
Saat ini berarti aku berusia 6 tahun, aku harus menyesuaikan sikapku agar terlihat seperti anak kecil pada umumnya.
~Dianna 6th~
Aku pergi ke Taman Kanak-kanak setiap pukul 6 pagi, karena ibuku harus berangkat kerja. Jadi dia sekalian mengantarku ke TK.
TK ini terlihat cukup luas, pada saat masuk gerebang terdapat patung Budha. Saat melangkah masuk di sisi kanan terdapat kolam ikan dengan ikan yang berwarna-warni, kolam itu dihiasi dengan teratai. Terdapat taman-taman kecil dan ruang kelas yang terdapat banyak gambar menggemaskan, seperti binatang lucu dan bunga-bunga yang indah.
Melihat semua itu, aku merasa benar-benar tidak menyangka aku bisa berdiri di halaman TK ini lagi.
Tapi,,
Taukah kalian?, Aku merasa sedikit sedih juga. Ternyata ini yang aku alami di masa kecil.
"Sungguh anak yang malang" kataku.
Karena sendirian di pagi hari tanpa pendamping yang menemani di sebuah TK.
Pada saat itu pukul jam 6 pagi sangatlah gelap.
Aku lalu masuk kelas, di dalam kelas aku sendirian, belum ada satu anak yang datang. Aku mengingat-ingat masalalu, aku selalu main masak-masak untuk menunggu guru dan yang lainnya datang di dalam kelas.
Yang aku herani,
"Kenapa dulu aku tidak takut sama sekali?."
"Dan kenapa aku tidak menangis?."
"Padahal aku anak berusia 6 tahun loh, sendirian di TK yang luas dan gelap?!."
"Apa itu hal normal?."
Bukankah pada umumnya anak seusiaku akan menangis dan memanggil-manggil ibunya untuk datang di saat seperti ini.
Untungnya ada pak satpam yang datang. Tapi tetap saja aku masih heran, aku gobolok atau gimana sih? Sampe ditinggal pergi tapi tidak menangis sama sekali.
Dulu aku benar-benar tidak menangis, apa lagi sekarang, yang melintas ini?😶.
Sungguh mambagongkan, tapi aku takjup pada diriku sendiri😎, aku tidak seperti anak lainnya yang masih menangis ditinggal orangtuanya.
Akan tetapi, tetap saja, aku sangat kasian juga terhadap diriku sendiri, karena aku tidak merasakan ada pendamping yang menemaniku, sekaranglah aku merasa iri lagi terhadap anak-anak yang ditemani orang tuanya walau sebentar.
Ternyata oh ternyata, aku sudah sedari kecil diajarkan menjadi anak yang mandiri ygy.
..,Tapi,..
"Haruskah aku bahagia?"
"Haruskah aku merasa terhormat?"
"Haruskah aku pamer?"
Sungguh tidak habis pikir, aku sekarang sungguh kekanakan setelah kembali berusia 6 tahun.
Aku merasa, bahwa,
aku menginginkan kasih sayang orangtua, yang benar-benar merawat anaknya, menemaniku hanya sampai guru datang.
Aku tau aku terlihat egois, aku juga tau alasan aku ditinggal, karena mereka sibuk berkerja.
Tapi perasaan di hatiku, "apakah bisa berbohong?, Atau bisa berpura-pura?."
Aku seharusnya memang bangga pada diri sendiri karena aku tidak memerlukan pendamping. Tapi tidakkah aku terlihat seperti anak yang tidak punya orang tua?.
Sungguh perasaan yang campur aduk.
"Sungguh menyedihkan" kataku dalam hati, sebari memegang ulekan kecil ditanganku untuk bermain masak-masak.
Dari pada bertengkar dengan isi kepala dan isi hati. Lalu aku keluar bermain ayunan untuk melupakan masalah itu.
Karena walau sekarang, mau ditinggal sekalipun aku tidak masalah, karena aku sudah dewasa pada faktanya.
....Huuh....😪
"Kiyeet... Kiyeet....Kyeeet...." Suara yang terdengar saat ayunan diayunkan.
Sungguh menyenangkan menjadi anak kecil, aku bermain ayunan, prosotan, onjet-onjetan, wahana putar dan lain-lain. Rasanya tidak ingin menjadi dewasa.
"Sungguh mengasyyiiikkannn...."🐵
Menjadi dewasa sungguh melelahkan, penuh beban kasat mata di benak setiap harinya. Diri merasa akan gila jika tidak mengontrol diri agar tidak terlalu setres.
Tik... Tokk.... Ttik... Tokk...
Tanpa aku sadari banyak anak-anak yang sudah datang bersama orang tuanya, mereka juga mulai bermain.
Di halaman mulai besing, dipenuhi berbagai tawa kanak-kanak, dan beberapa tangisan manja.
Aku hanya memperhatikan anak-anak itu dengan perasaan sedikit iri. Namun hanya dengan melihat mereka membuat hatiku merasa hangat ditambah sedih.🤓
Saat aku sedang berayun-ayun, datang seorang anak laki-laki, dia ingin bermain ayunan yang aku duduki.
__ADS_1
Aku melihatnya sungguh lah menggemaskan. Pipinya seperti bakpau. Kulitnya putih kuning langsat dan badannya sedikit berisi. Tapi disaat beraamaan tatapan matanya sangat tajam, datar, tatapannya seperti sangat suram. Seakan-akan kehidupannya sudah ditimpa banyak masalah yang merubahnya menjadi seperti itu.
Namun semua ditutup dengan pipi bakpaunya😆. Aku ingin menarik pipinya.
Dia anak pertama yang menghampiriku pada saat itu.
"Aku ingin bermain ayunan, kamu bisa mendorongnya untukku.😔" Kata anak laki-laki itu dengan ekspresi dingin dan logat tuan muda.
Aku yang kegemasan menarik pipinya dan mengatakan :
"Baiklah adik kecil."😆
Tanpa pikir panjang lagi, aku menyetujuinya.
Walau sedikit kesal dengan nada sombongnya, tapi dia menggemaskan so it's Okey.
"Jangan sentuh aku😒." Sebari melepas cubitan pipi dariku.
"Cepat dorong" terdengar suaranya seperti tuan muda.
"Baiklah Tuan muda."
Setalah aku mengatakan itu, dia menatapku sebentar dengan senyum tipis diwajahnya, walau hanya sebentar, tapi aku melihatnya.
Suaranya sungguh sedingin itu, tapi tetap saja aku memberikan ayunannya dan mendorongnya, habisnya dia sangat menggemaskan.😆
Aku seperti dihipnotis olehnya dengan kegemasan di wajah dinginnya.😵
Harusnya ceritanya aku akan mengusirnya dan jika perlu aku mendorong ayunannya dengan keras, tapi malah sebaliknya😰.
Setelahnya, aku mendorong ayunan untuknya, kami lalu bisa dikatakan bermain bersama. Aku menanyakan namanya.
"Aku sudah mendorong ayunanmu, aku perlu tau namamu.."
"............"
"Panggil aku Tuan muda👤." Nadanya dingin dan sangat datar.
Aku menatapnya dari belakang mulai kesel setelah mendengarnya dan menghentikan dorongan ayunan😒.
".........."
Dia tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat. Tapi samar-samar aku melihat dia tersenyum.
Kemudian, karena sepertinya dia merasa aku kesal, lalu dia memberi taukan namanya.
"Panggil aku Yan."
"Oh okey Yan, namaku Anna, salken ya."
~Yan~
Kami menghabiskan waktu bersama cukup lama.
Kami tidak hanya bermain ayunan, kami juga bermain semua jenis permainan yang tersedia di TK itu, sampai waktu pelajaran dimulai.
Awalnya dia sangat dingin, tapi lama kelamaan dia terlihat ceria dari tatapan matanya yang mulai hangat. Melihat dia berubah, aku menjadi merasa bahagia.
Dalam pikiranku tentang Yan.
Mungkin dia anak orang kaya, karena namanya Yan (Keluarga kelas menengah di kota Sanjing) dan kulitnya putih kuning langsat, tatapannya sangat tajam, seperti anak Presedir jenius dalam komik.
Kemudian banyak anak yang bergabung untuk bermain bersama, sampai waktu belajar tiba. Kelasku dan kelas Yan sepertinya berbeda. Kami berpisah.
Di TK aku banyak bermain, sungguh mengasikkan. Aku berbaur dengan anak-anak di sana, hal-hal itu merupakan pengalaman yang aku lupakan dulu, karena dulu aku merasa seperti hanya 1,2 atau 4 kali saja bermain-main di TK, pengalaman yangku ingat sangat sedikit.
Saat waktu pelajaran, aku menjadi anak yang pintar di mata guruku, sungguh konyol, aku seperti menipunya. Wkwk
Aku benar-benar berubah 360°, saat TK.
Guru memujiku terus-menerus karena tau banyak tentang huruf dan angka di bandingkan anak-anak lainnya.
Sampai gurupun bertanya-tanya padaku, karena dulu aku bahkan jarang berbicara, tapi sekarang aku banyak bicara dan menjadi anak yang pintar. Aku mulai terkenal di TK.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, waktunya pulang sekolah. Ternyata ayah yang menjemputku.
Lalu dia berbicara dengan guruku, guruku menceritakan perubahan besarku kepadanya, Lalu dia terkejut dan memperlihatkan wajah bahagia dan tidak percaya.
Aku sosok yang jarang berbicara, yang orang lain asumsikan bahwa, aku anak yang kurang pintar karena tidak terlihat aktif, dan minim komunikasi.
Ini normal mereka terkejut, yang tidak normal adalah mereka bersikap biasa-biasa saja. Bukankah begitu? Wkwkwkwkw.
Setelah mereka selesai bicara, ayahku membawaku pulang, di jalan dia berhenti di sebuah warung, dan membelikanku sepotong es krim. Dia bertanya padaku.
"Ana kata ibu guru, ana pinter di sekolah ya?"
"Iya, xixixi" jawabku dengan bangga.😋
"Bagus kalau gitu" ucapnya sebari tersenyum☺️, dan menaiki motornya.
Lalu aku makan es krim di jalan pulang. Dengan wajah cemberut, sedikit kesal, karena responnya sangat minim akan ke pintaranku ini,
__ADS_1
...Huuuh...
Seakan-akan memang seharusnya begitu.
Eh.. iya sih emang seharusnya, tapi setidaknya ucapkan lebih banyak pujian untukku gituu loooh..
Huhhh....~~~
Akhirnya tiba di rumah, aku mengganti pakaianku lalu aku makan mie instan, aku membuat mie instan sendiri, menggunakan penanak nasi, ibuku tidak sempat untuk membuat makanan, karena dia kerja pagi.
Aku ditinggal sendirian di rumah, karena ayahku harus pergi berkerja lagi.
Sangat gabutnya, aku lalu membaca buku, karena saat ini tidak ada hand phone ㅠㅠ, jika ada aku pasti sudah membaca komik dan scroll instagram.
Di tahun ini hanya ada telepon jadul. Hanya bisa main ular-ularan -_-.
Ini termasuk ujian bukan, hidup tanpa android sungguh hampa~~~~
Waktu berlalu begitu saja, kakaku akhirnya pulang dari sekolah. Dia masih kelas 4 sekolah dasar. Dia mengajakku bermain, aku merasa bahwa akulah kakaknya _-, ini sungguh lucu.
Ternyata seperti ini kakaku saat masih kecil xixixixi, sungguh ingin ku tampol.
Kami bermain plastesin dan bahkan menjemurnya, sebagai anak kecil ini sungguhlah kehidupan mandiri. Bermain terus dan melupakan bahwa kami tidak ditemani bahkan tidak di awasi orang tua.
Sungguh lelah, aku lalu tidur siang, dan kakaku membuat PRnya.
Tidak menyangka bahwa waktu sudah hampir sore saat aku membuka mata, akhirnya ibuku pulang.
Aku memeluknya dengan erat. Dia membawakan nasi goreng untukku dan kakaku. Kami makan bersama sehabis dia membersihkan diri.
"Mama aku mau minum susu coklat" tungkasku sebari menunjukan wajah memelas dengan pipi cabiku.
Dia lalu mengajakku untuk belanja di warung depan. Suasana yang sangat hangat. Andai saja dulu aku lebih merasakan ke hangatan ini.
Setelah itu kami menonton TV sampai malam, lalu ibuku menyuruhku tidur.
Ayahku pulang ditengah malam.
"#)($+$)#(3(_(!!"
Entah apa yang terjadi aku terbangun karena pertengkaran orang tuaku.
Mereka saling membentak, mereka adu mulut tanpa henti.
Aku lupa saat ini seharusnya waktu perpisahan mereka sudah dekat, pantas saja mereka bertengkar.
"Aku harus menghentikan ini, jika tidak semuanya akan terulang lagi".
"Mama! Papa! Cukuppp!!" Aku berteriak di tengah-tengah pertengkaran mereka.
"Apa kalian tidak memikirkanku???!!"
"Ana dan kakak masih disini!"
"Apa pantas kalian bertengkar disini, apakah ini yang kalian ajarkan untukku?!"
"Bisa tidak kalian bersikap lebih dewasa!?"
"Kalian lebih dewasa dari pada aku"
"Tapi kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil?"
"Aku ingin kalian tetap bersama, tolong pikirkan aku dan kakak, walau ekonomi kita pas-pasan, tapi jika kita bersama itu sudah cukup memberiku sebuah kehangatan"
Mereka tertegun, tidak habis pikir bahwa anaknya yang berusia 6 tahun berbicara seperti itu dan bahkan dulu dia anak yang pendiam dan sekarang berteriak dan mengeluarkan kata-kata seperti ini.
Siapa yang tidak terkejut.
Akhirnya mereka berhenti bertengkar, dan menenangkanku. Setelah saling bertatapan.
"Iya mama sama papa, gak bertengakar lagi kok"
"Jangan nangis lagi ana, maafin papa ya"
Kakaku terdiam dan hanya melihatku dengan kagetnya, lalu ia menangis juga.
Semua di akhiri pada malam itu, tapi aku tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak akan bertengkar lagi.
Aku akan menghentikan perpisahan mereka. Titik.
Aku mengantuk dan kelelahan setelah berteriak-teriak, akupun tertidur.
"Zzzz......." "Zzzz...." "Zzz..."
Di pagi harinya, seperti sebelumnya.
Aku duduk menggunakan baju seragam sekolah untuk memudahkan ibuku mengikat rambutku. Secara bersamaan aku menghela nafas.
"Haaahh...~~~"
Dengan tatapan masam, kantuk yang merajalela dalam mata, kerinduan akan kasur dan selimut yang hangat. Meronta ronta dalam benakku.
Aku berangkat ke TK lagi pada waktu yang sama. Cukup mengasyikan tapi aku bosan disini, semuanya sudah aku ketahui, sampai gurupun terdiam karena aku menjawab pertanyaannya dengan benar kemarin.
__ADS_1