
Sore itu, Silvi baru saja pulang dari kampus. Pikiran dan tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah. Sesampainya di dalam rumah, Silvi langsung rebahan di atas sofa.
"Kenapa, Non? Kayaknya lagi banyak pikiran?" tanya Mbok Mirna.
"Iya, Mbok. KKN di dusun Rahayu dibatalkan," jawab Silvi.
"Loh, kok dibatalkan, Non? Ada apa?" tanya Mbok Mirna.
"Gak tahu, Mbok. Mana kegiatan untuk KKN hampir selesai," jawab Silvi.
"Terus, gimana sekarang?" tanya Mbok Mirna.
"Jadi, Mbok. Cuma ganti lokasi aja ke dusun Muara," jawab Silvi.
"Yaudah, kalau gitu nanti Mbok kabarin saudara Mbok yang tinggal di sana," usul Mbok Mirna.
"Kabarin dari sekarang, Mbok. Besok Silvi sama teman-teman mau ke Dusun Muara," ujar Silvi dan langsung bergegas menuju kamarnya.
Malam itu pukul 9 malam. Silvi sedang berada di dalam kamar, karena merasa haus, ia pun memutuskan untuk ke dapur untuk mengambil air minum. Namun sebelum sampai di dapur, ia melihat Mbok Mirna di ruang tamu sedang menelepon seseorang dengan wajah serius.
"Mbok nelepon siapa ya, malam-malam?" tanya hati Silvi. Silvi diam-diam menghampiri Mbok Mirna. Dari percakapan sekilas yang di dengar, sebelum menutup telepon, ia mendengar Mbok Mirna menyebut nama Bu Sri.
"Siapa yang nelepon, Mbok?" tanya Silvi. Mbok Mirna agak sedikit terkejut dengan kehadiran Silvi.
"Non, ngagetin aja. Barusan Mbok nelepon saudara Mbok yang tinggal di dusun Muara," jawab Mbok Mirna sebelum meninggalkan Silvi. Minggu-minggu ini, Silvi merasa ada yang aneh dengan Mbok Mirna.
"Mbok kenapa ya?" tanya hati Silvi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Silvi, Denis, David dan Mocil memutuskan untuk mengunjungi dusun Muara. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana karena dusun Muara letaknya masih dekat dengan pinggiran kota. Kendaraan yang mereka gunakan masih bisa masuk ke dalam dusun itu. Tidak seperti dusun Rahayu, mereka harus jalan kaki untuk mencapainya.
"Ini, Sil, dusun Muara?" tanya Denis.
"Iya, Den. Yuk, kita turun," ajak Silvi.
"Nah, kalau lokasinya kayak gini kan enak, udah dekat dan tempatnya juga kayaknya nyaman," ujar Mocil.
"Betul, Cil. Gak kayak di dusun Rahayu," sahut David. Mereka pun turun dari mobil. Dan saat itu salah satu warga dusun Muara menghampiri mereka berempat.
"Kamu Silvi, ya?" tanya warga dusun tersebut.
"Iya, Bu. Saya Silvi, rencana kita mau melaksanakan KKN di dusun ini," jawab Silvi.
"Iya, saya tahu. Ibu Mirna sudah memberi tahu saya," jawab warga dusun tersebut.
"Iya, saya kenal. Yaudah, kalian ikut saya, biar saya antar ke rumah kepala dusun," ajak warga dusun tersebut.
"Terimakasih, Bu. Kalau boleh tahu, nama ibu siapa?" tanya Silvi.
"Panggil aja saya Marni," jawab warga dusun tersebut.
"Makasih, Bu Marni," ucap Silvi. Mereka pun diantar ke rumah kepala dusun Muara.
Suasana dusun Muara berbeda dengan dusun Rahayu. Rumah warganya ada yang menggunakan bata dan sebagian juga masih ada yang menggunakan anyaman bambu.
Sesampai di rumah kepala dusun, mereka disambut hangat oleh kepala dusun yang berusia sekitar 50 tahun.
__ADS_1
"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih, Pak. Tujuan kedatangan kita kesini adalah untuk meminta izin melaksanakan KKN di dusun ini," ucap Silvi.
"Kamu Silvi ya?" tanya kepala dusun itu.
"Iya, Pak. Saya Silvi. Ini teman-teman saya, Denis, David, dan Mocil," jawab Silvi.
"Ternyata kamu sudah besar ya. Oh ya, saya Pak Jarwo, kepala dusun Muara. Masuk aja," ucap Pak Jarwo yang mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya.
Sesampai di dalam rumah, Silvi bertanya, "Jadi kalian membolehkan kita untuk melaksanakan KKN di dusun ini?"
"Iya, Silvi. Kalian boleh melaksanakan KKN di dusun ini kurang lebih satu bulan," jawab Denis.
"Kalau saya boleh tahu, mata pencaharian utama di dusun ini apa, Pak?" tanya Silvi.
"Rata-rata warga dusun ini bekerja sebagai petani, tapi ada juga yang merantau ke kota. Ada yang bekerja sebagai buruh pabrik dan TKI di luar negeri. Oh ya, gimana kabarnya Mbok kamu?" tanya Pak Jarwo.
"Alhamdulillah, baik pak. Oh ya, bolehkah kami melihat-lihat dusun ini?" tanya Silvi.
"Silahkan," jawab Pak Jarwo. Mereka berempat berkeliling untuk melihat kegiatan warga dusun Muara.
Seperti yang dijelaskan Pak Jarwo, mayoritas mata pencaharian warga dusun Muara adalah sebagai petani.
Di ujung jalan, mereka melihat beberapa mobil pick-up yang terparkir dan sudah dipenuhi oleh berbagai macam sayuran.
"Ini hasil panen warga dusun, Pak?" tanya Silvi.
"Iya, Sil. Tapi tidak semuanya dari dusun ini. Ada juga hasil panen dari beberapa dusun tetangga. Mereka menitipkannya di sini," jelas Pak Jarwo.
"Oh, jadi hasil panen dari dusun Rahayu di kirim ke sini, Pak?" tanya Silvi.
__ADS_1
"Iya, Sil. Karena dusun ini yang paling dekat dengan kota," jawab Pak Jarwo.