
Saat aku sedang meratapi nasib, terlihat sesosok pria yang tiba-tiba menghampiriku, dengan baju seragam yang dikeluarkan dan rambut hitam model comma hair.
"Uhuk... sesedih itu ya ikut lomba barang aku?." tanya pria itu dengan menatap ke arahku lembut.
Aku terkejut dan berhenti mengeluh, seketika menoleh ke arah pria itu dengan kagetnya.
Dia adalah Aiden, si pria tampan dan populer di sekolah.
"ah.. gak gitu, cuman aku gak pinter-pinter banget soalnya." jawabku dengan senyum memaksa dan berusaha ramah terhadapnya.
Padahal dalam hatiku, aku ketar-ketir bukan main.
"Gak masalah, nantik kita belajar bareng aja." ujarnya dengan wajah tanpa dosa dan menjawab santai.
"hahe.. iya." ucapku dengan sedikit sayu dan mataku melirik kemana-mana.
"Aman kalau gitu, yaudah... mau ke kantin bareng?." tanya Aiden lagi dengan nada santai tanpa tau apa yang akan terjadi jika fansnya mendengar ajakan dia terhadapku.
dengan cepat aku menolaknya "aku makan di kelas." tungkasku pelan dan pasti.
"Owh yaudah, aku duluan ya." sebari melambaikan tangan pergi keluar pintu kelas.
Aku hanya bisa tersenyum sedih melihat tingkahnya terhadapku.
Aku merasa bahwa dia sedang mengujiku, apa aku akan seperti fans-fans gilanya, dan ingin ikut lomba hanya untuk berduaan dengan dirinya.
Tapi bukankah dia lihat sendiri aku menolak untuk ikut lomba dan di paksa, lalu untuk apa dia harus mengujiku. (sisi lain pikiranku yang aktif).
Dia bagaikan kartu yang mempunyai 2 sisi, Dia memang terlihat santai tapi sebenarnya, dia sangat lah ambisius dan ingin menang.
"Apa mugkin pemikiranku salah?...,sudahlah mungkin hanya perasaanku saja." tungkasku yang berbicara sendiri di kelas, untung tidak terlihat oleh orang lain.
Lalu aku segera menyelesaikan makan siang sebelum bel masuk kelas berbunyi dan segera pergi ke perpustakaan untuk membaca buku lagi.
*Nyam nyam nyam nyam.
..........................
...................
.............
.........
..._Setelah selesai makan_...
Perpustakan hanya ada 1 di sekolah ini, dan itu untuk semua unit yang ada, jangan salah perpustakaannya sangat luas dan nyaman di tambah lagi dengan kesunyian di setiap sudut ruangan, benar-benar kedamaian yang kucari.
Aku berjalan menuju perpustakaan setelah membereskan kotak bekal makanku, lalu aku pergi ke lantai 3 di bagian barat wilayah Senior high school.
Jadi tanpa sengaja ataupun tidak, aku akan melewati ruang kelas kakak-kakak senior yang tampan. Aku semakin senang pergi ke perpustakaan dan mencuci mataku yang sudah kering ini.π
Tak.... tak... tak... (suara langkah kakiku).
__ADS_1
Aku berjalan sambil memainkan ponselku sebentar untuk melihat jadwal piket kelas berikutnya.
DUUG!
"Ah.., maaf kak." tungkasku dengan perasaan bersalah sebari menunduk ke bawah.
DUG..DAG..DUG..DAG
Bersamaan dengan itu, detak jantungku tiba-tiba berdegug dengan kencang setelah aku menabrak bagian lengan seseorang, aku pikir dia kakak senior laki-laki atau seumuran denganku tapi dia tidak menggunakan seragam sekolah ini.
Perasaan aneh tiba-tiba muncul dalam hatiku, seperti perasaan familiar, lalu aku menoleh ke arah orang tersebut. Tapi orang itu sudah berbalik dan pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun.
Aku ingin memanggil orang itu, tapi aku merasa enggan juga untuk menghampirinya. Tidak mungkin aku akan menjelaskan perasaan familiar ini kepadanya, yang bahkan dia sendiri mungkin tidak merasakannya, jika dia merasakannya dia pasti akan mengatakan sesuatu dan bukannya pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun.
Perasaanku tiba-tiba merasa sedih melihat orang itu pergi begitu saja.
Aku ingin melangkah ke arahnya tapi kakiku menahannya. Entah ada apa denganku, sepertinya aku kelelahan.
Aku hanya berdiri melihat orang itu dari kejauhan, dia tinggi dan proporsi badannya sangat ideal. Aku menatapnya cukup lama sampai ketika dia menghilang dari kejauhan. Tetap saja aku tidak dapat melihat wajahnya.
Aku tidak pernah melihatnya sama sekali, jika aku pernah melihatnya atau berhubungan dengannya seharusnya aku bisa langsung tau hanya dengan melihat punggungnya saja.
Apa lagi aku merasakan perasaan yang sangat familiar terhadap dirinya hanya setelah bertabrakan sedikit dengannya.
Tubuh orang itu tidak familiar di mataku tapi perasaanku terhadapnya sangatlah familiar di benakku.
............
Tak..tak.. (suara langkah kakiku).
Mataku terbuka lebar melihat ruangan yang dipenuhi dengan rak buku. Ruangan bernuansa coklat kayu yang terlihat elegan. Ruangan itu diterangi dengan cahaya matahari yang terpantul dari jendela besar seperti cahaya ilahi.
.
~Perpustakaan Garden High School~
Benar-benar seperti surganya para kutu buku. Dulu aku tidak pernah ke perpustakaan dan hanya bermain-main di kelas ataupun di lapangan, sekarang aku berada di sini, ini benar-benar terasa aneh. Sangat terlihat perbedaannya.
Aku bergegas mengambil beberapa buku mengenai bisnis dan ekonomi di rak-rak itu. Segera setelahnya aku pergi mencari tempat yang setrategis untuk duduk dan membaca.
Aku benar-benar mendapatkan tempat yang cocok untuk membaca sendirian tanpa gangguan seseorang.
*Fokus membaca
Waktu berlalu begitu saja, aku terhanyut dalam kefokusan membaca tanpa menyadari seseorang duduk di depanku.
Saat aku sudah ingin selesai membaca buku, aku terkejut dengan kehadiran sesosok pria yang duduk tepat di hadapanku.
Tidak hanya itu, dia hanya duduk dan memperhatikanku membaca tanpa melakukan aktivitas apapun.
__ADS_1
Matanya fokus kearahku dengan tangan yang menjadi senderan wajahnya. Menatap lirih dan senyum tipis.
"A-aiden?!."
Kaget setengah mati, mataku melotot seolah akan loncat keluar dari tempatnya. Tidak menyangka bahwa Aiden sedang memperhatikanku.
"Hai..?." Sapanya dengan lembut dan santai, diiringi dengan senyum manis yang tipis.
"Khe ngapain di sini, udah lama ya?." tanyaku dengan ekspresi tidak menduga.π¦
"Baca buku, udah sih." jawabnya dengan memerengkan kepalanya sedikit ditambah dengan senyuman.
"Ngapain baca di sini?." tanyaku dengan tidak sabaran.
"Emang gak boleh belajar bareng, kita ken mau ikut lomba, jadi gak ada salahnya." tungkas Aiden dengan ekspresi yang ramah seolah memperkukuh tempatnya agar tidak terusir.
"Hah..?.. oh... Iya.. em." jawabku dengan sedikit linglung. (ngeblank tanpa aku sadari).
Lalu aku kembali fokus untuk membaca dan tidak menghiraukan kehadiran Aiden lagi.
Tidak lama setelahnya bel masuk kelas berbunyi.
Ding..ding..ding...ding
Aku bangun dari kursiku dan hendak merapikan buku.
"Aku bantu beresin bukunya." ucap Aiden dengan ramah.
"Oh.. gak perlu." sautku dengan canggung.
"Gak masalah." tungkas Aiden sebari mengambil beberapa buku yang aku baca di atas meja.
Karena sudah seperti itu aku hanya bisa mengiyakan Aiden yang memaksa untuk membantuku.
Setelah kami menaruh buku di rak, kami pergi ke kelas bersama. Aneh jika aku pergi duluan, karena bagaimanapun juga kami berada di satu kelas yang sama dan habis membaca buku yang bersama.
Setelah kakiku melangkah keluar dari perpustakaan. Aku merasakan seperti banyak pedang yang dingin ingin menusuk-nusuk tubuhku.
Setelah aku membuka mata dengan lebar-lebar.
Ternyata bukan pedang melainkan tatapan mata sinis gadis-gadis yang terdeteksi adalah fans pria yang berjalan di sebelahku, yaitu Aiden.
Aku seperti merasakan raungan caci maki dari, diri gadis-gadis itu. seolah mereka ingin sekali memakanku tapi terhalang karena ada Aiden juga di sisiku.
Mereka hanya bisa menyeringit dan menatap tajam ke arahku.
Jadi dapat di simpulkan bahwa Aiden itu membawa mata jahat dan penangkalnya secara bersamaan.
Firasatku mengatakan mungkin hari-hariku tidak akan damai lagi, mulai dari detik ini atau bahkan semenjak di perpustakaan.
Aku akan mendapat masalah yang berhubungan dengan pria yang semakinku lihat semakin membuatku jengkel.
Yaitu Si AIDEN ZHEN RUO!
__ADS_1