
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.20 sewaktu Niwi mendengar suara klakson di depan gerbang rumahnya. Dia mengintip dari jendela. Mobil berwarna biru metalik dengan inisial nomor polisi PN, Prasetyo Nugraha.
Niwi menghela nafas, dan tak lama kemudian ponselnya berdering. Niwi menjawab teleponnya.
"Halo, bang.."
"Wi..berangkat bareng,ya. Abang juga jaga pagi. Please, kali ini jangan nolak," suara Tio terdengar di seberang telepon.
Niwi menutup telepon setelah mengiyakan ajakan Tio. Dia permisi pada ibunya, mengambil barang-barangnya dan segera menghampiri Tio ke mobil.
"Abang gak perlu repot-repot.." ujarnya sesampainya di mobil.
Tio tersenyum. "Abang gak pernah merasa direpotin kamu, kok.." dia berujar sambil tersenyum. Dia membersihkan kacamatanya dan mulai menyetir.
Tio berwajah oriental, dengan mata sipit, hidung mancung, dan perawakan persis seperti aktor Korea. Dia cukup populer di kalangan Dokter Muda, bahkan di kalangan para petinggi RS. Jelas saja, ayahnya adalah salah satu petinggi di sana. Cukup banyak wanita yang berusaha mencuri perhatiannya, tapi Tio hanya menyukai Niwi.
Tio mulai menaruh hati pada Niwi saat gadis itu masih menjadi mahasiswi baru. Ketika itu Tio menjadi asisten Lab Kimia, dan sangat terpukau mendengarkan penjelasan Niwi tentang teori asam basa, dan selama praktikum Niwi selalu bekerja dengan sempurna. Mereka semakin dekat, dan Tio jatuh cinta juga pada kepribadian Niwi yang mandiri. Tak jarang ia melihat gadis itu berteduh ketika hujan deras, sambil menunggu angkutan umum. Niwi selalu menolak ketika Tio menawarkan tumpangan.
Cukup lama Tio memendam perasaannya pada Niwi, sampai akhirnya dia berani mengutarakannya sehari setelah dia wisuda Sarjana Kedokteran.
"Abang sayang kamu,Wi.. Jadi pacarnya abang,yaa.." pintanya kala itu.
__ADS_1
Niwi cukup terhenyak. Dia menatap Tio seolah tak percaya. Jujur dia merasa nyaman saat bersama Tio. Walaupun Niwi belum bisa mengartikan perasaannya sebagai rasa sayang terhadap lawan jenis, tapi setidaknya dia beranggapan tak ada salahnya untuk memulai sesuatu bersama Tio. Hanya saja dia teringat akan larangan Ibunya.
"Orang kaya itu hanya akan bikin hidup kamu menderita. Berusahalah keras supaya kamu saja yang jadi orang kaya, dan jangan pernah menyusahkan orang lain, apalagi orang susah.." begitu nasihat Ibunya kala itu.
Niwi menggeleng pelan, dan menatap Tio dengan rasa bersalah. "Maaf bang, aku ga bisa.."
Tampak kekecewaan di raut wajah Tio. "kenapa, Wi?" tanyanya.
"Abang terlalu sempurna buat aku. Kalau kita pacaran, satu RS ini pasti akan mengataiku yang tidak-tidak. Cobalah mencari gadis yang lebih baik dariku.." begitu penjelasan Niwi.
"Abang ga sempurna,Wi.. tapi Abang harap kamu yang akan menyempurnakan hidup Abang.." ujar Tio.
Niwi kembali menggeleng. "Maaf,bang.."
**********
Tio menghentikan laju mobilnya di pelataran parkiran RS, namun tak langsung keluar dari mobil. Dia mencegat tangan Niwi yang hendak membuka pintu mobil.
"Abang mau ngomong sama kamu.." ujar Tio.
Deg. Niwi mulai merasa tak karuan.
__ADS_1
"Ini stase terakhir abang. Bulan depan sudah selesai, dan abang akan persiapan Ujian Kompetensi.." ujarnya.
"Niwi yakin abang bisa,kok. Abang kan pinter," ujar Niwi sambil tersenyum.
Tio menatapnya lekat. "Kalau lulus Ujian, Abang langsung berangkat ke Kalimantan. Perusahaan tambang milik adiknya Ayah butuh Dokter.."
"Ini kesempatan bagus buat karir abang, kan.." ujar Niwi lagi yang membuat Tio terhenyak.
Tio tersenyum kecut. "Abang sudah duga. Kamu ga akan merasa kehilangan sedikitpun... Tadinya abang mikir abang punya alasan buat bertahan di sini, ternyata tidak..."
Niwi merasa sangat tidak enak. "Maaf, bang. Niwi pasti kangen sama Abang. Tapi Niwi kan gak punya hak buat nentuin apapun yang terbaik buat masa depan abang"
"Pliss buka hati kamu buat Abang, Wi. Kasih abang kesempatan untuk bikin kamu cinta sama Abang.." Tio memohon sekali lagi sambil meraih jemari Niwi.
"Maaf, bang. Tapi aku belum bisa. Aku yakin Abang akan ketemu perempuan yang bisa Abang cintai melebihi perasaan abang untukku.." ujar Niwi sambil membuka pinti mobil dan turun.
Dia tak menyadari bahwa Agni sedari tadi berdiri di sana.
"Wi.. kamu kenapa?" tanyanya bingung.
Niwi menariknya pergi, Agni kebingungan.
__ADS_1
"Nanti aku cerita sehabis selesai poli. Ayo cepat, aku hampir terlambat," dia menarik tangan Agni demgan tergesa.