
Istirahat pun tiba, aku hanya diam di sudut halaman, memperhatikan anak-anak yang bermain dengan gembira.
Aku merasa bosan sekali pada waktu itu.
Setelahnya selang beberapa menit, Yan datang memghampiriku.
"Sedang apa di sini?." Dengan nada dingin dan wajah datar.
"Tidak lihat aku sedang duduk." Kataku sebari sedikit kesal karena sudah sangat bosan.
Tanpa satu patah katapun Yan menarikku dan mengajakku bermain.
"DUG... DAG... DUG... DAG...DUG.."
Jantungku berdetak kencang.
"Apa yang terjadi padaku, perasaan apa ini?." Bertanya di dalam hati.
"Mana mungkin aku menyukai anak kecil ini kan?" Pertanyaan dalam pikiran.😳
".....loding....."
Tidak menyangka aku terbawa suasana dan mulai bermain lagi dengan Yan. Dia mengajakku mencoba semua permainan yang ada di sana. Aku juga melihat Yan sedikit terkejut, wajahnya berubah menjadi anak yang ceria, wajah datarnya menghilang. Aku melihat senyumnya sangat menggemaskan dan hangat, manis bak gula, matanya juga berkilau bagai berlian.
"Kenapa dia tidak seperti ini saja." Kataku dalam pikiran.
Aku berfikir bahwa jika aku bersama Yan, waktu berjalan begitu cepat.
Waktunya pulang telah tiba, kemudian kembali lagi ayahku berbicara dengan guru, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan.
Tapi yang aku tau mereka membahas mengenai diriku. Aku ingin sekali menguping, sayangnya aku terlalu kecil untuk turun dari atas motor.
Sungguh tidak terbiasa memiliki badan sekecil ini.
Diperjalanan pulang sungguh suasana yang familiar. Di jalana masihlah suasana yang asri dan terasa vibe kunonya.
Aku merasa bahwa ini kehidupanku yang dulu. Sungguh nyaman, dengan perasaan di mana masihlah dengan keluarga yang tidak terpisah.
Sampailah aku dirumah. Lalu aku mengganti pakaian dan menonton TV.
Ayahku menyeduh secangkir kopi dengan ditemani beberapa potong pisang goreng.
Aku menonton sambil memakan pisang goreng juga. Sungguh enak rasanya.
Dan beberapa saat kemudian kakak dan ibuku pulang. Mereka pulang lebih awal dari biasanya. Ini sebuah kejutan untukku bahwa 1 keluarga kecil berkumpul bersama-sama. Menghabiskan waktu dengan tawa bahagia. Tanpa aku sadari air mataku menetes, aku terharu.
Air mataku keluar tanpa aku sadari, ini sungguh membuatku menangis bahagia. Mengingat bahwa di kehidupan lalu hal ini tidak pernah terjadi.
Mereka menyadari bahwa aku menangis, mereka bertanya-tanya padaku, kenapa aku menangis. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku mengingat masalalu, mana mungkin mereka percaya.
Lalu kukatakan bahwa aku bahagia kami berkumpul bersama.
"Papa sama mama bisa gak jangan bertengkar terus?" Kataku sebari menghapus sisa air mata di wajahku.
"Dianna bahagia kita hidup seperti ini, Dianna takut kalian ninggalin Dianna."
Mereka terlihat terkejut dengan kata-kata yang baru saja aku lontarkan.
"Anna kenapa ngomong kayak gitu?" Tanya ibuku sebari mengelus kepalaku dengan lembut.
Lalu aku mengarang sebuah cerita, agar mereka memahami kesedihanku.
"Tadi di sekolah Anna denger kalau salah satu temen Anna orang tuanya cerai, teluss... Hiks.., berusaha menjadi menyedihkan.
Mereka buat teman Anna depresi, Anna denger dari bu gulunya hiks..., jadi dia sakit... Dilariin sama mobil yang ninuninu gitu bunyinya, telrus gak balik-balik"
__ADS_1
Dalam hatiku aku berharap ini berhasil.
"Mama tau gak? Depresi itu apa?."
Ayah dan ibuku masih terdiam. Setelah mendengarkanku bercerita.
"Dianna jangan mikirin itu ya, mama janji kita bakal bareng-bareng terus."
"Papa juga janji okey?"
"Kakak juga janji"
"Okey kita janji!"
Terasa lega dihatiku setidaknya mereka berjanji.
Kami lalu berpelukan sebentar, dan sudah waktunya makan malam.
Kami makan malam bersama sambil menonton TV.
Dengan ruangan yang sempit tapi penuh dengan perasaan bahagia.
Aku benar-benar bahagia. Kaliinilah aku merasa bahwa hidupku baru saja dimulai.
Pada hari minggu kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kami pergi kemall terdekat, karena kebetulan ada sedikit uang untuk healing.
Ada banyak permainan, aku mencoba semua permainan yang ada di sana bersama keluargaku.
Dulu aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Sekarang aku merasakannya, ini sungguh membuatku seperti terbang di atas awan.
Kami membeli es krim, jajan dan minuman. Ayah dan ibuku membelikanku sandal juga.
Aku melihat ada tempat foto, lalu aku mengajak mereka untuk berfoto bersama.
Kami berpose dengan gaya-gaya yang lucu.
Setelah selesai bermain, kami berangkat pulang ke rumah, karena sudah larut dan besok harus melakukan aktivitas lagi.
Karena Besok SENIN!.
Sampai di rumah, ayah dan ibuku sedang berdiskusi di teras. Aku penasaran, takutnya mereka berdiskusi tentang perpisahan. Karena itu tidak lucu
Aku terlalu sensitif.
Aku pergi menghampiri mereka dan bertanya.
"Kalian lagi ngomongin apa? Pa?ma?."
Mereka memberi tahuku bahwa, mereka mendiskusikan aku untuk loncat kelas. Mereka ingin mendaftarkanku untuk masuk Sekolah Dasar lebih awal.
Karena aku sudah bisa baca dan tulis dengan sangat baik.
Lalu aku mengatakan kepada mereka bahwa itu nanggung banget, lagi beberapa bulan aku juga sudah masuk Sekolah Dasar. Tentu saja aku tidak mengatakannya seperti itu, aku mengatakannya lebih kiyowokk dan gemoy-gemoy gimana gitu ya ges ya.
Tentu mereka juga menyetujuinya, karena mereka juga perlu waktu mempersiapkan keperluanku bukan.
Karena MIOL
Apa itu MIOL? MIOL is :
Money
Is
Our
__ADS_1
Life
Bukan kah begitu?? xixixixi.
Keesokannya ya seperti biasa, aku bermain-main layaknya anak TK ygy.
Membasir gk dilikmatin, jadi bocil itu enak guys. Dibandingin jadi dewasa.
Dewasa itu buat kepala jadi botak tanpa sehelai rambut, rontok semua karena setres mikirin hidup. Tapi hidup gak mikirin kita. Jahat banget ken dia?.
Yaa begitulah hidup ada kejutan-kejutan yang selalu bikin senam jantung ygy.
Saat aku bermain, aku tidak melihat Yan, saking penasarannya, aku bertanya dengan bu guru.
"Misi bu, ana~ mau tanya, Yan di mana ya?."
Bu guru kebingungan, karena tidak ada anak yang bernama Yan di sekolah itu.
"Maksud ana siapa?" Tanya bu guru itu sambil mencubit pipiku.
Aku menjelaskan ciri-ciri si Yan itu ke bu guru, dan dia baru tau siapa anak yang aku maksud itu, katanya dia udah lulus. Dan ternyata Yan itu nama panggilannya.
"Nama aslinya Yan apa bu?" Tanyaku penasaran.
"Namanya •×π£[." KRING... KRINGG
Belnya berbunyi dan aku disuruh masuk kelas. Tanpa mendengar jelas nama anak itu.
Yasudahlah, kataku karena tidak intinya dia Yan.
Aku sedikit sedih karena Yan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku.
Karena baru kemarin kami menghabiskan waktu bersama. Dan itu sangat menyenangkan.
Sekarang rasanya sepi, tanpa dia. Tidak ada lagi wajah datar dan dinginnya di TK ini.☹️
Jam pelajaran dimulai, tidak terlalu membosankan karena suasananya sangat mengasikkan, tapi tetap saja aku kesal dengan Yan yang pergi.
"Seru juga bermain dengan bocil, tapi aku lebih suka bermain dengan Yan, karena menurutku dia lebih dewas, seperti sama persis denganku, apa dia anak jenius?" Pemikiran dalam kepala kecilku.
Aku mencoba melupakan Yan dengan berbagai kegiatan. Karena tidak habis pikir, kemarin hari terahkirnya bermain denganku.
Aku menggambar, menghitung, mengeja dan menulis. Semuanya aku lakukan dan membuat bu guru terkejut, padahal aku sudah berusaha keras agar gambarku bernatakan. Menghitung dengan salah beberapa kali, mengeja dengan buruk, dan menulis huruf dengan jelek.
Kenapa tetap saja itu terlihat lebih baik dibandingkan anak-anak bocil yang lain?, Sungguh menyusahkan. Mereka mengatakan bahwa aku anak jenius setelah anak bernama Yan itu. Hadehh...
Semoga aku bisa bertemu dengan si "Yan".
Entah di mana dia sekarang.
Sekarang kehidupanku menjadi anak TK seperti berputar di situ-situ saja. Pergi ke Tk lalu bermain, belajar dan pulang.
Tapi yang membuatku lega adalah di rumah ayah dan ibuku tidak bertengkar lagi. Tidak masalah kehidupanku seperti ini yang penting mereka tidak berpisah saja.
Di rumah aku bermain dan melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mencuci baju, tetanggaku bahkan merasa heran, kenapa aku bisa melakukannya. Kakaku juga membantuku, seperti meyuruhku membersihkan ini dan itu _- dia membantu dengan doa.
"Tidak berubau sama sekali, dajal emang_-"
Setiap pulang kerja orang tuaku terus mendapat pujian karena mempunyai anak yang sangat rajin. Tidak lupa mereka memujiku. Ibuku mengelus kepalaku dan ayahku membelikanku jajan.
Sungguh asik menjadi anak kecil, dimanja dan banyak cinta bertebaran.
Hari demi hari berlalu begitu saja.
Ahkirnya aku di daftarkan untuk masuk Sekolah Dasar.
__ADS_1
Di sekolah aku merasa lebih berani, aku menjadi anak yang aktif. Di bandingkan kehidupan yang dulu. Dulu mungkin aku akan diam di pojokan, tidak berbicara dan menyapa. Seperti anak ilang_-.
Aku memikirkannya, rasanya ingin menampol diri sendiri.