
"Mbok, pakaian yang semalam Silvi taruh di atas meja belajar kemana, ya?" Tanya Silvi.
"Sudah Mbok masukan ke dalam tas, non" Jelas Mbok Mirna sambil merapikan ranjang tidur Silvi.
"Kan belum Silvi setrika, Mbok"
"Tenang aja, Non. Sudah Mbok setrika"
"Oh ya, Mbok. Silvi mau nanya sesuatu?"
"Mau nanya apa, Non?"
"Sebenarnya Orang tua Silvi siapa sih, Mbok?" Silvi tiba-tiba menanyakan perihal tentang kedua orang tuanya. Karena, sejak kecil Silvi memang sudah di asuh oleh Mbok Mirna.
Mendengar pertanyaan Silvi, Mbok Mirna agak sedikit terkejut. Karena, baru pertama kali ini Silvi menanyakan perihal tentang kedua orang tuanya. Namun, sebelum Mbok Mirna menjawab, Silvi kembali lagi bertanya.
"Mbok kan dulu pernah cerita, Silvi di titipkan ke Mbok waktu Silvi masih kecil. Memangnya Orang tua Silvi pergi kemana, Mbok?"
"Mbok juga kurang tahu, Non"
"Jadi Mbok benar-benar gak tahu keberadaan orang tua Silvi dimana?"
"Iya, Non. Insyallah, suatu saat nanti kedua orang tua non Silvi pasti balik kok" ujar Mbok Mirna menenangkan hatinya Silvi.
"Semoga aja, Mbok. Tapi tanpa mereka juga, Silvi udah bahagia kok. Kan, Silvi udah punya Mbok" ujar Silvi yang langsung memeluk Mbok Mirna.
"Oh ya, memangnya non Silvi mau kemana? tumben, biasanya hari libur di rumah aja" Tanya Mbok Mirna.
"Silvi seminggu lagi mau KKN, Mbok. sekarang Silvi mau observasi dulu ke tempat Silvi nanti KKN. Semacam survei lokasi, Mbok"
"Memang mau KKN di mana, Non?"
"Dusun Rahayu, Mbok!"
Mendengar penjelasan Silvi, Mbok Mirna agak sedikit kaget. Seperti ada sesuatu hal yang di sembunyikan oleh Mbok Mirna tentang Dusun Rahayu.
"Maksud Non Silvi, Dusun Rahayu yang ada di kaki gunung kembar?"
"Iya Mbok, Memang kenapa, Mbok?"
__ADS_1
"Oh gak apa-apa, Non. Yang penting selama di perjalanan, Non Silvi jangan lupa berdoa dan minta keselamatan sama yang di atas. Soalnya Dusun itu ada di kaki gunung" Jelas Mbok Mirna.
"Iya Mbok, itu pasti!"
Selang berapa menit, datang sebuah mobil kijang Inova hitam dan berhenti tepat di depan rumah Silvi. Sambil membunyikan klakson, seorang pria langsung menyapanya dari dalam mobil itu.
"Gimana, Sil. Udah siap belum?"
"Gue kira siapa, bentar ya Den, masih ada beberapa barang yang belum gue siapin"
Denis keluar dari dalam mobil dan bersandar tepat di depan mobil, sambil menghisap rokok, Denis seperti memikirkan sesuatu, tiba-tiba dia pun di kejutkan oleh seseorang.
"Jangan bengong" Ujar Silvi sambil menepuk pundak Denis.
"***** loe, bikin gue jantungan aja." Sahut Denis.
"Lagian, masih pagi udah bengong aja, mikirin apa sih, pasti lagi mikirin gue" Ujar Silvi.
"Gue lagi mikirin Dusun Rahayu, Sil. Katanya di sana ada urban legend nya"
"Urban legend? urban legend apaan, Den" Tanya Silvi penasaran.
Di dalam perjalan, Denis seperti masih memikirkan sesuatu tentang Dusun Rahayu. Hingga sampai di persimpangan jalan. Denis tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang sudah berwarna merah. Denis seketika langsung mengerem mendadak, Hingga sampai menabrak pengendara sepeda motor yang tepat berada di depannya. Pengendara sepeda motor itu langsung turun menghampiri Denis dengan wajah geram.
"Woy, buka!" Ucap pengendara sepeda motor sambil menggebrak kap depan mobil. Denis pun segera turun dari dalam mobil.
"Kalau jalan pakai mata dong, loe gak lihat kalau lampu sudah warna merah" Ucap pengendara sepeda motor marah.
"Maaf pak, saya salah. Saya lagi kurang konsen"
"Lihat tuh, gara-gara ulah loe, spakbor motor belakang gua patah"
"Maaf pak, Maaf" Ujar Denis hanya bisa meminta maaf dan pengendara lain yang sedang berhenti di lampu merah hanya bisa menonton mereka berdua.
Lampu lalu lintas sudah berwarna hijau, pemotor itu pun masih marah-marah. Klakson dari pengendara lain yang sudah mengantri untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya memaksa pengendara motor itu meninggalkan Denis. Denis segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalannya.
"Lagian, loe bawa mobil sambil melamun, memang apa sih yang loe, pikirin" Tanya Silvi
"Biasa lah, gue kan kaum rebahan, jadi banyak yang gue pikirin."
__ADS_1
Sesampainya Denis dan Silvi di rumah Mocil. Mereka berdua pun di persilahkan masuk. Dan ternyata di sana sudah ada David yang sedang asyik bermain Mobil legend di ruang tamu.
"Tumben loe disini, Vid" Tanya Silvi.
"Tiap Minggu kan gue kesini terus, biasa mabar"
"Loe kenapa Den, lesu gitu?" Tanya Mocil heran.
"Tadi gue nabrak belakang pesepeda motor di lampu merah, habis gue di maki-maki" keluh Denis.
"Hahaha, rejeki namanya Den" Ujar David tertawa lebar.
"***** loe, semalam gue mimpi nabrak kucing, gue jadi apes"
"Lah, mimpi di salahin. Kayaknya loe butuh minum air yang banyak, Den. Saran gue mending sekarang loe minum dua galon, deh"
"Loe kira gue onta!"
"Yaudah tunggu aja dulu, gue mau ngambil air minum" Ujar Mocil, Selang beberapa menit, Mocil menghampiri mereka bertiga sambil membawa minuman dingin.
"Minum dulu, nih" Ujar Mocil.
Silvi langsung duduk di sofa sedangkan Denis langsung mengambil minuman yang sudah di sediakan Mocil.
"Oh ya, Kita jadi kan Survey ke dusun Rahayu-nya buat KKN nanti?" Tanya Mocil.
"Jadi, Cil. Mangkanya sekarang gue kesini mau ngajak loe buat survey ke dusun Rahayu"
"Pantes kalian kesini, katanya surveynya lusa?"
"Kalau lusa gue gak bisa. Lagi pula gue udah janji sama tetua di sana, kalau hari ini mau ke Dusun Rahayu" Ujar Denis.
"Tetua, Den? maksudnya?" Tanya Silvi.
"Kepala dusun, Sil. Kalau gak salah namanya pak Sugeng, kira-kira umurnya 40an"
"Tua juga ya kepala dusun Rahayu"Ujar Mocil.
"Yaudah, kita berangkat sekarang aja, kalau berangkat sore, nanti yang ada baliknya kemalaman. Oh ya, Cil. Kata Denis emang di sana ada Urban legend ya?"
__ADS_1
"Gak ada Sil, setau gue urban legend itu ada di kaki gunung kembar bukan di dusunnya. Di kaki gunung kembar ada yang namanya hutan terlarang. Infonya tiap tahun ada aja warga dusun yang hilang di hutan itu. Yang gue tahu itu aja sih" jelas Mocil.