
Pukul 11.00 wib mereka memutuskan untuk berangkat ke Dusun Rahayu. Di dalam perjalan, mereka sama sekali tidak mengetahui kondisi pasti Dusun Rahayu itu seperti apa.
Sudah hampir 2 jam mereka melakukan perjalanan, namun belum ada tanda-tanda mereka akan sampai di Dusun Rahayu.
David yang sudah lelah bermain mobile legend mulai merasa jenuh. Karena, sudah lebih dari 2 jam mereka belum sampai juga di Dusun Rahayu.
"Perjalanannya masih lama, Den?" Tanya David mengeluh.
"Masih, Vid. kurang lebih 30 menitan lagi baru sampai" jelas David.
"Sabar, Vid. Mending loe tidur aja kayak si Mocil. Baru aja 5 menit di jalan langsung tidur"
"Diamah *****, Sil. Nempel molor" Jelas David. Denis memelankan kendaraannya.
"Kenapa ya, tumben macet, gak kayak biasanya?" Keluh Denis.
"Iya, ya. Padahal kan di depan gak ada pertigaan atau pun petunjuk lampu lalu lintas"
"Mungkin ada Razia kendaraan kali, Sil. jadi macet" papar David.
Setelah maju perlahan demi perlahan, akhirnya mereka terbebas juga dari kondisi jalan yang macet. Mungkin sudah 1 jam mereka terjebak di dalam kemacetan.
"Pantes aja macet, ternyata ada mobil terbalik." ujar Denis.
"Sial bener, cuma gara-gara mobil terbalik aja, macetnya Berjam-jam" Umpat David.
Setelah melewati kemacetan. Mereka mulai memasuki jalan menuju lokasi dusun Rahayu. Dalam perjalan mereka mulai menikmati suasana asri pemandangan pemandangan pedesaan yang jarang mereka lihat. Desa demi desa mereka lewati dan mereka pun mulai meninggalkan jalan aspal menuju jalan bebatuan.
"Jalannya jadi gak enak gini, Den?"
"Yah, namanya juga jalan pedesaan, Sil. jalan kayak gini udah gak aneh. malah lebih menantang" Jawab Denis.
Menit demi menit berlalu, jalan yang mereka lalui kini hanya bisa di lewati satu kendaraan saja. Kalau ada kendaraan lain, merekapun harus saling mengalah.
"Perasaan gue jadi gak enak ya" Keluh David.
"Sama gue juga!" Ujar Silvi.
Jalan yang terang karena sinar matahari pun mulai redup terhalang oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Sampai di suatu titik, kendaraan yang mereka kendarai sudah tidak bisa melakukan perjalan lagi. Jalan sudah sampai titik buntu.
Mereka berhenti tepat di pinggir sebuah gubuk tua dan suasana saat itu sangat sepi. Hanya terdengar suara jangkrik yang memecah keheningan.
"Vid, bangunin si Mocil, kita sudah sampai" Jelas Denis.
David segera membangunkan Mocil. Mocil yang baru bangun dari tidur nyenyak nya, sangat kaget ketika dia membuka mata, yang dia lihat di sekitarnya hanya ilalang dan pepohonan yang rimbun.
"Kita dimana, Vid?" Tanya Mocil.
"Gue juga gak tahu ada dimana" Jelas David.
"Beneran, Den. Dusun Rahayu ada disini?"
"Bener, Sil. Gue kan pernah sekali ke Dusun Rahayu. Jadi gue inget betul jalan nya. Dari sini tinggal ngikutin jalan yang kecil itu." Jelas Denis sambil mengarahkan tangan kanannya Soraya menunjukkan kalau itu jalan menuju dusun Rahayu.
"Sekarang jam berapa, Sil?" Tanya Denis. Silvi segera mengambil handphone dan melihat jam.
"Jam 16.00, Den!"
"Aduh, sore bener, gue janjiannya jam 13.00 sama pak Sugeng"
"Coba aja loe telepon pak Sugeng, Den" Papar Mocil.
"Terus gimana, kita udah jauh-jauh gini, masa gak jadi Observasinya" Keluh Silvi. Namun tiba-tiba dari arah jalan setapak itu muncul dua orang yang menghampiri mereka.
"Kalian sudah sampai?" Tanya seseorang. Menyadari siapa yang menyapa. Denis merasa lega.
"Iya, pak Alhamdulillah." mereka pun bersalaman dengan Pak Sugeng.
"Siapa, Den?" tanya Silvi.
"Dia pak Sugeng, Sil. Kepala Dusun Rahayu" bisik Denis.
"Maaf pak, kami datangnya gak sesuai janji. Kami terjebak macet"
"Gak apa-apa kok. Kebetulan saya juga baru datang, yasudah langsung aja kita jalan, takutnya nanti kemalaman"
"Lantas, mobil saya bagai mana pak?"
__ADS_1
"Tenang aja, saya sudah Bawak Pak Siman buat jagain mobil kalian"
Sore itu mereka berempat bergegas pergi menuju Dusun Rahayu, meninggalkan Pak Siman seorang diri di gubuk tua untuk menjaga kendaraan milik Denis.
Dalam perjalanan mereka hanya bisa berjalan seperti seorang pendaki. Jalan yang mereka lalui satu jalur, kecil dan juga tidak lebar. Kanan kiri mereka juga tumbuh ilalang liar yang sudah mulai meninggi. Pak Sugeng berada paling depan, di belakangnya Silvi, Denis, David dan paling akhir Mocil.
"Bener, Den. Jalannya lewat sini"? ujar Silvi pelan.
"Iya, Sil!" Mocil yang berjalan paling belakang terus menggenggam erat tangan David.
"Loe kenapa, Sih. Cil"?
"Gue takut, malah paling belakang!"
"Tenang aja, setan gak akan berani culik loe, yang ada setan' takut sama loe" Ujar David.
Setelah kurang lebih 30 menit mereka berjalan, langkah kaki pak Sugeng terhenti dan menjelaskan sesuatu hal kepada mereka.
"Yang di kanan kalian ini pemakaman Umum Dusun kami. Jadi, kalau ada warga dusun yang meninggal, mereka di memakamkannya disini. Dan kalau kalian lewat sini, kalian harus sopan. Jangan berkata kotor dan kalian juga harus ingat, di depan kita sekarang jalan sudah bercabang, ingat pesan Bapak baik baik. Jangan pernah kalian ambil Jalur kanan!"
"Memang kenapa, Pak?" Tanya Silvi.
"Di sana itu hutan terlarang!"
"Memangnya kenapa hutan itu terlarang, Pak?"
"Yaudah, Sil. Kita harus menghormati yang ada disini. Termasuk apa yang di katakan Pak Sugeng" Jelas Denis.
"Kalau kalian ingin bersua foto atau mandi, di jalur kiri ini mengarah ke Curug Ayu. Namun ingat, kalian juga di sana harus sopan."
"Oh, ya pak. Katanya di hutan terlarang itu ada Urban legend ya?" Tanya Silvi.
"Yah, segelintir orang ada yang bilang Urban legend atau semacamnya. Bagi saya itu semua hanya cerita dari kakek-nenek kami yang sudah lebih dulu tinggal di kali gunung kembar"
"Kalau boleh tahu, Dusun Rahayu itu pemberian dari siapa pak, atau memang sudah dari dulu bernama Dusun Rahayu?"
"Dusun Rahayu itu peninggalan seseorang"
"Peninggalan siapa pak?"
__ADS_1
"Nanti saja bapak ceritakan!" tegas Pak Sugeng. mereka pun melanjutkan perjalannya menuju dusun Rahayu.
.