Dokter Tampanku

Dokter Tampanku
Bab V -Polemik-


__ADS_3

Sejak pertemuan pertama dengan Dokter Ray waktu itu, hati Niwi selalu berbunga-bunga setiap kali melihat Dokter tampan itu. Dia akan selalu mencari tahu jadwal praktek poliklinik dan jadwal visite pasien Dokter Ray. Niwi juga semangat merias diri setiap hendak berangkat ke RS, seperti pagi ini. Niwi mendapat jadwal di Poli Gastro-Entero-Hepatologi selama seminggu ke depan. Ada 3 orang Dokter di situ, dan kebetulan hari ini adalah jadwal praktik Dokter Ray.


Niwi menyemprotkan parfum ke pergelangan lengannya. Terdengar Ibunya bersin.


"kamu pakai parfum apa mandi parfum? Baunya menyengat sekali"


"Cuma sedikit lho,Bu.." Niwi hanya tersenyum.


"Jadi koas itu belajar yang bener, diasah otaknya, perdalam tata kramanya, bukan cuman sekedar dandan doang biar cakep fotoan pake jas putih.." ujar Ibunya.


"Jangan suudzon gitu lah,Bu. Niwi cuman pake parfum. Ibu lihat saja,Niwi pasti lulus tepat waktu jadi Dokter yang bener.."


Ibunya menghela nafas panjang. "Ingat pesan Ibu,yaa.."


Niwi menatap Ibunya, dia tahu persis apa yang ada di benak Ibunya. Aaah..kalau saja Ibunya tahu kalau Niwi sudah menaruh hati pada Dokter Ray yang super tampan itu, mungkin Niwi akan dihajar habis-habisan.


Hari ini Niwi berangkat bersama Agni. Dia juga mendapat jadwal Poliklinik Penyakit Dalam, bagian Ginjal Hipertensi. Konsultannya ada 2 orang, salah satunya Prof. Hilmi, yang terkenal sangat killer di kalangan Dokter Muda.


Mobil Agni sudah menunggu di depan gerbang. Niwi berpamitan pada Ibunya dan masuk ke mobil.


"Astaga..kamu mau kemana wangi amat" Agni melotot heran.


"Apaan, sih? Hidung kamu yang sensitif sekali.."


Agni terdiam sebentar, lalu tertawa keras. "Hahahaa.. ya ampun, aku baru sadar,Wi..kamu di poli Dokter Ray hari ini kan? Astaga Niwiiii...kamu beneran naksir, yaa?"

__ADS_1


"Yaaa kalo iya memang kenapa? Kan bukan suami orang.." Niwi menjawab kesal.


"Niwi doyannya Oom-oom.." Agni kembali tertawa.


"Kan oom-oom kece", celetuk Niwi lagi.


"Eeh, Wi.. kamu kenapa nolak bang Tio, sih? Kurang apa, coba?"


"Cinta ga bisa dipaksain..." jawab Niwi cepat.


Agni terdiam untuk sesaat. Sebenarnya ada sedikit perih dirasa ketika mendengar jawaban Agni barusan. Dia kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju RS.


************


Sudah pukul 14.15 ketika pasien terakhir meninggalkan ruangan Poliklinik. Dokter Ray mencuci tangannya dan membereskan barang-barangnya. Matanya terpaku pada sosok Dokter Muda perempuan yang duduk tak jauh dari meja prakteknya. Dokter Muda itu bertubuh mungil, wajahnya manis dengan lesung pipi tipis yang persis seperti miliknya. Bulu matanya juga lentik persis sepertinya. Pipinya tampak memerah, mungkin karena riasan pemerah pipi. Dokter Ray tersenyum. Entah mengapa sejak awal pertemuan mereka kemarin, dia sudah merasa dekat pada Dokter Muda itu. Ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Dia memanggil Niwi dan Niwi berjalan ke arahnya dengan sangat gugup. Kepalanya hanya menunduk.


"Duduk sini, dik.." Dokter Ray mempersilakan Niwi duduk di kursi pasien di depannya.


Niwi terlihat memainkan jari jemarinya yang lentik, tampak sangat gugup. Dokter Ray tertawa kecil. "Udah, gak usah takut. Ada yang mau kamu tanyakan?" tanyanya.


Niwi menoleh ke sekeliling ruangan. Hanya tinggal mereka berdua di sana. Koas lain sudah pergi ternyata. Haa.. entah mengapa dia tidak langsung pergi yaa, tadi? Pasti Dokter Ray ingin menguji pengetahuannya soal Ilmu Penyakit Dalam. Niwi menarik nafas,mengumpulkan kekuatannya, dan menatap Sang dokter tampan.


"Tadi ada pasien Hepatitis kronik, Dok. Mengapa tidak disarankan untuk terapi Interferon?" tanyanya.

__ADS_1


"Interferon tidak murah, lhoo," jawab Dokter Ray. "Lagipula Bapak tadi sudah masuk fase Sirosis Hepatis tahap akhir. Usianya juga sudah lanjut. Lebih baik kita berikan terapi suportif saja.." lanjutnya lagi.


Dokter Ray menatap Niwi, jantungnya berdegup kencang. Entah mengapa dia merasa bahagia di dekat gadis ini. Sekilas gadis ini juga memiliki kemiripan dengannya. Sudah lama rasanya dia tidak merasakan perasaan seperti ini, sejak 22 tahun lalu.


"Aah.. masa,sih aku jatuh cinta pada gadis muda ini?" celetuknya ringan. Niwi mendengar dan melotot tanpa sadar. Dokter Ray tersadar dan tersenyum. "Kamu ada jadwal jaga lagi hari ini?" tanyanya.


"Nanti saya ada jaga malam di bangsal,Dokter", jawab Niwi.


"Kita makan siang,yuk..." Dokter Ray memamerkan lesung pipinya pada Niwi. Niwi terkesiap. Membisu. Tak bisa menolak.


***********


Tio sedang berada di stase Ilmu Penyakit Saraf,Neurologi. Dia sudah ada di minggu akhir, dan hendak mengikuti Ujian Akhir. Meskipun Ayahnya adalah kolega para pengujinya,namun Tio tak pernah memanfaatkan situasi tersebut. Dia terkenal sebagai koas yang pintar dan rajin. Tio sedang membaca catatannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya.


"Bang Tio...." terlihat Agni datang menghampirinya sambil membawa paper bag, dan menyerahkannya pada Tio. "Abang hari ini ujian, kan? Pasti belum sempat sarapan.."


Tio mengambilnya, dan membukanya. Tampak bungkusan berisi tuna sandwich kesukaanya. "kok repot-repot sih?" tanyanya.


"Tadi Agni mampir beli kopi, ada sandwich kesukaan abang, ya sekalian Agni beli.."


Tio terdiam. Entah bagaimana Agni bisa tau makanan favoritnya. "Terimakasih yaa,Ni..." ujarnya. "Doain abang ujiannya sukses.."


Agni tersenyum, lalu beranjak pergi. Tio membuka sandwichnya dan melihat kartu ucapan di sana. "Good luck ujiannya, Abang Tio.."


Tio tersenyum. Niwi dan Agni adalah adik tingkat nya di kampus, dan mereka cukup dekat. Tio menaruh hati pada Niwi, tapi tampaknya cintanya bertepuk sebelah tangan. Di lain sisi, Agni selalu menaruh perhatian lebih padanya. Agni gadis yang baik, cantik, tapi masih belum bisa membuat hati Tio berpaling dari Niwi.

__ADS_1


__ADS_2