
Sekarang aku menjadi anak SD, aku harus terbiasa lagi, menghadapi anak-anak yang toxic.
"Seharusnya sih bisa."
"Apa kalian tau?"
Jika kalian ingin mencari anak toxic bisa kalian jumpai di sekolah dasar. Jumlahnya bisa sangat banyak.
Mungkin karena pengetahuan yang minim mereka menjadi toxic.
"Coba kalian pikirkan."
"Di sekolah dasar kalian berapa banyak anak toxic?."
Atau bahkan tanpa kalian sadari, kalian juga termasuk anak toxic itu?.
Dulu saat aku SMP aku melihat anak SD mengobrol atau bisa di katakan bergosip.
"Itu terlihat sangat toxic."
Bahkan saat mereka berbicara dengan temannya, mereka langsung menyembur tanpa harus tau apa yang terjadi dengan perasaan temannya yang di sembur itu.
Untungnya dulu aku anak yang sedikit bicara, tapi perneh gosip kok sama temen deket. Gak toxic-toxic banget topiknya, paling ngejulitin temen yang songong.😅😌🙏
Kalian mungkin tau bahwa circle-circlean itu lebih panas di Sekolah Dasar ygy.
Kalau si A bilang si C jahat dan sebagainya ke si B, pasti si B ngikut ngejelekin si C dan ngejauhin juga.
"Tanpa tau sebab dan akibatnya."
Itulah yang namanya kurang pengetahuan. Karena mereka akan tau pengetahuan-pengetahuan dan membuka lebar isi kepala mereka minimalnya setelah beranjak SMP.
"Sungguh merepotkan."
Tidak berbeda jauh dari TK, aku menjadi anak yang pintar lagi ygy. Hihi
Enak juga jadi kesayangan guru.
Dulu malah sebaliknya.
Sekolahku sekarang tidak begitu menyenangkan. Entah mengapa aku memikirkan Yan😵.
Saat istirahat pelajaran, aku merasa malas untuk bermain dengan anak-anak yang lainnya.
Aku merenung di pojok kelas, aku mengingat masa-masa bersama Yan di TK.
Aku dan Dia hanya bermain sebentar tapi kenangan dan perasaan senang yang di tinggalkan sangat membekas.
"Huuuh.."
Aku mwnghela nafas. Dengan tangan di lipat di atas meja lalu aku tertidur.
"TEEETT TEEETT TEEET"
Bel sekolah berbunyi, aku terbangun dari tidurku.
Aku melihat dari jendela sesosok anak laki-laki yang tidak asing sedang bermain dengan bahagia.
Semakin aku memperhatikannya, aku menyadari bahwa dia Yan.
__ADS_1
Mataku yang awalnya sayu, terbuka lebar, aku bangkit dari kursi tempatku duduk dan lari keluar kelas untuk mencarinya.
Setelah semakin dekat, Aku mulai mendekatinya secara perlahan, dengan menjulurkan tanganku ke bahunya sambil mengatur nafas.
"Yan.." ucapku dengan pelan
Dia berbalik badan, dan dia benar Yan
"Kamu siapa?" Ucap Yan dengan tatapan dingin dengan raut wajah tidak suka.
Aku terkejut dengan perkataan dan sikapnya.
Aku terdiam dengan hanya menatapnya dan dia berusaha menyadarkanku.
"Hei.. heii.."
"HEII... HEIi... HEii... Heii... heii.."
Aku tersadar dan ternyata hanya mimpi, seorang anak perempuan membangunkanku.
Tanpa di sadari aku menangis, aku merasa bahwa ini aneh, kenapa aku harus menangis karena Yan datang ke mimpiku.
"Huu.hh.."
"Hanya mimpi..."
"Andai ada Yan di sini, aku merindukannya."
"Entah di mana dia sekarang."
"Apakah dia merindukanku juga?"
Aku terkejut dengan apa yang aku pikirkan itu. Aku dan Yan hanya bermain sebentar, tapi entah mengapa aku merasa sudah sangat lama mengenal Yan dan aku menyangkal bahwa aku merasa nyaman bersama anak itu?.
"Tidak mungkin aku menyukainya kan?"
"hahah😰🤘"
"Manamungkin lah, tapi.."
Jujur aku orang yang tidak bisa mengidentifikasi perasaan sendiri. persaanku sering menyesatkanku.
Karena aku sering mengandalkan Logika di bandingkan Persaan.
Aku menepuk pipiku beberapa kali untuk melupakan apa yang aku pikirkan.
Jam pelajaran di mulai, aku hanya fokus mendengarkan guru berbicara untuk beberapa saat. Setelahnya aku merasa boson karena pelajarannya sangatlah mudah.
Aku mulai mencoret-coret buku, menggambar sesuatu untuk menghilangkan kebosananku.
"TEET..... TEEETTT...... TEETTT...."
Waktunya pulang sekolah.
"Arhh akhirnya pulang juga." sambil meregangkan badan.
Aku pulang jalan kaki bersama kakaku, kebetulan sekolah kami berada di dekat rumah.
Sebelum itu aku menunggu kakaku di halaman, karena dia masih belum pulang.
__ADS_1
"Kruuukk... kruukk" suara perut.
Perutku lapar jadi aku memutuskan untuk ke kantin sebentar.
Aku membeli beberapa jajanan, lalu aku pergi lagi untuk mencari kakaku. Sebari mengunyah.
Setelah beberapa saat ahkirnya kakaku pulang.
"lama banget.." kataku sambil cemberut.
"ya gurunya salahin" kata kakaku sambil menarik pipiku.
Setelah sampai rumah, aku mengganti pakaian, dan mulai merenung lagi karena bosan.
Aku berpikir ternyata aku sudah sampai di titik ini.
Dulu di tahun ini, orang tuaku sudah berpisah tapi sekarang mereka masih bersama. Ini merupakan perubahan terbesar yang aku lakukan. Ini benar-benar akan menjadi kehidupanku yang sangat membahagiakan.
Ternyata aku bisa merubah jalannya takdirku. Tuhan memberiku kehidupan kedua yang aku inginkan.
"Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan."
Hari-hari baikku akhirnya telah tiba.
Aku akan sangat melikmati setiap detik yang ada.
Aku juga akan lebih banyak belajar dan menebus kebodohanku dulu di sekolah.
Hampir lupa besok adalah hari ulang tahunku. Apakah mereka mengingatnya?.
Aku penasaran, dulu tidak ada perayaan ulang tahun untukku, apalagi setelah perpisahan orang tuaku.
Sepertinya perayaan ulang tahunku bisa di hitung menggunakan jari. Bahkan tidak sampai 10 kali. ;)
Dulu aku memakluminya karena banyaknya masalah. Aku merasa itu juga tidak begitu penting. Karena aku tidak ingin menyusahkan ayahku. Aku merasa masalahnya juga sudah cukup banyak.
Tapi sekarang, aku sangat menginginkan sebuah perayaan. Aku berharap mereka mengingatnya. Tidak masalah tidak ada kue ulang tahun, tapi cukup makan-makan dan menyanyikan lagu happy birthday, sudah sangat membahagiakan karena bisa berkumpul bersama.
Aku melupakan perayaan ulang tahun sebentar. Aku melihat kakaku kesulitan mengerjakan PRnya.
Aku mencoba membantunya, dia awalnya tidak percaya denganku tapi setelah aku menjawab soal matematika dengan benar dia mulai meminta bantuanku untuk mengerjakan tugasnya dan mengajarinya.
"Kok mu bisa pinter gitu?."
"Padahalken gak perneh belajar 🤔?"
Aku menjawab dengan sombongnya.
"Aku ken jenius😎, gak kek elu, xixixi"
Dia menampolku dan kamipun tertawa ceria bersama-sama.
Senang rasanya melihat dia tertawa lepas seperti ini.
Waktu tidak disangka sudah hampir larut malam, tapi ayah dan ibuku masih belum kembali. Jadi aku dan kakaku memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Tidurku nyenyak sekali karena suasana yang dingin karena hujan dan hangatnya selimut. Aku pun terlarut dalam tidur.
Tidak lama setelah aku memejamkan mata, dan aku sudah hampir memimpikan sesuatu.
__ADS_1
Lalu Terdengar sebuah suara...