
Dgrrrr.... Dgrrrr....
"Hallo, Kenapa? "
"nuna, kamu dimana?"
"ada apa dae-hyun, pagi pagi sudah ribut"
"nuna kamu dimana si sebenarnya.. kamu bilang nginep dirumah temen tapi tadi aku kerumah kak myung hee katanya kamu pulang semalam"
"buat apa kamu cari aku, lagian aku gak nginep dirumah myung hee"
"terus kamu dimana, kak apa kamu tau semalam ibu dibawa ke rumah sakit. Dia jatuh dari tangga"
"apa, terus gimana keadaannya"
"tidak buruk hanya gegar otak ringan, tapi untuk sementara dia harus istirahat dirumah sakit. nuna kamu akan kerumah sakit kan? "
"eumm.. nanti aku datang, sekarang aku ada urusan mungkin malam aku baru kesana. eh dae-hyun ayah ada"
"ada, semalam dia nemenin ibu dirumah sakit. aku pulang karena hari ini harus sekolah"
"jadi dirumah gak ada siapa-siapa"
"yah, kenapa emangnya"
"gak, yasudah kamu tutup telpon nya kalau tidak ada hal lain lagi"
"yah.. " mematikan telpon
Nabila bergegas bangun dari tempat tidur untuk bersiap pergi ke studio, hari ini menjadi hari pertama nya magang disana sebelum menuju studio ia sempat mampir kerumah nya terlebih dahulu untuk mengambil barang miliknya.
sesampainya dirumah dia mengendap seperti seorang maling, lalu masuk kerumah lewat pintu belakang. dia mengambil beberapa pakaian dan juga buku musik miliknya, tidak lupa dia membawa Ukulele pemberian ibu nya dulu.
"Ayo lagi apa" suara dari balik pintu mengejutkan nya
"aihh kamu dae-hyun ngagetin aja, sedang apa kamu bukannya sekolah" membereskan semua barang kedalam koper
"nuna kamu mau pergi, bawa koper ? " dae-hyun menanyakan
"kamu gak usah tau, oh iya jangan pernah bilang sama ayah kalau aku pergi bawa koper"
"tapi kamu mau kemana?, " dae-hyun menghalangi jalan Nabila dengan tubuhnya, "aku akan diam tapi setelah kamu kasih tau kemana" menatap Nabila
Nabila menghela napas lalu memberitahukan dae-hyun bahwa dia akan tinggal di sebuah apartemen, dia juga sudah mendapatkan pekerjaan disalah satu agensi musik.
"hah, nuna kamu punya uang dari mana? "
"heheh... kakek yang kasih, ets tapi kamu jangan bilang sama ayah kalau aku nyewa apartemen."
"oke, tapi satu syarat biasa, nuna tau maksud ku kan" dae-hyun mengangkat alisnya sambil tersenyum
"iya aku tau, nanti aku transfer ke tabungan mu, tapi sebelum itu kamu harus temenin nuna beli barang"
"oke kapan"
"Nanti Sore jam 5"
Dirumah sakit sang ayah masih menemani istrinya yang terbaring di ranjang, dia sudah siuman namun belum diperbolehkan untuk pulang. Ayah mengurus istrinya dengan sangat baik ia seperti menyayangi nya dengan sepenuh hati, walaupun sebelum kejadian mereka bertengkar hebat.
"mah ayah harus berangkat kerja kamu tidak apa-apa sendirian, dae-hyun masih sekolah dia akan pulang lebih awal aku menyuruh nya untuk menjaga kamu disini" ujar ayah
"kamu tidak usah mengganggu dae-hyun biarkan dia sekolah dengan tenang, seharusnya Nabila yang mengurus kebutuhan ku disini tapi dia malah pergi dan menyebabkan ini semua"
"sudahlah kamu jangan terlalu membencinya"
"semua ini terjadi akibat kamu terlalu memanjakan nya, lagian kemana sebenarnya anak itu pergi dari semalam belum pulang. Sudah besar bukannya nurut malah semakin membantah, pake bilang ingin pulang ke Indonesia. kalau dia balik ke Indonesia gimana mas, warisan kita gimana? "
__ADS_1
"sudah kamu istirahat saja tidak perlu memikirkan Nabila, aku yakin dia masih disini. lagian bukannya kamu yang memegang visa Nabila, dia gak akan bisa kemana mana tanpa itu"
"yah kamu benar, aku harus tidur kamu pergi lah bekerja" ujar ibu kemudian tidur dengan posisi menyamping membelakangi ayah
Ayah pergi meninggalkan ibu di rumah sakit sendiri, dia terus menghubungi Nabila namun masih tidak diangkat oleh nya.
***
Nabila sampai di kantor disana pak Baek hyun sudah menunggu nya hari ini dia akan menemani pak Baek hyun rekaman, Nabila mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan "hari ini ada 4 penyanyi yang akan rekaman disini untuk itu kamu harus memperhatikan dengan baik, mengerti"
"tapi saya tidak bisa menilai pak"
"kamu tau tempo dan juga irama jadi menurut saya tidak akan sulit untuk kamu membuat penilaian, lagi pula ada saya disini saya akan membantu kamu"
"baik Pak"
Dalam beberapa menit tempat itu penuh dengan kedatangan para penyanyi dan member boyband, agensi musik milik pak Ahn bukan hanya mendebutkan penyanyi solo saja tapi beberapa boyband sekali pun.
dan mereka semua terkenal tidak heran jika pak Ahn menjadi orang tersukses di negara ini, Nabila yang merasa gugup mencoba menenangkan nya dia terus memegang tangannya "oke aku bisa"
"bagaimana kamu gugup"
"iya Pak"
"oke sebelum rekaman saya mau memberi tahukan kalian dengan seseorang, ini Nabila keponakan Direktur Ahn dia karyawan magang disini. hari ini dia akan menjadi asisten saya dalam proses rekaman kalian jadi mohon kerjasamanya"
"hallo, aku Nabila" Nabila menundukkan badannya memberi hormat
Setelah perkenalan akhirnya proses rekaman dimulai satu persatu mereka masuk kedalam ruang rekaman, awalnya Nabila sangat gugup takut membuat kesalahan tapi karena pak Baek hyun menemaninya membuat Nabila sedikit tenang.
Nabila memperhatikan bagaimana pak Baek hyun bekerja, dia sangat kompeten dan jelas dalam menerangkan bagaimana intosi dan juga nada-nada yang harus di lakukan penyanyi. semua itu terlihat sangat menarik perhatian Nabila, dia menikmati proses rekaman itu.
Beberapa jam berlalu semua selesai dengan rekaman mereka masing-masing, terlihat tinggal satu orang yang belum melakukan rekaman hari ini dia adalah Se-Hun, dia akan menyanyikan lagu untuk single ke 5 nya.
"sekarang dia dimana, apa tidak akan datang lagi" ujar pak Baek hyun menanyakan pada manager Se-Hun
tidak berselang lama dia datang dengan sikapnya yang baik dia memberi penghormatan pada pak Baek hyun bahkan dia secara langsung meminta maaf padanya, melihat sikap itu Pak Baek hyun tidak bisa marah padanya.
"sudah cepat rekaman"
Se-Hun masuk ke ruang rekaman tanpa melihat bahwa ada orang lain disana, Nabila sebisa mungkin menjauh dari pria tersebut dia memakai masker untuk menutupi wajahnya.
selama rekaman semua berjalan lancar dengan biasa Se-Hun selalu membuat pak Baek hyun kagum dengan bakat bernyanyi nya tidak diperlukan waktu lama untuk merevisi Se-Hun, karena dia penyanyi jenius dia tahu intonasi dan Irama dengan baik.
"kalau dia tidak mempunyai sifat buruk yang suka menghilang mungkin dia bisa jadi musisi hebat" ujar pak Baek hyun
"tapi bukannya dia memang hebat"
"iya tapi dia bisa lebih hebat dari sekarang jika dia serius. dan kamu Nabila apa kamu tidak mau menjadi seperti mereka"
"saya... " Nabila terdiam mendapatkan pertanyaan itu, dikala mereka sedang bicara Se-Hun keluar dari ruang rekaman dia melihat Nabila yang duduk disebelah pak Baek hyun.
"dia siapa pak" tanya Se-Hun
"ini keponakan pak Ahn" jawab pak Baek hyun sambil memegang pundak Nabila
"keponakannya Direktur, ko aku baru tau dia punya keponakan"
"iya katanya keponakan jauh, kenalin dong" pak Baek hyun menyuruh Nabila memperkenalkan dirinya pada Se-Hun
Nabila sempat terdiam dia tidak ingin memperkenalkan namanya karena kemungkinan besar dia tau dirinya, setiap kali Nabila bertemu dengan Se-Hun hal itu bukan lah hal yang baik tapi dia juga tidak tau dengan semua takdir itu.
"hallo, aku Nabila" membungkuk
"aku Se-Hun, salam kenal" pria itu bersikap biasa seolah tidak tau "pak Baek hyun, rekaman nya selesai kan kalau gitu aku boleh pergi sekarang"
"iya tapi sebelum itu kamu pergi temui pak Direktur, minta maaf padanya karena kemarin kamu tidak datang"
__ADS_1
"siap" Se-Hun pun pergi meninggalkan ruangan
"Nabila kamu juga bisa pulang hari ini cukup untuk rekaman saja, lagi pula sudah sore untuk pekerjaan lainnya nanti saya akan kasih tau kamu besok"
"baik pak kalau begitu saya pamit"
Butuh seharian penuh dalam melakukan rekaman, ternyata menjadi seorang produser musik itu tidak lah mudah namun jarang sekali yang melihat kehebatan mereka, padahal semua karya yang dihasilkan para penyanyi diatas panggung adalah hasil kerja keras mereka dibalik layar.
Nabila berjalan menuju lift dia menekan tombol open selang beberapa detik pintu lift terbuka terlihat seorang pria tidak asing berada di dalam sana, tanpa bisa menghindar tangan pria itu tiba-tiba menarik Nabila masuk kedalam lift.
tubuh mereka saling berdekatan satu sama lain tatapan keduanya saling bertemu, tangan Se-Hun memegang pinggang Nabila lembut. sadar akan posisi itu Nabila segera bergerak dan menjauh dari hadapannya, dia menekan tombol lobi.
klik.. tombol Basement ditekan Se-Hun sehingga tujuan elevator itu berubah, Nabila melirik pria disamping nya itu lalu menekan tombol lobi kembali.
Se-Hun menekan basement kembali, Nabila menekan tombol lobi kembali, mereka berdua saling berebut tujuan hingga pintu lift itu terbuka kembali. beberapa karyawan masuk kedalam elevator itu hingga mereka saling ber dempetan.
Jarak Nabila yang tadinya jauh menjadi dekat sekarang dirinya berada disamping Se-Hun, untuk nya berpindah posisi sangat sulit karena lift itu sudah berjalan menuju basement. "eumm.. " Nabila membuang muka kesamping memperlihatkan ketidak nyamanannya.
Elevator itu berhenti di basement semua keluar satu persatu, Nabila tetap didalam karena dia harus naik lagi ke atas menuju lobi. "kamu, tidak keluar" pintu lift tertutup kembali
"gak ada hal yang harus gue bicarakan sama lo" ujar Se-Hun menekan tombol lift menuju lantai 20 lantai terakhir gedung ini
"kamu, apa maksud nya itu" Nabila mencoba menekan tombol lift itu namun Se-Hun menahannya dia menghalangi dengan tubuhnya, sehingga membuat Nabila terpaksa diam.
Tanpa waktu laman mereka sampai dilantai 20 Se-Hun menarik Nabila menuju atap dan mencoba berkomunikasi baik-baik dengan nya, mereka saling berhadapan satu sama lain.
"jadi apa mau kamu, aku gak punya banyak waktu seseorang sedang menunggu ku di stasiun"
"siapa pacar, atau suami"
"siapapun itu bukan urusan kamu, sekarang yang aku tanya adalah kenapa kamu membawa ku kesini. Apa kamu ingin bertanya mengenai kejadian kemarin, aku sudah bilang bahwa tidak terjadi apa-apa diantara kita aku hanya melihat kamu di dalam lift itu saja"
"gue tau"
"lalu kenapa kamu membawa ku kesini, hal apa yang mau kamu bicarakan dengan ku"
Se-Hun berjalan mendekati Nabila dia menatap dari ujung rambut hingga kaki, dia mengelilingi Nabila seperti sedang menginterogasi nya.
"apa mau kamu"
"lo ada masalah apa dengan gue"
"maksudnya"
"gue perhatikan kenapa setiap kita ketemu wajah lo selalu menunjukkan ketidaksukaan, apakah sebelum nya gue melakukan hal yang salah menurut gue tidak, yang salah itu lo beberapa kali kita ketemu lo selalu membut gue sial entah itu di cafe, hotel ataupun hari ini"
"apa maksud mu, hari ini aku melakukan apa"
"lo gak mau mengalah prihal lift"
"dan kamu marah hanya karena itu" ujar Nabila menunjuk pada se-Hun
"engak juga, tapi gue hanya penasaran aja apa lo selama ini ngikutin gue dan berpura-pura bawah semua ini kebetulan, atau memang lo benar fans panatik gue"
"heh jangan kegeeran, denger yah pertama aku gak pernah tau perihal kamu dan siapa kamu, kedua aku tidak suka dengan cowok yang munafik kaya kamu, ketiga semua yang terjadi di hotel, cafe dan tempat ini itu adalah kesialan bagi aku. paham"
"Apa maksud mu dengan munafik"
"Cari tau sendiri" Nabila mencoba pergi meninggalkan se-Hun namun lagi-lagi tangannya di tarik sehingga tubuh mereka kembali berdekatan.
"ichh.. bisa gak si kamu gak usah tarik tangan aku, kamu tuh ya.. iiii.. ih sudah lah, sekarang apa mau kamu"
"lo bilang gue munafik, lo tau apa tentang gue. lo bilang tidak kenal gue tapi lo menyimpulkan itu begitu saja" se-Hun tidak terima
"kenapa tersinggung, kalau tidak merasa kenapa harus marah. Udah yah aku cape berurusan dengan kamu dan tidak ada hal penting yang harus kita bicarakan, untuk aku suka sama kamu atau tidak itu bukan urusan bagimu karena satu dibanding seribu fans mu aku sama sekali bukan tandingan nya. "
Nabila pergi meninggalkan se-Hun disana semua perkataan nya membuat dia terdiam, dan memang sebenarnya apa tujuan se-Hun mengajak Nabila keatap apakah hanya karena itu atau memang ada hal lain yang dia rencana kan.
__ADS_1