
Tiba-tiba aku mendengar sebuah teriakan. Seperti ada perkelahian. Sangat berisik sehingga membangunkanku di tengah malam. Sekitar pukul setengah 12 malam.
Aku membuka mataku perlahan, berusaha melihat apa yang terjadi, aku mengusap mataku beberapakali.
Ternyata ayah dan ibuku sedang bertengkar lagi.
Entah apa yang mereka bahas, aku benar-benar tidak mengerti.
Apa permasalahannya?, Tidak terdengar jelas di telingaku, karena Aku masih linglung untuk beberapa saat.
Aku mendengar, beberapa kali mereka mengatakan tentang perceraian. Aku berusaha membuka mataku dengan lebar, mengumpulkan nyawa secepat mungkin.
"Kita cerai!"
"Yaudha Cerai!"
"Aku pergi dari sini!!"
Ada apa ini? Bukankah seharusnya mereka tidak bertengkar lagi.
Aku sudah meminta mereka tidak bercerai, dan mereka sudah berjanji padaku.
Dan lagi waktu perceraian mereka bukankah sudah lewat dan itu seharusnya sudah selesai?
"Lalu apa ini? Ada apa ini?"
Aku harus menghentikan ini.
"CUKUP!"
Aku berteriak dan mengehentikan pertengkaran mereka, aku menahan ibuku untuk mengemas barang-barangnya.
"Kenapa kalian bertengkar lagi?!"
"Mama mau pergi ke mana?"
"Mama mau ninggalin ana sama kakak?"
Ibuku hanya terdiam untuk beberapa saat lalu dia mengemas lagi barang-barangnya.
"Jawab ma?!" teriakku dengan menggoyang-goyangkan tanyan ibuku.
"Pa jangan biarin mama pergi" aku berteriak ke ayahku dan menarik tangannya.
Kakaku dia menangis dan memegang tangan ibuku.
"Anna sama kakak ya, mama pergi dulu" dengan suara pelan dan sedikit gemetar.
"Enggak ma!" tungkasku.
"Paa hentiin mama!" kembali lagi aku memohon dengan ayahku, tapi tidak ada respon.
Lalu ayahku menjawab dengan dinginnya.
"Diemin mama kamu pergi, papa mau istirahat, kamu tidur sana."
"Enggak pa hiks.." kakaku hanya bisa menangis setelahnya.
"Ma jangan pergii!" teriak kakakku.
Aku memegang tangan ibuku menahannya sekuat tenaga di depan pintu. Sampai aku berlutut memohon agar dia tetap tinggal. Aku menangis, sampai aku susah bernapas. Tanganku di lepaskan oleh ibuku, saat aku ingin mengejarnya, tiba-tiba ayah menahanku.
Hujan turun dengan deras, petir menyambar dan angin sangat keras.
__ADS_1
"GRUDUKK.. JEDERR..."
"AHH..." Aku terkejut dengan suara petir itu. Dengan wajah yang basa karena air mata sendiri di tambah dengan suara petir yang mengejutkanku, membuat jantungku berdetak semakin cepat.
Rasanya sesak, sakit, sangat sakit, rasanya aku ingin meledak, hatiku sangat sakit. Jantungku berdetak sangat cepat. Air mataku keluar tanpa henti. Aku dan kakaku berteriak terus memanggil ibuku.
"Maa......!" "Maa..?!!"
Aku sangat terpuruk saat itu. Aku tidak bisa menahan tangis. Aku merasa tenagaku hilang, energi dalam diriku sangat terkuras habis.
Di keadaan ini aku sungguh hancur, lebih hancur dibandingkan dengan kehidupan yang dulu.
Aku bertanya-tanya, kenapa tidak berhasil, aku kira saat aku menahan mereka, dan melewati waktu perceraian mereka, semuanya sudah selesai.
Tapi....~ semuanya hanya menahan takdir untuk beberapa saat.
"AAARRGGHHHH....."
Tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Semua terasa berputar. Pengelihatanku terasa kabur. Semuanya terlihat buram.
Terjadi guncangan, banyak barang-barang terjatuh ke lantai.
"Apa gempa?" tanyaku linglung.
Lalu aku terjatuh, aku terbaring di lantai, lantainya terasa dingin, pengelihatanku sedikit kabur, aku mencoba mengedipkan mataku agar pengelihatanku tidak kabur.
Untuk beberapa saat samar-samar aku melihat sebuah jam dinding yang jatuh di depan mataku, menunjukkan pukul 12.01 malam.
Aku ingat ini sudah menginjak hari ulang tahunku.
Sontak aku terkejut. Seharusnya hari ini adalah hari membahagiakan untukku, tapi ini menjadi hari yang sangat menyedihkan.
"Apakah ini hanya tipuan?" tanyaku dengan linglung.
"Iya pasti begitu, haha" ucapku dengan perasaan senang dan ragu.
"Papa, pa , ma? kak??, kalian di mana?" tanyaku dengan suara pelan.
"pasti kalian mau bawa kuenya ke sini kan".
"jangan bercanda lagi".
Tidak ada yang menjawabku sama sekali.
Kesadaranku mulai kabur, aku mendengar suara. Aku tau suara itu memanggil namaku.
"Apa itu ibuku atau ayahku?"
"suara siapa itu?"
Aku tidak bisa mengidentifikasi suara siapa itu., apakah itu pria atau wanita, aku tidak tau.
Dianna..~~~
Dianna.~~~
Dianna.~~~
Suaranya mulai samar-samar menghilang.
Lalu gelap, semuanya gelap. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Aku tidak bisa merasakan apapun. Hanya pikiranku yang berfungsi.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Mulai terdengar suara lagi.
"KRINGG... KRINGG... KRINGG.."
Tiba-tiba aku terbangun. Aku berada di rumahku di mana ini waktu saat ayah dan ibuku sudah bercerai.
Dan itu suara alarm pagi yang berbunyu. Aku terkejut dan loncat dari atas tempat tidur.
"Ini,,, a-aaku kenapa? Di sini?"
Aku gemetar, suaraku lemas, aku bahkan terbata-bata. Jantungku masih berdetak kencang.
Aku melihat kalender dan menyadari aku berada di 6 tahun setelah ayah dan ibuku bercerai.
Hari ini adalah hari ulang tahunku.
Aku terkejut, ada apa ini sebenarnya.
Ini membuatku kebingungan.
"ada apa denganku sebenarnya" tanyaku dengan mengepal tangan di dadaku dan terduduk di lantai.
Sontak aku menangis, aku menangis mengingat semua kejadian itu tepat terjadi di hari ulang tahunku.
"Hhiks.... Hikss.."ðŸ˜ðŸ¤•
Aku benar-benar menangis, senangis-nangisnya sampai aku merasa sesak, dadaku terasa terjepit, hatiku hancur.
Seperti ada sesuatu yang menusuk terus-menerus ke dalam hatiku sampai rasanya sangat sakit.
Mencoba menyadarkan diri dengan menampar wajahku beberapa kali
Kebingungan dan hampir gila, jika aku tidak merasakan sakit, jujur aku kira aku sudah benar-benar gila sekarang.
"Aku melintas lagi !?"
"KENAPA?!"
Melintas untuk kedua kalinya, siapa yang tidak merasa semua ini hanya ilusi.
Aku manangis dengan menahan suaraku, menutup mulutku dengan rapat, agar tidak terdengar oleh ayah dan kakaku.
Rasanya semakin sakit.
Benar-benar sakit.
Aku seperti dipermainkan oleh takdir. Aku tidak bisa berfikir lagi, aku hanya bisa menangis.
Aku mengeluarkan semua kesedihan yang aku alami. Semua meledak pada saat bersamaan.
Aku mencoba menenangkan diriku.
Aku berusaha berhenti menangis.
"Tapi tidak bisa."
Aku bertanya-tanya kenapa, kenapa hasilnya seperti ini.
Terus menerus memikirkannya benar-benar membuatku sakit kepala.
"Apa ini sungguh adalah kehidupan nyata?"
"Ada apa ini ya Tuhan?"
__ADS_1
tanyaku dengan suara merintih.