya?" tanyanya lagi.
Niwi mendadak menutup mulut Agni dengan kedua telapak tangannya. Dia memperhatikan sekeliling mereka, memastikan tidak ada yang mwndengar ucapan Agni barusan.
"Ssssstt.. bahaya kalau ada yang dengar.." ujar Niwi.
"Lha? Cepat apa lambat orang-orang juga bakalan tahu kalo kamu kencan sama Dokter Ra..."
Niwi kembali menutup mulut Agni, mencegahnya menyelesaikan ucapannya.
"Kamu juga kucing-kucingan pacaran sama anaknya Dokter Er.." Niwi membalas Agni, yang kemudian mendapat perlakuan yang sama dari Agni. Mulutnya ditutup paksa oleh kedua telapak tangan Agni.
Niwi tertawa puas. "Kamu,sih..usil duluan. Lagian aku gak pacaran,kok..."
"Ah..ngeles aja kamu. Bilang aja malu ngakuin kamu pacaran sama oom-oom.." ledek Agni lagi.
Niwi spontan mencubit lengan sahabatnya itu. Agni meringis pelan.
"Yah emang gak ada kata-kata pacaran, lho, Ni.." ujar Niwi lagi. Agni tampak tidak percaya.
"Apa jangan-jangan kamu mau langsung diajak nikah, kali, ya? Secara nih.. si Dokter R itu udh berumur, yah beda lah gaya pacarannya sama anak muda.." Agni tertawa kecil mengejek sahabatnya itu.
Niwi mendadak terhenyak. Menikah?
************,1
Sore ini Niwi ada janji bertemu dengan Dokter Ray. Keduanya akan menghabiskan sore bersama di lapangan futsal. Niwi akan menemani Ray bermain futsal.
Untuk ukuran pria 40-an, Dokter Ray memang masih terlihat sangat tampan. Tubuhnya atletis, dan tenaganya juga masih tampak seperti usia 20-an. Niwi memperhatikan setiap gerakan pria pujaan hatinya itu dan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Ray menyapa Niwi yang masih asyik senyum sendiri.
Niwi tersadar. "Eh, enggak. Dokter udh kelar mainnya?" tanyanya.
"Daritadi udah time out. Masa kamu segitu dekatnya dengan lapangan bisa gak lihat, sih?" tanya Ray sambil meneguk sebotol air mineral dingin.
Niwi tersenyum malu. "Habisnya Dokter ganteng, saya jadi gak kuat lihat ke arah lapangan.."
Ray tertawa sambil menyeka keringat di lengan kekarnya. Dua buah lesung pipit tipis tampak menghiasi wajah tampannya.
"Memangnya kamu gak pernah lihat cowok cakep sebelumnya?" tanya Ray.
"Banyak, Dok. Tapi cuman Dokter yang bisa bikin saya salah tingkah.." jawab Niwi.
Sekali lagi Ray tertawa, dan Niwi semakin terpesona.
"Saya mandi dulu, yaaa. Kamu tunggu sebentar. Kalau misalnya mau jajan, ambil aja uangnya di dompet saya, tuh, ada di tas," Ray menunjuk ke arah tas hitamnya yang terletak di samping Niwi.
"Kok saya berasa lagi dikasih uang jajan sama ayah sendiri, ya?" tanya Niwi.
"Lha, kan bagus. Anak perempuan itu biasanya leluasa morotin ayahnya. Lagian kamu gak senang, punya ayah seganteng saya gini?" ujar Ray sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau gitu lebih enakan jadi istri, dong. Bisa lebih tau semua simpenan suaminya..." celetuk Niwi.
Ray agak terkejut mendengar ucapan Niwi. Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Iya juga, ya. Tapi biasanya istri yang baik itu sebelum minta jajan sama suaminya, harus layanin suami dulu. Harus masakin makanan enak, kalo perlu gosokin punggung suaminya kalau lagi mandi.." ujar Ray yang membuat Niwi tampak terkejut.
"Saya mau jajan ajaa.." ujarnya sambil membawa dompet Ray lalu beranjak dari tempatnya.
Ray tertawa melihat tingkah Niwi. Jujur, dia tak bisa membohongi perasaannya bahwa dia begitu tertarik pada gadis itu. Ada perasaan ingin menjaga, dan ingin selalu membuat Niwi bahagia. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ray sendiri masih belum bisa memutuskan.
Ray pernah merasakan jatuh cinta yang sedemikian besarnya pada seorang gadis dulu. Bertahun-tahun setelah berpisah dengan gadis itu, Ray juga pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita, namun belum ada satu orangpun yang berhasil membuatnya untuk memutuskan mengakhiri masa lajangnya.
Bagaimana dengan Niwi?
Ray masih bingung sebenarnya ke mana arah perasaannya. Ada kalanya dia merasa ingin melindungi Niwi seperti melindungi putri kandungnya sendiri, dan ada kalanya juga dia merasa seperti sedang jatuh cinta padanya. Tatapan mata Niwi kadang mengingatkannya pada cinta masa lalunya.
__ADS_1