
Dalam perjalanan pulang. Silvi, masih memikirkan Dusun Rahayu. Dia merasa dusun Rahayu tidak seperti dusun yang dia ketahui.
"Loe kenapa, Sil?" Tanya Denis.
"Loe gak ngerasa ada yang aneh sewaktu kita ada di dusun rahayu"
"Memang kenapa, Sil?"
"Di setiap rumah warga yang kita lewati. Di samping pintu rumahnya ada sesajen"
"Iya juga, ya. Di rumah Pak Sugeng juga ada Sesajen Kemenyan."
"Kenapa, ya?" tanya Silvi.
"Entahlah, mungkin penduduk dusun Rahayu masih menghormati adat leluhur, Sil. Nanti kita tanya aja ke Pak Sugeng."
"Oh ya, Cil. Sewaktu loe ke kamar mandi, suasana malam belakang dusun itu gimana?" Tanya Silvi sambil menoleh ke arah Mocil. Namun, saat itu Mocil sudah tertidur pulas.
"Parah, nih anak. Benar-benar. *****, nempel molor!" Ujar Silvi.
"Kan, tadi udah gue bilang. Oh ya, Sil. Gue masih penasaran. Kenapa, ya. Pak Sugeng ngelarang kita ke hutan terlarang itu"
"Mungkin ada sangkut pautnya sama urban legend di sana"
"Loe memang gak tahu, Den?"
"Lah, mana gue tahu. Memangnya gue penduduk dusun itu!" Ujar Denis.
"Yah, kali loe tahu. Kan loe bilang pernah ke dusun itu."
"Yang di bilang Pak Sugeng ke gue sama aja, Sil. Ngelarang gitu. Intinya gak ngejelasin alasannya apa"
"Oh ya, Den. Loe kok, Bisa nemuin tuh dusun Rahayu?"
"Waktu itu gue nolongin pak Sugeng. Dia kecopetan. Jadi dia gue antar balik kerumahnya. Lokasinya itu dusun Rahayu"
__ADS_1
"Oh, pantes aja. Biasanya dusun di kaki gunung itu, gak sembarangan orang bisa masuk ke dusun mereka." ujar Silvi.
Keesokan harinya.
Pagi itu Silvi sedang duduk Santai memainkan laptop miliknya di ruang tamu . Mbok Mirna pun menghampirinya.
"Diminum dulu, Non. Mumpung masih hangat" ucap Mbok Mirna sambil menaruh segelas teh hangat di atas meja tepat di sampingnya laptop.
"Makasih ya, Mbok"
"Gimana, Non. Kemarin survey lokasi di dusun Rahayu?" Tanya Mbok Mirna.
"Alhamdulillah, Mbok. Lancar"
"Syukur atuh, Non" Mbok Mirna pun langsung meninggalkannya menuju dapur.
Namun, sebelum Mbok Mirna benar-benar Sampai di dalam dapur, Silvi pun memanggilnya.
"Oh ya, Mbok. Mbok tahu gak hutan terlarang dekat dusun Rahayu?"
"Mbok kurang tahu, Non"
"Mungkin hutan keramat kali, Non" Jawab Mbok Mirna.
Silvi mulai mencari tahu tentang Dusun Rahayu di pencarian elektronik. Namun hasilnya tidak di temukan informasi tentang dusun Rahayu.
Silvi mencoba mengetikan kembali kata kunci yang berbeda"Dusun kaki gunung Kembar"
"Kok, aneh ya. Dusun Rahayu kok gak ada?" Tanya hati Silvi.
"Apa jangan-jangan dusun Rahayu itu dusun dari dunia lain. Tapi, itu gak mungkin" tanya hati Silvi kembali.
Silvi terus mencari informasi tentang Dusun Rahayu yang seminggu lagi akan dia tinggali untuk melaksanakan KKN.
Dalam pencarian dusun Rahayu, Silvi menemukan sebuah dusun yang memang menyendiri dan benar benar terletak di kaki gunung kembar.
__ADS_1
Dusun itu bukan bernama dusun Rahayu, melainkan Dusun Lengger. Jarak antara dusun Lengger dengan dusun-dusun yang berada di kaki Gung kembar, kurang lebih 6-7 jam.
Silvi pun mengingat kembali akan ucapan Pak Sugeng, kalau jarak antara dusun Rahayu dengan dusun tetangga jaraknya kurang lebih 7 jam.
"Jangan-jangan dusun Rahayu itu dusun Lengger. pantas dusun Rahayu gak ada di google " ucap hati Silvi.
"Mbok, masih di dapur?" Tanya Silvi agak mengencangkan suaranya.
"Masih, Non!" Jelas Mbok Mirna.
"Mbok, tahu gak Dusun Lengger yang ada di kaki gunung kembar?" Tanya Silvi. Namun sebelum Mbok Mirna menjawab pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh, seperti suara pecahan kaca. Mendengar suara itu, Silvi pun bergegas menuju dapur.
Dan benar saja, ternyata Mbok Mirna sedang merapihkan pecahan-pecahan gelas yang sudah berserakan di lantai dapur.
"Kenapa, Mbok?" Tanya Silvi cemas.
"Gak apa-apa Non, tadi Mbok mau minum, mbok kaget aja ada kecoa terbang di hadapan, Mbok" jawab Mbok Mirna.
"Kirain kenapa Mbok. Yaudah, mbok. Biar Silvi aja yang ngerapihin"
"Gak usah, Non." Namun karena kurang hati-hati, tangannya Mbok Mirna terluka terkena serpihan gelas yang pecah itu.
"Tuh kan, Mbok. Yaudah biar Silvi aja" ujar Silvi yang langsung merapihkan pecahan gelas.
"Tunggu sebentar Mbok, Silvi mau nyari Betadine dulu"
"Kotak p3k nya ada di atas meja kamar, Non." ucap Mbok Mirna.
Silvi bergegas menuju kamar Mbok Mirna. Dan karena terburu-buru kotak p3k itu menyenggol Betadine yang memang berada dekat dengan kotak p3k dan masuk ke bawah ranjang tempat tidur.
Silvi meraba-raba area bawah tempat tidur dengan tangan kanannya. Namun, Betadine itu berada di luar jangkauan tangannya. Dan saat itu juga secara tidak sengaja Silvi menarik sesuatu dari bawah tempat tidur.
"Koper apa ini ya,?" Tanya Silvi penasaran. Silvi pun menaruh kembali koper itu ke tempat asalnya.
Setelah mendapatkan Betadine. Silvi bergegas menghampiri Mbok Mirna dan langsung mengobati jarinya yang terluka.
__ADS_1
"Mangkanya, Mbok. Lain kali harus hati-hati ya" ucap Silvi khawatir.
"Iya, Non!" jawab Mbok Mirna.