
Siang itu David mengantarkan Silvi menuju kediamannya Bu Sri.
Sesampai di kediaman Bu Sri.
"Permisi!" Ujar Silvi sambil mengetuk pintu. Tak lama seseorang membukakan pintu dari dalam rumah.
"Ibu kira siapa, silahkan masuk" ujar Bu Sri mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Sesampai nya di ruang tamu.
"Silahkan duduk" ujar Bu Sri.
"Terimakasih, Bu. Kedatangan saya ke sini, saya mau menanyakan perihal yang waktu itu"
"Perihal apa, Sil?" Tanya Bu Sri. Lalu Silvi mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Yang tidak lain proposal KKN yang waktu lalu dia temukan di perpustakaan itu. Bu Sri menghelakan nafas.
"Ibu benar pernah melaksanakan KKN di desa Lengger?"
"Iya, Sil. Ibu memang pernah melaksanakan KKn di desa Lengger. Dan itu KKN terakhir kalinya yang di adakan oleh kampus kita ?"
"Kenapa bisa, Bu?" Tanya Silvi. Dengan raut sedih Bu Sri akhirnya memberi tahu tentang dusun Lengger.
"Waktu itu ibu melaksanakan KKN di desa Lengger dengan kelima teman, Ibu"
"Lantas kenapa itu jadi KKN terkahir dari kampus kita, Bu?"
"Semua gara-gara teman ibu yang bernama Rio. Dia telah melakukan kesalahan besar"
"Maksud ibu, kesalahan yang seperti apa?"
"Suatu malam, teman ibu yang bernama Rio itu ketahuan sedang melakukan hubungan badan dengan anak kepala dusun, yang akhirnya membuat warga dusun Lengger menjadi murka, kesal dan marah. Mereka berdua pun di hukum secara hukum adat. Setelah kejadian itu, ibu dan teman-teman ibu di usir dan di larang kembali lagi ke dusun lengger. Sedangkan teman ibu mendapatkan hukuman di suruh menetap di dusun lengger. Setahun setelah ibu meninggalkan dusun Lengger. Ibu memutuskan untuk kembali lagi ke Dusun Lengger untuk melihat kondisi teman ibu. Tapi, dusun itu sangat memperhatikan. Aliran kali yang dulu kaya akan mata air kini menjadi kering, bahkan banyak para petani yang gagal panen yang di sebabkan oleh hama mau pun kekeringan"
"Apa mungkin itu akibat ulah teman ibu?"
"Mungkin itu hanya hukum alam saja"
"Lantas, teman ibu yang bernama Rio itu?"
"Ibu kurang tahu, Sil. Ibu gak dapat informasi tentang teman ibu itu. Lagi pula saat ibu ke dusun itu, banyak rumah yang sudah kosong ditinggalkan. Mungkin mereka pindah ke dusun lain"
__ADS_1
"Pantas saja, Bu"
"Pantas kenapa, Sil?" Tanya Bu Sri.
"Waktu saya mau observasi ke dusun Rahayu. Saya salah ambil jalan dan saya tiba di sebuah dusun. Dan dusun itu tidak ada penghuninya sama sekali. Seperti dusun mati. Dan di gapura nya juga ada tulisan selamat datang di dusun Lengger"
"Sudah pasti itu memang dusun lengger"
"Lalu, ibu tahu tentang dusun Rahayu?"
"Kalau dusun Rahayu ibu kurang tahu, Sil"
"Jadi itu alasan utamanya, Bu. Kenapa KKN tidak di laksanakan lagi?"
"Iya, Sil. Bahkan pihak berwajib sudah menemui perwakilan dari dusun Lengger agar teman ibu bisa pulang. Tapi musyawarah itu menemui jalan buntu. Hukum adat di dusun Lengger tidak bisa ubah. Demi menghormati dusun Lengger, pihak kepolisian mengehentikan negosiasi dan menyuruh agar kedua orang tua teman ibu merelakan anaknya" jelas Bu Sri.
Setelah mendapat kejelasan tentang dusun Lengger, Silvi dan David pun pamit untuk pulang.
***
Sebelum sampai di kediaman Silvi. Di persimpangan gang mereka berpapasan dengan Pak Sugeng yang sedang mengendarai motor bebek.
"Perasaan loe aja, Sil" ujar David yang sedang serius mengendarai mobilnya.
"Gue serius, Vid" Silvi menoleh ke arah belakang untuk memastikannya.
"Iya kali, Vid. perasaan gue aja kayaknya"
***
Sesampainya di kediaman Silvi.
"Makasih ya, udah mau nganterin gue"
"Iya, Sil. Sama-sama" David pun pamit pergi. Silvi bergegas masuk ke dalam rumah. Namun,
Sesampai di dalam rumah, dia merasa heran, karena di ruang tamu ada secangkir kopi yang sudah hampir habis.
"Mbok, tadi ada tamu?" Tanya Silvi.
__ADS_1
"Iya, Non. Tadi Pak RT mampir kerumah" ujar Mbok Mirna yang langsung merapikannya.
"Tumben Pak RT kerumah?" Tanya hati Silvi.
***
Malam itu Silvi sedang rebah-rebahan di atas ranjang tidurnya. Dia masih memikirkan siapa yang sebenarnya habis bertamu. Pak RT atau Pak Sugeng yang sempat dia lihat.
"Non, waktu nya makan malam" panggil Mbok Mirna. Silvi pun bergegas menuju dapur.
"Masak apa, Mbok?" Tanya Silvi.
"Biasa, non. Sayur bayam"
"Si Mbok tahu aja kesukaan Silvi"
"Oh ya, Mbok. Tadi sebelum Silvi sampai ke rumah. Kayak ngelihat Pak Sugeng, deh" ujar Silvi sambil menyendok nasi.
"Pak, Sugeng siapa, Non?" Tanya Mbok Mirna.
"Pak Sugeng itu kepala dusun Rahayu Mbok. Tempat nanti Silvi KKN!"
"Memangnya Non Silvi jadi KKN di dusun rahayu"
"Jadi, Mbok. Oh ya, Mbok tahu gak tenang dusun Lengger?"
"Sedikit, Non"
"Bu Sri kepala perpustakaan kampus Silvi kan pernah KKN Mbok di dusun Lengger. Bus Sri cerita" jelas Silvi.
"Bu Sri cerita apa aja?" Mbok Mirna langsung bertanya dengan wajah serius.
"Bu Sri cerita, kalau teman KKN nya itu ga bisa pulang, Mbok. Dia di hukum adat, gara-gara melakukan hubungan badan sama anak kepala dusun Lengger"
"Terus, apa lagi?"
"Cuma cerita gitu aja, Mbok" mendengar penjelasan Silvi Mbok Mirna pun menyudahi makan malam nya.
"Mbok tinggal dulu ya, Non. Mbok mau
__ADS_1
setrika baju" Tanpa rasa curiga Silvi melanjutkan makan malamnya.