Dunia Cerita Kita

Dunia Cerita Kita
Dunia Cerita Kita : Bab 12


__ADS_3

Melajukan mobil dengan kecepatan penuh membuat orang disamping mu ketakutan, dia berpegangan sampai teriak meminta mu untuk berhenti tapi tidak ada respon sama sekali. Mobil itu terus berjalan sampai mereka tiba di tempat tujuan, "aduhhh.. duh.. lo gila yah, bawa mobil ngebut kaya gitu. rasanya mau mati gue"


dae-hyun keluar dari mobil itu dengan sempoyongan tapi Nabila malah menyuruhnya membawa semua barang bawaan, mereka berada dirumah sakit Nabila kesana untuk menjenguk sang ibu.


"kamu jangan bilang apapun sama ibu, awas jika kamu bicara" ancam Nabila pada dae-hyun


"oke aman gak mungkin bocor"


Nabila menatap adiknya heran kenapa dia begitu mata duitan, padahal disekolah dia terlihat seperti pria baik dan rajin nyatanya nyusahin dan pengadu. dae-hyun hanya tersenyum melihat kakaknya, "kenapa gue ganteng yah"


"ihh kegeeran banget kamu"


Mereka berdua pergi ke ruang rawat inap disana ibu berada di kamar VIP, sepertinya sampai rumah sakit pun dia tidak pernah mau disandingkan dengan orang lain.


Dae-hyun masuk terlebih dahulu tersusul Nabila dibelakang nya, disana terlihat ibu sedang duduk menonton TV sambil memakan buah apel yang dikupas kan oleh perawat, saat melihat Nabila wajah ibu berubah 180 derajat.


Dia menyuruh perawat itu pergi seperti seorang pelayan, Nabila menunjukkan rasa hormat dengan membungkukkan tubuhnya "terimakasih"


"iya sama-sama" ujar sang perawat keluar dan menutup pintu.


Dae-hyun meloncat keatas sopa dan berbaring disana sambil memainkan handphone miliknya, Perlahan Nabila berjalan mendekati ibu dia menaruh barang bawaannya diatas meja.


"Bagaimana keadaan mu bu" tanya Nabila


"Untuk apa kamu bertanya, bukan kah kamu tidak peduli walaupun aku mati sekali pun" ibu menjawab dengan nada tinggi nya


"jangan bicara seperti itu, kalau kamu mati siapa yang akan menjaga dae-hyun. Lagi pula aku tidak bisa kalau harus merawat nya"


"gue juga gak mau tinggal sama lo" saut dae-hyun


"Mana mungkin mau kamu hanya memikirkan diri sendiri, ibu sedih jika aku tiada bagaimana nasib dae-hyun. Ayah nya tidak tahu akan mengurus dia atau tidak" membuat drama sendiri


"sudahlah ibu aku itu sudah besar aku bisa hidup sendiri, lagian buat apa menghawatirkan yang tidak baik. ibu masih hidup dan harus segera pulih itu yang terpenting" ujar dae-hyun


ibu tersenyum mendengar perkataan anak semata wayang nya itu, raut wajah ibu kembali datar saat dia menanyakan keberadaan Nabila semalam tidak pulang ke rumah. " gara-gara kamu ibu dan ayah bertengkar dan menjadikan kecelakaan ini terjadi "


"untuk apa kalian meributkan aku"


"kamu yah, ayah mu itu khawatir dia menyalahkan ibu atas semua prilaku kekanak-kanakan mu. semakin dewasa bukannya menjadi penurut malah banyak membangkang, mau jadi apa kamu"


Dae-hyun yang tidak tahan dengan semua omelan ibu memilih pergi meninggalkan Nabila sendirian bersamanya, Nabila menoleh kearah adiknya yang pergi begitu saja lalu menghadapi kembali kemarahan ibu.


"sekarang apa mau kamu"


"gak ada"


"kamu itu kalau ditanya liat wajahnya bukan hanya nunduk, apa wajah ibu ini menakutkan. saya memang bukan ibu kandung kamu tapi kamu harus menghormati saya sebagai istri ayahmu, lagian kenapa kamu terus memikirkan ibu kandungmu itu, jelas jelas dia membuang kamu begitu saja "


Hati Nabila tersakiti dia teringat kembali kejadian semasa kecilnya, dimana dia menangis ditengah pertengkaran orang tuanya bersembunyi dari dalam lemari pakaian.


Sesak di dadanya membuat organ pernapasan Nabila seakan tercekik, dia mencoba sadar dari kelam masa lalu yang terus menghantui pikiran nya. ibu terus menerus berteriak dihadapan Nabila membuat dirinya semakin takut, dan merasa tidak nyaman.


"CUKUP IBU" teriak Nabila

__ADS_1


Dia berdiri dihadapan ibunya yang terbaring dengan wajah penuh keringat terlihat jelas ketakutan nya, Nabila menatap ibu lalu pergi begitu saja meninggalkan nya.


Diluar terlihat ayah baru kembali dari kantor dia melihat dae-hyun sedang berdiri menguping dibalik pintu "Sedang apa kamu" tanya ayah pada dae-hyun


Tidak sempat menjawab Nabila keluar dari sana lalu pergi tanpa menghiraukan sang ayah dihadapan nya, dari dalam terdengar teriakan ibu memanggil nama Nabila namun dia tidak peduli dan terus berlari.


"dae-hyun ikutin kaka kamu cepat" suruh ayah


Dae-hyun mencoba mengejar Nabila dia mengikuti sampai mobil, "Nuna, kamu mau kemana" dae-hyun terus bertanya dia menarik tangan nabila


"Aku mohon pada mu biarkan aku pergi yah, aku sudah melakukan hal yang kamu inginkan. Kamu menyuruh ku menjenguk ibu aku sudah melakukan nya, jadi sekarang tolong biarkan kakak mu pergi"


Hati Dae-hyun seakan tersakiti melihat nabila menangis dihadapan nya, dalam pikiran nya perkataan apa yang ibu lontarkan hingga kakaknya menjadi seperti itu.


"Hati-hati" ujar Dae-hyun melepaskan tangan nabila, dia melihat kakaknya pergi meninggalkan rumah sakit.


Kembali kedalam Dae-hyun melihat ibu yang masih berteriak kesal, dia membantingkan semua barang dihadapan nya. buah-buhan pemberian nabila berserakan dilantai ayah terus berusaha menenangkan nya namun dia malah balik membentak.


Dae-hyun mencoba membujuk sang ibu, dia memeluk nya erat "tenang ibu tenang, kenapa ibu marah" tanya Dae-hyun


"anak itu sudah keterlaluan dia berani membentak ibu mu, emang dia pikir dia siapa. kalau bukan karena ibu yang memberi dia makan mungkin sekarang dia sudah mati kelaparan, dia sudah menjadi gembel diluar sana mencari ibu kandung nya"


Ayah hanya terdiam dia tidak tahu apa yang membuat istri dan anaknya bertengkar, dia bisa menilai dari satu sisi bahwa nabila sudah bersalah dia membentak ibunya dan pergi begitu saja.


"ibu tahu bukan nuna punya trauma dimasa kecil dia tidak bisa mendengar suara teriakan itu akan membuat nya ketakutan, ibu masih selalu membentaknya dan membuat nuna kembali mengingat trauma dengan menyebut ibu kandung nya" ujar Dae-hyun membela nabila


"apa maksud kamu dae-hyun kaka kamu itu sudah keterlaluan, dia yang membentak ibu bukan sebaliknya."


"Cukup bu aku dengar semuanya bahkan ayah pun tau" dae-hyun melihat ayah yang terus terdiam disamping istrinya


Melihat ayah yang membela ibu membuat dae-hyun kesal, dia keluar membawa tas sekolah nya. "dae-hyun kamu mau kemana" tanya ibu namun dia pergi begitu saja


"lihat.. lihat, kelakuan dae-hyun sekarang sudah sama seperti kakaknya. memang anak mu itu pembawa masalah di keluarga ini, mas kamu harus cepat meminta warisan pada Ayahmu bilang saja nabila sudah tidak bisa di atur atau apapun itu"


Ibu terus menghasut ayah untuk segera meminta hak warisnya, dalam Perjanjian tertulis warisan itu akan cair ketika mereka merawat nabila dengan baik dan membuat nya bahagia. Semua perjanjian itu terjadi karena masa lalu hubungan mereka, dan itu juga berkaitan dengan hilang nya ibu kandung nabila.


***


Dibawah langit malam nabila duduk sambil berayun, dia menatap langit tanpa bintang tetesan air mengalir di pipinya. Hujan turun begitu saja membasahi tubuh nabila yang tetap diam dibawah air hujan, dia mencampur air mata dengan derasnya hujan menangis tersendu sendirian.


Kenangan kelam masih terus menghantui pikiran nabila sosok ibu yang selalu dia rindukan, setiap kata yang pernah dia ucapkan masih terdengar di telinganya. Dia tahu bahwa semua perkataan orang itu tidak benar, nabila nyakin bahwa ibu kandung nya masih menyayangi dirinya.


Namun dia tidak tau keberadaan ibunya sekarang apakah dia masih hidup atau sudah tiada, "Apakah benar ibu memang membuangku" ujar Nabila


Hujan itu berhenti disekitar nabila sebuah payung melindunginya, menatap keatas terlihat pria berdiri dihadapannya penuh dengan rasa perhatian untuk nabila. Mata mereka saling bertemu keduanya menunjukkan rasa tersendiri.


"Sedang apa lo disini, ada syuting yah pake duduk ditengah hujan" Ujar Jun


Dia membalikkan pandangannya ketempat lain mengabaikan pertanyaan yang telah di lontarkan, Jun tetap diam menatap nabila ditengah hujan yang semakin deras.


"Untuk apa kamu disini, biarkan aku sendiri"


Nabila menyuruh jun pergi tapi sekarang dia yang malah terdiam mengabaikan perkataan nabila, melihat jun tidak juga pergi membuat nya kesal. "kamu, bisa tidak berhenti mengganggu ku. sekarang aku sedang tidak ingin meladeni omong kosong mu itu"

__ADS_1


Jun yang melihat linangan air di mata nabila seakan tau bahwa dirinya memang tidak bercanda, Jun dengan cepat membawa Nabila ketempat teduh disana dia menyuruh nya duduk.


Memberikan mantel milik nya pada nabila, tapi nabila menolak namun jun memaksanya. baju Nabila basah kuyup akibat hujan, tubuhnya dingin hingga membuat wajahnya pucat.


"lo itu sedang apa hujan hujanan ditengah malam kaya gini, sedang akrobat"


"bukan urusan kamu, lagian kenapa kamu bisa ada disini" ujar Nabila


"gue baru pulang dari apartemen nya jessy, yang harusnya gue tanya itu lo kenapa ada disini bukan nya rumah lo arah Gangnam"


"kamu gak perlu tau"


"Yaudah lo gak usah ngomel kalau gue bantu" jun memegang tangan nabila yang sudah dingin seperti es, dia menggosok kedua tangan nabila meniupkan hembusan nafas dari mulutnya.


Nabila hanya diam melihat perlakuan jun yang berbeda dari biasanya, jun mengkhawatirkan keadaan Nabila. hal itu bisa Nabila rasakan dari setiap tindakannya, jun terus mencoba menghangatkan tubuh Nabila yang masih dingin.


"Kalau aku mati kedinginan apakah itu lebih baik menurut mu" dengan sepontan Nabila menanyakan pertanyaan itu pada jun


"apa maksud nya, lo ingin mati.. kenapa, apa yang membuat lo berpikir seperti itu"


"Enggak aku hanya bertanya, mungkin itu lebih baik dari pada hidup penuh dengan ketakutan" nabila tersenyum di akhir kalimat nya, air matanya menetes menyentuh tangan jun.


Jun menatap mata nabila dia tidak bisa membaca apapun tapi dia tau bahwa pemilik mata itu hatinya sedang terluka, tanpa sadar jun memeluk nabila dia ingin merasakan apa yang sedang dia butuhkan.


"kenapa kau memeluk ku, jika seseorang melihat kita seperti ini nanti akan ada kesalah pahaman"


"enggak sebentar, sebentar saja lo bisa bersandar ke gue, keluar kan semua air mata yang lo tahan"


"Jun, aku tidak apa-apa beneran" melepaskan pelukan jun, Nabila berdiri lalu merubah topik pembicaraan "hujannya berhenti, sepertinya aku harus pulang. terimakasih mantelnya" mengembalikan mantel itu pada jun


Nabila terdiam sebentar dia mencoba menahan air matanya, tidak ingin menjadi kecurigaan Nabila pergi tanpa melihat kembali. jun merasa ada hal yang tidak seharusnya dia lihat, Nabila yang selalu tersenyum sekarang menjadi orang asing yang penuh penderitaan.


Menaiki anak tangga di setiap langkahnya nabila berlari keatas menuju apartemen miliknya, dia tidak menggunakan Evalator karena mungkin itu bisa membuat perhatian penghuni gedung.


Dia terus berlari hingga tidak sengaja tubuhnya menghantam seseorang dihadapan nya, "aduh sorry" Nabila membukuk meminta maaf


"Elo lagi"


Merlihat Se-Hun berdiri dihadapan nya nabila terkejut dia membalikkan badan mengusap semua air mata di wajahnya, "heh lo ngapain disini" tanya Se-Hun


nabila masih membelakangi nya membereskan wajah yang kacau karena tangisan nya, Se-Hun membalikkan badan nabila dia melihat nya dengan tatapan penuh penasaran.


"Elo nangis"


"apa si enggak aku cuman kehujanan, sudah yah aku tidak ada urusan dengan kamu permisi"


"ets tunggu, liat ni baju gue basah karena lo"


"so.. sorry, lagian salah sendiri kenapa tidak menghindar"


"lo yang lari gak liat jalan, pake nyalahin orang lagi. gak bisa bersihkan dulu baju gue baru pergi"


"aih.. kamu tidak lihat baju aku sudah basah begini, ha.. ha.. haachi..haachi.."

__ADS_1


Nabila terkena flu dia terus bersin dihadapan se-Hun, melihat flu nya tidak berhenti se-Hun menyuruh Nabila pergi dari hadapannya. "udah sana pergi" dia langsung lari meninggal se-Hun.


__ADS_2