
Dengan badan terlentang dan mata terbuka lebar menghadap ke langit-langit kamar.
"Sudah Aku duga" Dengan suara pasrah.
Aku menggerakkan tangan dan kakiku bagaikan anak bayi yang meminta susu. Tapi bedanya aku merengek agar bisa tidur, tidak lupa dengan suara yang pelan. (Tidak ingin mengganggu kak Denise yang tidur bagaikan singa betina).
"ENGGAK BISA TIDURRRR HuWaaA"
"HUWAA.... HUHU....."
"Ottokee..,, tidurr woi mata meremm,,,"
"....._-"
....Tik Tok.... Tik.... Tok... Tik....
Suasana malam membuatku nyaman setelah lelah merengek, namun kenyamanan itu membuat kepalaku terus berfikir mengenai kehidupanku dan hal lainnya.
aku berfikir bahwa, jika kehidupanku hanya seperti ini saja, pasti ada sesuatu kejutan yang menantiku. Aku merasa semenjak aku melintas, tidak banyak yang berubah dan bahkan tidak ada hal yang seperti Boommm..
Aku memang orang yang aneh, yang bingung kenapa tidak ada masalah muncul ahkir-ahkir ini. Jika ada masalah aku akan mengeluh begitupun sebaliknya.
Karena semakin tidak ada masalah, maka masalah itu sedang menuju kita dengan ledakan yang dahsyat.
Seperti halnya kalian merasa bahwa hidup kalian benar-benar flat, dan PASTI sewaktu-waktu kalian akan mendapatkan masalah yang besar. Jadi waspadalah👻
"Jadi kita seperti diberi makan lalu akan disembeleh saat sudah kenyang."
Hal seperti ini membuatku spot jantung. Tidak bisa tidur hanya karena memikirkannya.
Benar atau tidaknya, membuatku menjadi takut. Entah bisa atau tidak aku melewatinya.🤔😫
Seharusnya bisa.
Heran, yang dipikirin itu harusnya doi ini malah masalah yang enggak tau datang kapan dan di mana.
Semakin dipikirin semakin membuatku sakit kepala, lebih baik memikirkan bagaimana caranya untuk tidur.
Tapi memikirkan cara untuk tidur menggunakan kepala, sedangkan aku perlu agar kepalaku berhenti berfikir agar aku bisa tertidur.
Jadi bagaimana ini?💫
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sekarang babak kedua dalam pemikiran larut malam ini dimulai.
Memikirkan Dandelions,
bunga yang sangat menarik, aku mulai menyukai bunga itu.
Setalah aku pikirkan ternyata aku dikalahkan dengan sekuntum bunga.
Karena,,
Dandelions dia tidak secantik mawar, tidak sewangi melati dan tidak seabadi Edelwis.
Dia tidak memiliki mahkota yang membuatnya tampak menarik.
Namun Dandelions adalah bunga yang paling kuat, dia tidak marah kepada angin yang menerbangkannya, dia pasrah dimanapun akan jatuh, karena Dandelions percaya, dimanapun dia jatuh, dia akan tumbuh.
"Huuhh,,, Dianna bisa-bisanya dikalahkan dengan sekuntum bunga?!". dengan raut wajah tidak percaya dan sombong setelah sadar dari pemikiran.
"aku gak akan kalah". ucapku dengan berani sebari mengepalkan tangan. dan langsung bangun dengan semangat yang berapi-api.
__ADS_1
Aku akan menerima semuanya mulai sekarang.
Sepertinya ada yang salah.
"...."
"ARGHHH....,Kenapa aku bersemangat?, aku ingin tidurr ㅠㅠ, I want to go to school". Kembali melemah setelah bersemangat untuk beberapa saat dan melempar badan kembali ke kasur.
*Berusaha tidur dengan memejamkan mata.
Dan ahkirnya
ZZZ...zzz...Zz...zzzZ..
...,,,Keesokan Paginya,,,...
Setelah skincare pagi hari dan menyiapkan beberapa hal yaitu perlengkapan sekolah, aku berangkat menuju sekolah bersama dengan kakaku, mengendarai sepeda motor.
Dan setelah perjalanan tiga puluh menit, aku melihat Gedung besar, tinggi pintunya sekitar dua sampai tiga meter yang berwarna silver semakin mendekat dan semakin besar, pintu gedung itu terbuka lebar, banyak siswa melewatinya.
Bercak kagum terlihat di wajahku, mataku tidak berhenti menatap Gedung besar itu yang ternyata adalah Gedung sekolahku.
"Ini adalah sekolahku." gumamku dengan takjub dan mata berbinar-binar.
Dengan langkah kecilku, aku pergi menuju kelasku yang berada di lantai 2 Sebelah timur, sekolahku memiliki 6 lantai yang menjulang tinggi ke atas langit.
~Garden Junior/Senior High School~
Seingatku dulu, sekolah ini adalah sekolah suwasta yang baru meningkatkan eksistensinya di kalangan masyarakat dan menarik beberapa investor besar. Sehingga baru bisa memiliki gedung setinggi ini.
Sekolahku mempunyai 2 unit berbeda, yaitu unit Junior High School dan Senior High School.
Banyak kakak-kakak senior tampan ada di sana😍.
Mereka sangat tinggi dan keren. Rambutnya cetar membahana, seperti oppa-oppa korea.
Tidak rugi aku melintas kembali ke masa ini.
Setelah melewati beberapa anak tangga, aku sampai di ruang kelasku. Belum ada satu orang pun terlihat duduk di ruangan itu.
aku melihat sekitar dinding untuk mencari jam, dan terlihat pukul 06.15 pagi.
"Ahh... kepagian." desahku dengan sedih.
Karena jam sekolah dimulai pukul 07.30 pagi, aku malah datang lebih awal 1 jam 15 menit.
Aku lalu duduk di kursiku dan membaca buku mengenai materi akuntansi, karena di kehidupanku yang dulu aku sempat mengambil sekolah jurusan akuntansi. Rasa ketertarikanku terhadap jurusan ini sangat tinggi.
*fokus membaca
Tidak lama selang beberapa menit aku mendengar langkah kaki yang masuk ke dalam kelas. Seseorang datang.
Tidak memperhatikannya dan lanjut membaca buku, aku tidak ingin menoleh sama sekali, karena aku merasa samar-samar Dia yang datang.
Aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi seperti dulu. Mengingatnya saja aku sudah merasa geli kepada diriku sendiri. Hal itu sangat memalukan.
Tunggu kami memang tidak ada hubungan apapun, maksudku adalah. Ah sudahlah.
Tiba-tiba seperti ada yang mendekat kearahku.
*suara langkah kaki mendekat perlahan.
__ADS_1
Aku menggenggam buku di tanganku dengan erat dan masih berusaha terlihat fokus membaca.
"Siapa yang datang menghampiriku?." tanyaku dalam hati, dengan wajah sedikit cemas sebari menatap ke arah buku.
Di ruang kelas ini hanya ada aku dan dia, atau aku salah paham dan dia bukan orang itu. Aku berusaha untuk menebak-nebak. Pasti bukan dia, seharusnya tadi aku melihat orang yang datang.
"DUG.. DAG.. DUG.. DAG..."
Ruangan sangat sunyi membuat detak jantungku berdengung sampai di telingaku.
Langkahnya semakin mendekat.
*Plak
Seseorang memegang bahuku dari belakang.
"Dianna"
Aku sedikit terkejut,
Sontak bukuku terjatuh dari genggamanku, yang awalnya aku pegang dengan eratnya. Aku mengontrol ekspresiku sebelum secepat mungkin menoleh ke belakang agar tidak terlihat aneh.
"Ah.. Iya?" tanyaku dengan lembut dan senyum tipis menghiasi wajahku.
*Keduanya terdiam
Benar saja yang baru saja datang dan sekarang menghampiriku, berada tepat di hadapanku.
Bukanlah orang yang aku maksud, melainkan sesosok gadis dengan tinggi sekitar 150an datang untuk menyapaku dengan gayanya.
"Woii, fokus li khe." dengan suara yang keras namun memiliki ciri khas yang imut bersamaan dengan sedikit unsur tomboy di dalamnya, kedua unsur ini disatukan dalam dirinya
Dia adalah Shen Nira salah satu dari 5 siswa pintar di kelasku.
"Ahh.. iyaalah orang lagi baca." tungkasku dengan leganya.
"baca buku apa khe?" sebari sedikit membungkuk dan menyamping melihat judul buku yang ada di atas meja.
"Akuntansi?" tanya dia setelah membaca judulnya dan sedikit heran.
"iyaa, lagi tertarik aja." jawabku dengan cepatnya.
"Ohh gtu tohh, okey lah" sebari kembali ke bangkunya.
"???"
Aku dibuat kebingungan olehnya, dia menghampiriku hanya untuk bertanya itu saja?.
..."Tak... tak.. tak.."...
Suara langkah kaki yang terdengar dari luar kelas.
Kali ini aku melihat ke arah pintu masuk kelas.
Terlihat sesosok anak laki-laki memasuki ruang kelas, rambutnya yang kece dan proporsi tubuhnya yang tinggi, membuat mataku tidak berkedip melihatnya.
"Itu dia." Suara kecil.
Laki-laki itu menoleh ke arahku. Sepontan aku memalingkan wajah dan menghadap ke buku yang aku baca tadi. >\=<
Dia orang yang aku maksud.
Dia adalah .........>
__ADS_1