Dreamination

Dreamination
I'm Back


__ADS_3

"Aku kira aku sudah mati, tapi hal aneh terjadi pada diriku."



~Dianna Lin Xingnian (17th)~


Namaku Dianna, aku berumur 17 tahun, aku hanyalah seorang gadis sederhana di Qingjing Selatan kota Long Law sebelumnya.


Kehidupanku tidaklah begitu buruk, tapi tidaklah begitu baik, namun sampai suatu ketika aku mengalami sebuah hal yang menurutku ini di luar nalar manusia, jiwaku melintasi ruang dan waktu. Melewati dimensi yang berbeda. Aku kira, jiwaku akan terombang-ambing di lautan waktu, dan tidak bisa kembali ke dunia asalku lagi.


Tapi ternyata...........


Aku kembali ke kehidupanku 11 tahun yang lalu, pada saat aku berumur 6 tahun, saat itu aku hanya anak yang sedikit berbicara alias pendiam, penurut dan saat berbicara suaraku sangatlah kecil, itulah salah satu kelemahan terbesarku, sampai aku dibully selama di sekolah dasar.


Aku anak yang mempunyai kepribadian Introvert, dan pada akhirnya aku merubah sifatku perlahan-lahan setelah lulus dari sekolah dasar.


γ…œγ…œ


Kehidupan keluargaku tidaklah seberuntung kebanyakan teman-temanku, yang setidaknya orangtuanya masih bersama.


Aku di lahirkan di keluarga yang sederhana, dan sedikit kekurangan lah ya kalau dipikir-pikir.


Aku tinggal d sebuah rumah kosan, dengan 1 kamar saja aku masih kecil saat itu, mungkin, dalam benakku aku akan memiliki sebuah keluarga yang bahagia, jika orang tuaku tidak berkelahi setiap harinya. Haha ^_^



~Denis Lin Neiara (21th)~


Denis, itu nama kakaku, di kehidupan ini dia baru berumur kurang lebih 9 tahun. Dia kakak yang baik dan juga kakak yang menyebalkan secara bersamaan, sikapnya memiliki persentase yang balance. .....Hihi.....


Tapi menurutku mentalnya saat itu lemah, benar-benar sedikit lagi akan hancur, kakaku menjadi anak yang kasar beberapa tahun itu, iya sering memukulku saat dia marah, aku bahkan tidak bisa melawannya. Tapi semenjak, dia mungkin sudah menerima semuanya dan menjadi lebih dewasa, dia cukup menjadi kakak dan anak perempuan yang baik, pengertian yaa walaupun tetap sering marah-marah sih.


Bagaimana tidak,


"dia anak perempuan pertama." Ygy Haha.


Keluarga yang aku kira awalnya akan menjadi keluarga kecil yang bahagia, seperti di film-film, walaupun dengan ekonomi yang rendah. Hal itu tidak menjadi penghalang akan sebuah kebahagiaan.


Takdir berkata lain, ternyata hal itu hanyalah sebuah opini dan ekspetasi belaka, fakta dan realita lah yang berbicara sekarang. ;)


Aku dilahirkan dalam keluarga dengan masalah perceraian orang tua.


Dan di tahun aku melintas waktu, sangat dekat dengan ibu dan ayahku yanh akan berpisah.


Yang sampai detik ini aku masih kurang jelas akan penyebab perpisahaan mereka itu. Sepengetahuanku mereka saling menuduh bahwa salah satunya berselingkuh.


Aku tidak tau yang mana yang benar, dan yang mana yang jujur.


Hal itu membuatku dan kakakku hancur, walaupun dia tidak mengatakan apapun ketika hal itu terjadi, tapi aku tau dia sama hancurnya bahkan lebih hancur dibandingkan denganku. Karena bagaimanapun juga dia dilahirkan lebih dulu dibandingkan diriku. Menurutku dia lebih paham akan hubungan orang tua kami.


Aku sangat kecewa dengan kedua orang tuaku.


Itu semua karena ego mereka yang melupakan bahwa mereka mempunyai dua orang putri kecil yang perlu dirawat, diberikan kasih sayang dan mendidik mereka dengan baik, sampai tumbuh menjadi anak yang berprestasi.


Di setiap harinua, mereka hanya adu mulut di depanku dan kakakku, setiap saat mereka pulang kerja, tanpa kahwatir mental anak-anaknya. Apakah anaknya bahagia atau sebaliknya.


Apa mereka memikirkan anaknya ketakutan atau tidak, melihat orang tuanya berkelahi terus-menerus.


Dengan melihat adegan seperti perkelahian.


"Apakah pantas untuk seusia itu?."


Tidak hanya itu, mereka juga menuntutku untuk menjadi anak yang cerdas, itu hal biasa, namun apakah mereka mengerti akan terauma anak-anaknya, apakah ada yang bermasalah dengan physikologis anaknya, apakah mereka mengajarkan anaknya dengan baik??. Cara-cara mereka salah dari awal :).


Dengan membentak dan memukul, ditambah melihat adegan kekerasan. Apakah hal itu dibenarkan?


"Mereka menuntutku menjadi anak pintar tapi tidak ada penyokong dan dorongan yang baik."


Lagi-lagi mereka hampir merusak mentalku serusak-rusaknya. Aku masih sangat kecil, tapi aku menerimanya.


Tuhan memberikan mental sekeras baja kepadaku, hal-hal itu membantuku tumbuh dengan hati yang kuat, mengajariku sedikit banyaknya arti sebuah kehidupan.


Mungkin karena mereka dulu masihlah sangat muda, dan tidak bisa berrumah tangga. Pemikiram positifku terhadap mereka, aku memaklumi segalanya, aku masihlah menghormati mereka.


Tapi tetap saja, apa salahku sampai mereka memutuskan untuk berpisah?. Aku dan kakaku tinggal bersama ayahku. Dan ibuku meninggalkan rumah.


"Apa sekali saja mereka memikirkanku?."


Lupakan itu, "Atau pernahkah mereka berharap bersama kembali?."


Entah ini keberuntungan atau tidak aku mempunyai sifat yang pengertian, jadi aku lebih seperti anak yang baik, tidak ada keluhan berulang untuk perpisahan mereka, dan lagi aku masih kecil, apa yang bisa aku lakukan?.


"Mungkin jika saat itu aku sudah dewasa aku bisa menghentikan mereka berpisah." Hal inilah yang tertancap di benakku.


Iya aku diam tapi isi kepalaku boomπŸ’₯

__ADS_1


Hal yang selalu aku pikirkan, seperti


"Kenapa mereka berpisah?."


"Aku ingin kasih sayang ibuku dan ayahku secara bersamaan." Untuk mendapatkan kasih sayangnya, aku harus pergi ke sana dan kesini. Aku ingin pergi kesatu titik dan bertemu dengan mereka bersamaan.


"Aku merindukan hari-hari di mana kami bersama."


"Yang penuh dengan tawa bahagia."


"Makan dan minum bersama."


"Pergi jalan-jalan bersama."


"Apakah salah jika aku hanya meminta keluarga yang harmonis?."


Setiap hari-hariku setelah mereka berpisah aku bertanya-tanya kepada-Nya, apa dosaku sampai aku dipisahkan dari ibuku?. Aku menangis dalam diam.


Aku hanya bisa cukup menerima semuanya dan tersenyum paksa pada akhirnya.


Aku iri melihat teman-teman sekolah dasarku, saat mereka di jemput pulang sekolah dengan ibu atau ayah mereka, mereka seperti anak yang benar-benar dirawat, dicintai dan dihargai.


"Hal itu kadang membuatku sangat iri".😟


Aku seperti seorang anak kecil yang tidak dirawat oleh orang tuaku. Aku memakai baju sendiri dan menyiapkan segala keperluan sekolah sendiri. Dan kakaku juga membantuku, namun dia juga masihlah kecil saat itu, jadi dia juga tidak begitu tau cara merapikan pakaian, mengikat rambut dan sebagainya dengan rapi. Aku dulu juga tidak terlalu memperhatikan penampilan dan kerapian.


Hari-harinya kami lewati dan kami terbiasa mandiri, aku beljar banyak dari kakaku, cara mengikat rambut, mencuci, menyetrika, dan lain-lain. Aku tidak tau dari mana dia mempelajarinya, mungkin dia belajar dari temannya.


Aku tidak bisa meminta bantuan ayahku terlalu banyak, karena dia tidak bisa mengurus seorang anak perempuan, dia hanya sibuk berkerja dan tidak begitu memperhatikanku dan kakaku, seperti (intinya aku dan kakaku sekolah dengan baik).


Dia hanya menuntut nilai bagus.


Tapi setelah aku mendapatkannya, tidak ada respon apapun.


Me belike: It's Okey :), fighting!


Tapi, tanpa dia tau dengan ketidak peduliannya itu, aku terlihat jorok dan kumal di mata teman-temanku. Aku dicemo'oh oleh teman sekelasku, karena baju yang kurang bersih, dan aku mempunyai kulit yang hitam, terlalu sering terpapar sinar matahari. (aku sering jalan pulang sekolah karena tidak di jemput dan tanpa mengenakan jaket.)


Sepatuku robek dan jempol kaus kakiku bolong. Di tambah aku pendiam dan suraku sering di ejek seperti suara anak tikus sekalinya berbicara. Gurupun juga sampai menggosipkanku saat aku tidak punya uang untuk ikut lesnya (temanku menceritakannya).


"Bagaimana aku tidak percaya?."


Saat aku direndahkan dan dicemo'oh bahkan guruku tidak membelaku sama sekali. Aku dijauhi oleh teman sekolahku, tapi setidaknya aku punya beberapa teman, walau mereka juga sering di ejek. ;)


Sungguh circle yang mengenaskan.


Dalam diamku aku sering memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya aku pikirkan. Pemikiran-pemikiran random muncul saat aku sedang diam.


....Seperti....


"Ada berapa banyak manusia yang meninggal, bahagia, menangis, dan marah pada satu hari di waktu bersamaan?."


"Apakah 1 semut memiliki 1 nyawa atau sekumpulan semut itu 1 nyawa?, karena mereka sangat kecil." Jika aku menginjak semut tanpa sengaja bukankah aku membunuh begitu banyak nyawa?.


"Semua orang memiliki wajah yang cantik ataupun tampan, saat kamu melihat mereka dengan hati."


Aku memperhatikan orang-orang di jalan saat pulang sekolah seperti itu. Setiap bagian dari wajahnya terlihat bagus. Mereka memiliki keindahannya tersendiri.


Lupakan pola pikirku itu sejenak, Selanjutnya


Selain kehidupanku di sekolah dasar, kehidupanku di rumah tidaklah begitu baik, setelah pertengkaran ayah dan ibuku, dan ibuku memutuskan pergi, ayahku pindah rumah, padahal rumahku sangatlah dekat dengan sekolah dasar pada saat itu, sebab inilah, aku harus jalan kaki begitu jauh di bawah terik matahari saat ayahku lambat menjemputku.


Kami bertiga, aku, kakaku dan ayahku tinggal disebuah rumah tempat ayahku berkerja. Bosnya baik kepada ayahku sampai membiarkan kami tinggal di sana.


Hal buruknya aku hampir dilecehkan oleh teman kerja ayahku. Karena aku pendiam dan penurut. Entah apa yang mereka lakukan aku menurutinya, aku sangat bodoh saat itu. Yang aku ingat seseorang mengajakku menonton sebuah film.


Awalnya aku tidak tau itu apa dan aku menontonnya saja, dangan teman ayahku. yang anehnya dia menyentuhku, aku kira dia hanya menyentuhku biasa karena aku masih sangatlah kecil, jadi seperti anaknya sendiri, Sampai suatu ketika dia menciumku, aku hanya bisa diam, kalian pikir apa yang anak 6 tahun bisa lakukan?, aku tidak tau itu hal buruk. Sampai suatu hari ayahku melihat aku menonton video aneh itu dan memarahiku habis-habisan, memukulku dengan sapu. Berteriak padaku dan sebagainya.


Aku lalu sadar hal itu sangat buruk dan sampai sekarang aku sangat malu dan berfikir aku sebodoh itu??.


Dan aku berterimakasih pada ayahku karena memarahiku, jadi aku mempunyai taruma tersendiri. Kedepannya mungkin aku tidak akan mengulanginya dan selalu waspada dengan orang sekitar.


Tapi aku juga merasa malu dengan ayahku untuk beberapa waktu, kenapa aku begitu bodohnya. πŸ˜­πŸ™


Dan di kehidupanku yang lalu, sampailah aku di jenjang sekolah menengah pertama, di sanalah kehidupanku cukup berubah, aku memulai semuanya dari awal, aku merubah sedikit kepribadianku, menjadi anak yang cerewet, tidak pemalu dll.


Hal itu aku lakukan karena aku mempunyai taruma tersendiri. Takut dikucilkan lagi contohnya.


Mempunyai teman yang baik juga, bahkan 1 kelas adalah teman baikku. Aku menemui berbagai masalah, tapi entah mengapa aku bisa melewati semuanya dengan senyuman. Karena saat itu aku percaya pada Tuhan bahwa,


"Semua masalah ada jalan keluarnya, jika kamu tenang dalam menghadapinya."


Setiap aku menemui masalah aku pasti berfikir bahwa, ini hanyalah masalah kecil. Aku mengatakan pada diriku dengan semangat.


"Hanya ini, aku pasti bisa." Dengan menarik napas lalu menghembuskannya perlahan dan tersenyum.

__ADS_1


"Tenang Dianna, Dia mengujiku lagi, aku pasti bisa."


Dan, semuanya berlalu begitu saja.


Aku sadar pada diriku sendiri, bahwa aku tumbuh dewasa dengan cukup baik.


Walau ada sedikit masalah pada sifatku, aku menjadi gadis yang memperhatikan penampilan, takut melakukan kesalahan, takut salah bicara setelah aku berubah menjadi anak yang judes dan dingin.


Aku setiap kalinya selalu mengintrofeksi diri dan insecure di malam hari.


Saat ada penyebaran virus cocorus-91, aku di rumahkan, aku seperti babi yang makan dan tidur terus. Lalu aku merasa harus olahraga. Aku melakukan perawatan kulit agar kulitku kembali putih, aku benar-benar merawat diri, dulu aku pernah mencari cara memutihkan kulit agar tidak di ejek orang lagi, dan sekarang aku sering melakukam perawatan. Memang benar yang di katakan orang-orang bahwa.


"Kerja keras tidak menghianati hasil."


Sampai suatu ketika aku naik kelas menjadi anak Sekolah menengah kejuruan di Garden High School. Aku mulai merasakan perubahan besar pada diriku.


Aku menjadi 2 kali lipat lebih tinggi, aku perlahan menjadi sedikit putih dan aku benar-benar melihat perbedaan mencolok pada diriku dari sebelumnya.


Semuanya berlalu cukup baik, aku menjadi gadis yang pintar dan ceria di sekolah bersama teman-temanku.


Tapi dengan wajahku yang judes ditambah aku yang masih mempunyai sifat pendiam. Banyak kesalahpahaman yang terjadi. Aku menjadi gadis yang "Bodo amat" "dingin" di mata orang lain, itu tidak menjadi masalah besar intinya di mata temanku aku adalah gadis yang bobrok. πŸ˜‚πŸ˜‚


Pada malam harinya, masalaluku mengepul di kepalaku. Semua kehidupan masalalu muncul di benakku.


Pemikiran insecure muncul, keinginan mempunyai keluarga yang bahagia muncul lagi. Semua iri yang aku liahat pada temanku muncul. Bahkan dengan detail terkecil.


Aku sadar, dan sangat sadar bahwa pada hati kecilku paling dalam, aku masih mengiginkan kehidupan keluarga yang baik, kehidupan masalalu yang baik dan lain-lain.


Aku jujur, aku merasa sedikit iri dengan temanku.


"Mereka bisa membawa sarapan buatan ibunya ke sekolah."


"Mengeluh tentang ibu mereka di rumah."


"Menceritakan interaksi mereka di rumah."


"Di ajari banyak hal oleh ibu mereka."


"Dibangunin di pagi hari."


"Diberi kasih sayang setiap hari."


Okey, aku sering pergi bertemu ibuku. Tapi aku tidak begitu banyak mendapatkan kasih sayangnya.


Aku berusaha membuang semua pikiran negatif saat malam hari agar aku bisa tidur.


Sangatlah sulit. Aku menenangkan diriku sendiri. Aku membangun moodku sendiri.


Semua itu telah berlalu sekarang, aku mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup.


Mulai detik di mana aku di lahirkan kembali, aku bertekad bahwa;


"aku ingin bahagia!"


"Aku akan merubah segalanya!"


"Memperbaiki semua kesalahan yang dulu aku sesali"


"Menutup mulut mereka yang merendahkanku"


Di detik ini lah, Aku Dianna, akan merubah jalannya kehidupan. Membuat jalan baru kehidupanku sendiri.


Dengan tangan kecilku, pikiranku di masa lalu, dan jiwaku.


Aku sangat bertekad mendapatkan sesuatu yang dulu tidak bisa aku dapatkan.


Mungkin ini terlihat egois, tapi perlu diketahui bahwa, aku hanyalah manusia biasa pada umumnya, yang menginginkan sesuatu yang lebih tanpa di sadari atau dengan kesadaran penuh, menjadikan diri ini egois, sesekali tidaklah buruk.


Aku tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan "ke-dua" yang diberikan oleh -Nya.


Mungkin ini menghabiskan seluruh jatah kehidupan bahagia dan keberuntunganku selama menjadi mahluk ciptaan Tuhan.


Tapi tidak masalah, Aku akan menerimanya sebaik mungkin. Seperti ujian-ujian lainnya, menurutku ini adalah salah satu ujianku.


Aku akan menjalaninya, aku akan berusaha keras lagi.


"Walau aku merasa ada yang aneh."


Tapi mau bagaiman lagi, aku sudah disini. Aku akan melikmatinya.


Apalah dayaku, yang hanya manusia biasa.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan berdoa dan memohon pada-Nya adalah jalan ninjaku."


Kehidupanku dimulai lagi dari TKπŸ€—.

__ADS_1


Ini Karya pertama Author, Author memerlukan banyak dukungan. Tolong dukung Author untuk seterusnya.πŸ€—πŸ˜†


__ADS_2